- Yusri - at 19/02/2008 15:56 wrote:

>Kalau kita adakan poling, pasti PRT lebih seneng dan betah kalau 
>bekerja di rumah yg majikannya bekerja.
>Dia mau "jungkir balik" saat kerja juga, gak ada yg usilin/menegur. 
>Proses dia bekerja gak ada yg menilai. Yg penting hasil akhirnya selesai.
>Malahan ada PRT yg majikannya bekerja semua, pada pagi hari sampai 
>siang dia akan ngobrol dgn PRT tetangga, satpam atau nonton TV. 
>Nah......setelah jam 2 siang, dia mulai sibuk bekerja....beberes 
>rumah dan masak.

***Hmm,... jangan begitu mbak Yusri.
Jangan berpikiran negatif seperti begitu.
Saya nggak ada bos atau tidak, tetap bekerja giat.
Bahkan istri saya bosnya di taiwan, tidak pernah ke Indonesia.
Paling cuma telpon, tapi kantornya terbaik omzetnya di Indonesia.
(entah diluar negeri apa nggak, karena juga punya kantor di luar negeri).

Sejak menikah, kita putuskan istri tetap kerja.
Selain lumayan tambahan incomenya di masa sulit ini,
sayang juga apa masa kerja dan posisinya,
juga dia lebih senang kerja.

sebelum punya anak, kita tidak pakai pembantu.
Ini selama 1,5 tahun. Kita kerjakan sendiri.
Bahkan setelah punya anak, kita masih tanpa pembantu.
Saya bantu untuk cuci-cuci termasuk popok.

Namun ketika harus pindah rumah, yang relatif jauh dari ortu,
kita pakai pembantu. Saat itu Zidan berumur 5 bulan.
Pembantu itu sampai sekarang ketika Zidan sudah duduk di kelas 1 SD.

Yang saya tahu, dia tidak seperti dituduhkan mbak Yusri.
Bangun pagi sekali untuk cuci-cuci, terus masak
dan bantu persiapannya Zidan.
Selama kita tinggal dia nggak kemana-mana.
Paling-paling nonton TV itu pun jarang.
Dia punya inisiatif tanpa harus disuruh.

Tentu saja selama itu tidak selancar itu.
Kadang ada pasang bahkan gelombang.
Tapi saya tahu Zidan sangat percaya dan sayang sama dia.
Juga sebaliknya, kasih sayangnya tulus ke dia.
Sering membelikan anak-anak kita dengan uangnya sendiri.
(tentu saja saya marahi da kita ganti).

Kita berprinsip, meski kita bekerja, pembantu hanyalah pembantu.
Tugas utama tetap pada orang tua.
Jadi kalau memungkinkan, kita yang kerjakan.
Misal sepulang di rumah, urusan anak tanggung jawab kita.
Bahkan ketika malam-malam anak nangis kiyer-kiyer.
Kita tak akan menggedor dan membangunkan pembantu.

Oh ya, saya minta masak adalah tanggung jawab istri.
Karena saya adalah suaminya istri, bukan suaminya pembantu.
Paling pembantu hanya bantu-bantu goreng tempe.

Maaf, kepanjangan ngelantur (juga mau pulang).
Intinya tidak semua PRT seperti itu.
Seperti, alhamdulillah, pembantu saya.

Note:
Selama perjalanan rumah tangga, sempat juga kita
tidak menggunakan pembantu dia.
Ya setelah gelombang yang tinggi, tapi tetap bisa tenangkan.
Dan kita ungsikan sementara ke rumah adik.
Sampai tenang lagi.
Selama itu kita pakai beberapa pembantu.


   Terima kasih
   M.Yusuf.web.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Ilmu bisa menyangga rumah yang tidak memiliki penyangga,
   sedangkan kebodohan mampu meruntuhkan rumah kemuliaan dan keluhuran.
   - [Syair] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke