maaf OOT

menurutku (CMIIW) Baby Sitter dan Pembantu jelas berbeda ... dari segi
pendidikan saja berbeda ... Baby Sitter rata2 mereka lulusan SMP / SMA
plus sekolah lagi untuk kejuruan & praktek di RS ... kalo pembantu
rata2 lulusan SD ... dari latar belakang pendidikannya aza beda 

berdasarkan pengalaman ... kalau kita mengambil dari yayasan yang
memang performance-nya bagus itu juga pengaruh ke BS & PRT yang mereka
salurkan ... juga kita tidak ketakutan untuk dia melarikan diri ... 

perlu juga berdoa saat kita mengambil BS & PRT di Yayasan agar yang
kita pilih sesuai / cocok ... cara memperlakukan kita terhadap BS &
PRT juga perlu diperhatikan ... contoh : seperti hak mereka cuti dalam
sebulan 2 hari yang merupakan kewajiban kita untuk memenuhinya itu
perlu ... untuk kebutuhan "pribadi" menurutku itu juga perlu kita
perhatikan seperti : sabun, pembalut, odol, etc
jam kerja juga sangat penting untuk diperhatikan & dicermati 
   
mudah2an bisa membantu ... maaf bila ada kata2 kurang berkenan

Flora Kilapong (Mommynya Zefanya 2 thn)
yang sampai saat ini masih sangat puas menggunakan BS dari Yayasan
Pelita Kasih Utama juga PRT dari Yayasan Ibu Rose 


--- In [email protected], Jane Prisca <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Setuju..................................--- On Thu, 10/9/08, riena
rachma <[EMAIL PROTECTED]> wrote:From: riena rachma <[EMAIL PROTECTED]>Subject:
Re: [parentsguide] Maaf tentang PRT/BSTo: [EMAIL PROTECTED]: Thursday,
October 9, 2008, 2:49 AMWah rame ya pembahasan masalah PRT dan
BS...Saya mo ikutan sharing juga ya....Pak Yusuf mungkin beruntung
mendapatkan pembantu yang awet sampai 8 tahun. Yang lain malah ada
yang 14 tahun, dan ada yang sudah ikut sejak orang tua masih muda.
Wow! Andai saya yang dapat pembantu yang seperti itu pasti bersyukur
sekali Terus terang saya dan keluarga saya (kakak, Ibu, orang tua)
dulu kalau melihat ada keluarga yang  gonta-ganti  pembantu kita
sampai berkomentar, "Ya ampun. ..diapain aja sih pembantunya
sampe gak betah gitu? Mbok ya kalau punya pembantu itu di-awet²,
dibaikin, biar dia juga betah ama kita". Kita sekeluarga komentar 
begitu karena saat itu pembantu yang ada ikut sejak
>  saya baru lahir sampai saya kelas 3 SMA. Setelah itu beliau ikut
Kakak saya yang  saat itu punya 2 orang anak balita cowok.
Beliau keluar  karena usia tua, sudah tidak sanggup lagi ikut bekerja
di keluarga kami. Jadi beliau ikut bekerja di keluarga kami sekitar 22
atau 23 tahun. Setelah pembantu 'setia' ini resign, barulah kami tahu
kenyataan yang lain...bahwa tidak semua orang memiliki kesetiaan,
loyalitas dan watak sebaik pembantu kami dulu. Ibu saya berganti-ganti
pembantu sampai sekiatr 3 tahun yang lalu (tapi entahlah apa sekarang
akan ganti lagi, karena pembantu yang terakhir ini kabarnya juga belum
kembali ke rumah Ibu setelah lebaran kemarin). Keluarga kami terutama
Ibu sempat agak shock juga mendapati pembantu mulai ada yang suka
mencuri, ada yang kalau ditengok pria diakui suaminya ternyata pada
suatu hari suami asli & anak lakinya yang sudah dewasa melabrak orang
tua saya & pembantu bersangkutan (akhirnya Ibu mengeluarkan
>  pembantu tersebut), ada yang ternyata punya side job jadi piala
bergilir  tukang² yang kost di kampung sebelah komp perumahan kami
(kebetulan kalau belanja ke peracangan yang bersebelahan dengan kost
rumah petak). Yang paling kasihan adalah kakak saya yang anak
tertuanya siku kanannya ditempel pakai setrika panas oleh pembantunya
karena keponakan saya ini tidak bisa diam (waktu itu keponakan saya
umur 3 atau 4 tahun). Ini cerita sungguhan lho, bukan saya
membesar-besarkan atau rekayasa. Ya selain pembantu² yang 'parah'
kelakuannya ya ada juga sih yang baik, tapi terus terang hingga saat
ini kami belum pernah mendapatkan pengganti pembantu yang tingkat
kerajinan, ketulusan, loyalitas ataupun kebaikan kepada keluarga kami
seperti pembantu 'setia' kami yang dulu. Sampai hari ini Ibu saya dan
si Mbok yang sudah pulang kampung ini masih saling mengirim surat
untuk saling menanyakan keadaan  keluarga masing² . Saya sendiri baru
punya pembantu setelah
>  hamil. Pembantu pertama tidak betah karena kesepian sendirian di
rumah,  pembantu kedua cukup bikin saya agak males sebenernya untuk
cari pembantu lagi, saking aja saya saat ini masih membutuhkan jasa
pembantu. Pembantu kedua ini Ibu berusia sekitar 40-45an, saya senang
sekali pertamanya karena saya anggap dia sudah 'senior', saya berharap
kemampuan dan kebaikannya seperti pembantu yang mengasuh saya sejak
lahir. Ternyata??? Saya baru tau setelah dia resign dan dapat pembantu
baru. Pembantu baru ini beberapa kali saya pergoki sedang ditawari dan
dipaksa oleh tetangga untuk makan di rumahnya, tapi pembantu saya
menolak. Saya tanya, kenapa sih Ibu sebelah suka mengendap- endap
ngobrol ama kamu? Emang kamu ditanyain apa? Jawabannya bikin saya
shock. Ternyata pembantu  yang dulu suka curhat, katanya saya sering
tidak kasih dia makan, kalau sakit tidak dibawa ke dokter dan tetap
disuruh kerja. Aduuuhhh...amit² !!! Seumur-umur saya
>  nggak pernah berlaku seperti itu sama pembantu. Langsung rasanya
saya  sakit hati banget. Tapi mau apa? Orangnya sudah resign beberapa 
bulan yang  lalu. Sejak saat itu saya memang lebih hati- hati lagi
dengan pembantu. Terus terang saat ini kalau saya punya pembantu baru,
salah satu aturan di awal kerja adalah apabila saya mengetahui dia
memfitnah saya dan keluarga, akan langsung saya keluarkan. Terus
terang sampai saat ini saya masih sulit memaafkan si Ibu yang pernah
bekerja pada saya itu, kebaikan kami kok dibalas dengan fitnah seperti
itu. Alhamdulillah pembantu yang saat ini orangnya baik, anak saya
juga sangat suka dengannya (walaupun job desc dia tidak
termasuk mengurus anak).Menurut saya sih memang dapat pembantu itu
untung-untungan juga, sama saja seperti dapat karyawan untuk
perusahaan. Bedanya kita cuma bertemu dengan karyawan di kantor
saja, tidak saling memasuki area kehidupan  pribadi masing² pihak,
tapi kalau
>  pembantu/BS ini ikut masuk area kehidupan pribadi kita. Di situlah
kita  juga akhirnya saling menemukan watak asli masing², termasuk
kekurangannya. Karyawan di  perusahaan juga wataknya aneka macam kan,
dari yang menyenangkan sampai yang bikin dirinya sendiri bisa dipecat
perusahaan, hehehe. Saya juga berpendapat  bahwa pembantu  jaman dulu
dengan jaman sekarang (yang kebanyakan adalah masih anak muda)
sangat berbeda. Pembantu jaman dulu bekerja dengan loyalitas yang 
tinggi, sedangkan kalau sekarang memang  kenyataannya  banyak yang 
money oriented tapi tidak memiliki etos kerja yang baik. Banyak dari
mereka yang ingin kerjaan mudah tapi duit banyak. Atau kalau BS,
karena merasa job desc-nya hanya ngurus anak, seringkali dari mereka
juga merasa statusnya lebih tinggi dari pembantu (kakak saya sering
bermasalah dengan konflik antar BS dan pembantu, saya rasa ibu² yang
lain juga mungkin banyak yang mengalaminya ya?) sehingga
>  sama sekali tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga sedikit pun
walaupun  sebenarnya hal tersebut sesuatu yang sepele yang tidak akan
merubah job desc mereka sebagai BS.Jadi Pak Yusuf, tidak salah juga
lho Ibu² di milis ini banyak yang complain mengenai pembantu/BS.
Setiap orang pastilah ingin memiliki pembantu/BS yang baik dan awet.
Saya sioalnya dulu juga punya pikiran seperti Anda, Pak. Kita tidak
akan mengerti bagaimana rasanya berada dalam posisi para Ibu yang
bermasalah dengan pembantu sampai kita sendiri akhirnya berada pada
masalah yang sama.Saya rasa jaman sekarang juga kita-kita ini sudah
cukup terdidik kok untuk memperlakukan pembantu/BS dengan baik,
apalagi pembantu/BS jaman sekarang juga lebih berani protes, lebih 
berpendidikan juga dan saya rasa itu bagus juga, sebagai bentuk
aktualisasi hak bicara mereka, sebagai bentuk kesadaran mereka untuk
melindungi dirinya sendiri juga. Jadi kita juga gak bisa semena-mena
sama pembantu/BS.
>  Sayangnya banyak juga sih emang yang tidak tahu diri dan menurut
saya itu  selain karena pembawaan watak dari sononya yang kurang baik,
juga karena pemahaman yang kurang mengenai timbal balik yang baik
mengenai hak dan kewajiban seorang pekerja. Mungkin ini yang kita para
pengguna jasa pembantu/BS juga harus berusaha memberi tahu mereka
tentang pemahaman ini, sekalian kitanya juga harus menerapkan yang
baik dan benar lho.Jadi buat para Moms yang sampai hari ini belum
dapat pembantu/BS yang baik, jangan putus asa juga ya...yang sabar.
Selain juga untuk introspeksi diri mengenai kekurangan kita terhadap
mereka.Rina--- On Thu, 10/9/08, .:merry:. <gosal_merry@ yahoo.com. sg>
wrote:From: .:merry:. <gosal_merry@ yahoo.com. sg>Subject: Re:
[parentsguide] Maaf tentang PRT/BSTo: "Parents" <parentsguide@
yahoogroups. com>Date:  Thursday, October 9, 2008, 12:17 PM    Ikut
nimbrung ya,Setiap orang pasti punya daerah privasi masing2....apalg
yg namanya kamar tidur
>  pasti hampir smua org akan menggangap kalo kamar itu adalah daerah
pribadi d mana tdk smua org bisa masuk apalg sampe duduk or rebahan
ranjang!Mungkin aja mba davi menggap jika kamar tidur adalah daerah
privasinya dia, d mana mba davi akan mrasa sangat tdk nyaman dg adax
org lain yg duduk d ranjang dia! Sama ajakan kita d kantor....masa
bisa seenakx masuk ruangan si bos, apalg sampe duduk d kursi s bos,
pasti atasan kita akan menggangap kita sebagai bawahan yg tdk tau
aturan atau kasarannya tdk tau diri, koq  bisa2nya duduk d kursi
atasan!Tapi apakah dg kita masuk k ruangan s bos  duduk d kursi yg sdh
d sediakan buat tamu......apa itu bisa d katakan s bos tdk
"mengorangkan" kita sbg karyawannya? ! Tentunya tidak bukan....?!Jd aq
krg setuju dg pendapat dr P.Yusuf....kalo PRT/BS yg d larang duduk d
ranjang sdh d anggap tdk "mengorangkan" mreka sbg pekerja! Terkecuali
s mba davi sampe melarang mreka duduk d kursi  harus duduk d lantai
krn status mreka yg
>  hanya sbg pekerja, nah itu baru bisa d katakan kalo mba davi tdk
mengorangkan mreka sbg pekerja....Slama sebatas itu daerah privasi yah
aq msh menggangap hal itu wajar aja!Kami d rmh malah punya pembantu d
mana sdh ikut kami kerja sebelum ayah sy merit, itu berarti dia ikut
kami sebelum kami lahir, kakak tertua sy saja dah 35th.Bahkan ortu
kami mengajarkan kami u/ memanggil beliau dg sebutan ibu  anak2 kami
memanggil dia nenek!Beliau jg tau daerah mana yg kami anggap  privasi,
beliau pasti tdk akan berani u/ duduk seenakx, pdhal kalo beliau mau
kami jg tdk keberatan wong dia sdh jaga kami dr kecil  dia sdh ikut
kami lama!Maaf ya kalo aq krg setuju dg P.YusufPeace,MerrySent from my
BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT_._,___
>


Kirim email ke