Smoga Sukses nih regulasi barunya, saya senang sekali... soalnya selama ini
peraturannya ga link... di TK dilarang diajarkan CALISTUNG.. eh masuk SD
harus bisa CALISTUNG.. pake dites pula...
Sebagian TK mencoba menjembatani dengan LES CALISTUNG (tidak masuk kurikulum
di kelas), sebagian lagi dengan bangganya berpromosi "disini TK A sudah bisa
baca loh".... saya sampai bingung mo daftarin anak sekolah TK dimana.... :-/

2008/7/8 Febbie <[EMAIL PROTECTED]>:

>      Setuju atau tidak pd artikel dibawah ini terserah Anda.
> Ttp saya sendiri setuju sih, perasaan saya dulu juga masih maen2 di TK,
> di SD.. nah baru baca tulis dan hitung... buktinya baek2 aja ^_^
>
> Sejujurnya aku juga kasian liat anak2 sekarang, kecil2 dah pada stress..
> hehehe....
>
> ===========================================================
> *Anak TK Belajar Huruf & Angka, Penganiayaan Terselubung*
>
> *Pdpersi, Jakarta* - Sebagian Taman Kanak-Kanak telah mengajarkan baca,
> tulis dan hitung (calistung). Selain melanggar ketentuan, hal itu juga
> dikhawatirkan akan berpengaruh negatif pada perkembangan jiwa anak bahkan
> termasuk dalam tindak penganiayaan (abuse).
>
> Demikian diungkapkan Ketua Komisi Nasional (Komnas) Anak Seto Mulyadi di
> Jakarta, kemarin.
>
> Seto mengungkapkan, berdasarkan UU Sistem Pendidikan Nasional (Sidiknas) No
> 20 tahun 2003, TK masuk dalam sistem pendidikan anak usia dini (PAUD) dengan
> titik berat pembelajaran moral, nilai agama, sosial, emosional dan
> kemandirian. Semua nilai-nilai tersebut ditanamkan melalui metode
> pembiasaan.
>
> UU tersebut, kata Seto, sama sekali tidak menyebutkan TK sebagai sarana
> persiapan bagi anak sebelum memasuki SD. Begitu pula dengan pembelajaran
> huruf dan angka, jelas-jelas tidak masuk dalam kurikulum TK. Sehingga,
> pendidikan calistung dapat dikategorikan sebagai pelanggaran terhadap
> aturan.
>
> Namun, lanjut Seto, pada prakteknya, pelanggaran itu terjadi di sebagian
> besar TK. Hal itu ditenggarai terkait dengan tuntutan mayoritas SD yang
> mengharuskan calon siswanya telah menguasai calistung.
>
> "Orang tua kemudian balik menuntut pengelola TK. Mereka ingin anaknya
> dipersiapkan seoptimal mungkin agar tidak terhambat masuk SD. Inilah
> lingkaran kekeliruan yang pada akhirnya menjadikan anak sebagai korban.
> Akhirnya TK bukan menjadi sarana belajar sambil bermain, tapi belajar sambil
> menangis," kata Seto yang juga anggota Badan Standardisasi Nasional
> Pendidikan (BSNP).
>
> Padahal, kata Seto, secara ilmiah anak-anak dibawah usia sekolah belum siap
> diajarkan calistung. Anak-anak TK tidak boleh dibebani target, melainkan
> diberi kesempatan bermain sepuas-puasnya. Sementara, pembelajaran tentang
> nilai-nilai kehidupan diberikan dengan metode tematik yang mudah difahami.
>
> Seto menegaskan, sebagai upaya mengembalikan hak-hak anak yang dianggap
> kini terampas oleh sistem pendidikan yang salah, pada 2006 mendatang BSNP
> akan mengeluarkan regulasi yang merombak sistem pendidikan kelas satu hingga
> tiga SD. Aturan itu akan merubah sistem pembelajaran berpola tematik,
> seperti yang diterapkan pada murid TK. Pembahasan pelajaran akan
> disederhanakan, disesuaikan sengan usia anak yang masih belia.
>
> Aturan tersebut, kata Seto, kini tengah digodok BSNP dan rencananya tahun
> depan akan mulai disosialisasikan. Keputusan untuk merombak aturan tersebut
> didasarkan atas evaluasi BSNP pada muatan kurikulum yang saat ini berlaku.
> Kurikulum saat ini dinilai terlalu berat, disertai target dan materi yang
> tidak sesuai dengan usia anak.
>
> "Sekarang ini sekolah menjadi kewajiban yang membebani anak. Padahal,
> sekolah dan belajar itu hak anak. Itu yang kerap kita lupakan," ujar Seto.
>
> Berdasarkan pengamatan Media di sejumlah TK, selain diajarkan bernyanyi dan
> keterampilan unuk melatih motorik, setiap harinya murid-murid TK juga
> mendapat pendidikan mengenal huruf-huruf alfabet serta angka. Bahkan,
> anak-anak yang masih berusia empat sampai lima tahun itu juga diharuskan
> berlatih menuliskannya dalam buku tulis seperti halnya murid SD.
>
> Di TK Kartika Bojong Gede Kabupaten Bogor, seluruh muridnya telah terbiasa
> membawa buku tulis setiap paginya. Selama tiga jam bersekolah di TK, dari
> pukul tujuh hingga sepuluh pagi, mereka berlatih menulis dan membaca hingga
> merangkainya dalam kata. Begitu pula dengan angka, selain menuliskannya,
> mereka juga dilatih pertambahan dan pengurangan sederhana.
>
> " Alma sudah bisa baca sedikit-sedikit, diajar mama, tapi di sekolah juga
> belajar," kata Alma , seorang murid.
>
> Nani, orang tua Alma mengaku terkadang merasa kasihan pada anaknya karena
> kerap harus bersusah payah menghapal dan menulis. Padahal, memegang pinsil
> saja, merupakan pekerjaan berat bagi anaknya yang belum genap lima tahun.
> Kendati begitu, Nani mengaku tak berani menyatakan keberatannya pada pihak
> sekolah.
>
> "Kalau dia tidak bisa baca tulis, ya susah masuk SD. Semua SD yang ada di
> sekitar sini memberi tes baca tulis pada setiap anak yang mendaftar. Ada
> juga yang tidak, tapi SD-nya kurang bagus," kata Nani. Seorang guru yang
> mengajar di sebuah TK di Bandung mengaku dirinya kerap harus mengelus dada
> melihat perjuangan yang harus dilalui anak didiknya saat diajari calistung.
> Padahal, untuk memusatkan perhatian saja, murid-muridnya masih kesulitan.
>
> "Mereka masih sulit berkonsentrasi. Keinginan bermain jauh lebih besar.
> Saya sendiri tak tega, tapi ini sudah ketentuan sekolah. Padahal, dulu tidak
> begini, murid saya yang saya ajar sepuluh tahun lalu tidak belajar calistung
> tapi sekarang sudah jadi orang semua," kata guru yang enggan disebut namanya
> tersebut. (iis
>    [image: FREE Emoticons for your email - By IncrediMail! Click 
> Here!]<http://www.incredimail.com/index.asp?id=99431>
> 
>



-- 
Rgrds
Tuti Amalia
http://toetiya.multiply.com

<<imstp_chubbi_by_im_en.gif>>

Kirim email ke