Setuju..................................--- On Thu, 10/9/08, riena rachma 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:From: riena rachma <[EMAIL PROTECTED]>Subject: Re: 
[parentsguide] Maaf tentang PRT/BSTo: [EMAIL PROTECTED]: Thursday, October 9, 
2008, 2:49 AMWah rame ya pembahasan masalah PRT dan BS...Saya mo ikutan sharing 
juga ya....Pak Yusuf mungkin beruntung mendapatkan pembantu yang awet sampai 8 
tahun. Yang lain malah ada yang 14 tahun, dan ada yang sudah ikut sejak orang 
tua masih muda. Wow! Andai saya yang dapat pembantu yang seperti itu pasti 
bersyukur sekali Terus terang saya dan keluarga saya (kakak, Ibu, orang tua) 
dulu kalau melihat ada keluarga yang  gonta-ganti  pembantu kita sampai 
berkomentar, "Ya ampun. ..diapain aja sih pembantunya sampe gak betah gitu? 
Mbok ya kalau punya pembantu itu di-awet², dibaikin, biar dia juga betah ama 
kita". Kita sekeluarga komentar  begitu karena saat itu pembantu yang ada ikut 
sejak
 saya baru lahir sampai saya kelas 3 SMA. Setelah itu beliau ikut Kakak 
saya yang  saat itu punya 2 orang anak balita cowok. Beliau keluar  karena 
usia tua, sudah tidak sanggup lagi ikut bekerja di keluarga kami. Jadi beliau 
ikut bekerja di keluarga kami sekitar 22 atau 23 tahun. Setelah pembantu 
'setia' ini resign, barulah kami tahu kenyataan yang lain...bahwa tidak semua 
orang memiliki kesetiaan, loyalitas dan watak sebaik pembantu kami dulu. Ibu 
saya berganti-ganti pembantu sampai sekiatr 3 tahun yang lalu (tapi entahlah 
apa sekarang akan ganti lagi, karena pembantu yang terakhir ini kabarnya juga 
belum kembali ke rumah Ibu setelah lebaran kemarin). Keluarga kami terutama Ibu 
sempat agak shock juga mendapati pembantu mulai ada yang suka mencuri, ada yang 
kalau ditengok pria diakui suaminya ternyata pada suatu hari suami asli & anak 
lakinya yang sudah dewasa melabrak orang tua saya & pembantu bersangkutan 
(akhirnya Ibu mengeluarkan
 pembantu tersebut), ada yang ternyata punya side job jadi piala bergilir  
tukang² yang kost di kampung sebelah komp perumahan kami (kebetulan kalau 
belanja ke peracangan yang bersebelahan dengan kost rumah petak). Yang paling 
kasihan adalah kakak saya yang anak tertuanya siku kanannya ditempel pakai 
setrika panas oleh pembantunya karena keponakan saya ini tidak bisa diam (waktu 
itu keponakan saya umur 3 atau 4 tahun). Ini cerita sungguhan lho, bukan saya 
membesar-besarkan atau rekayasa. Ya selain pembantu² yang 'parah' kelakuannya 
ya ada juga sih yang baik, tapi terus terang hingga saat ini kami belum pernah 
mendapatkan pengganti pembantu yang tingkat kerajinan, ketulusan, loyalitas 
ataupun kebaikan kepada keluarga kami seperti pembantu 'setia' kami yang dulu. 
Sampai hari ini Ibu saya dan si Mbok yang sudah pulang kampung ini masih saling 
mengirim surat untuk saling menanyakan keadaan  keluarga masing² . Saya sendiri 
baru punya pembantu setelah
 hamil. Pembantu pertama tidak betah karena kesepian sendirian di rumah,  
pembantu kedua cukup bikin saya agak males sebenernya untuk cari pembantu lagi, 
saking aja saya saat ini masih membutuhkan jasa pembantu. Pembantu kedua ini 
Ibu berusia sekitar 40-45an, saya senang sekali pertamanya karena saya anggap 
dia sudah 'senior', saya berharap kemampuan dan kebaikannya seperti pembantu 
yang mengasuh saya sejak lahir. Ternyata??? Saya baru tau setelah dia resign 
dan dapat pembantu baru. Pembantu baru ini beberapa kali saya pergoki sedang 
ditawari dan dipaksa oleh tetangga untuk makan di rumahnya, tapi pembantu saya 
menolak. Saya tanya, kenapa sih Ibu sebelah suka mengendap- endap ngobrol 
ama kamu? Emang kamu ditanyain apa? Jawabannya bikin saya shock. 
Ternyata pembantu  yang dulu suka curhat, katanya saya sering tidak kasih 
dia makan, kalau sakit tidak dibawa ke dokter dan tetap disuruh kerja. 
Aduuuhhh...amit² !!! Seumur-umur saya
 nggak pernah berlaku seperti itu sama pembantu. Langsung rasanya saya  
sakit hati banget. Tapi mau apa? Orangnya sudah resign beberapa  bulan yang  
lalu. Sejak saat itu saya memang lebih hati- hati lagi dengan pembantu. Terus 
terang saat ini kalau saya punya pembantu baru, salah satu aturan di awal kerja 
adalah apabila saya mengetahui dia memfitnah saya dan keluarga, akan langsung 
saya keluarkan. Terus terang sampai saat ini saya masih sulit memaafkan si Ibu 
yang pernah bekerja pada saya itu, kebaikan kami kok dibalas dengan fitnah 
seperti itu. Alhamdulillah pembantu yang saat ini orangnya baik, anak saya juga 
sangat suka dengannya (walaupun job desc dia tidak termasuk mengurus 
anak).Menurut saya sih memang dapat pembantu itu untung-untungan juga, sama 
saja seperti dapat karyawan untuk perusahaan. Bedanya kita cuma bertemu dengan 
karyawan di kantor saja, tidak saling memasuki area kehidupan  pribadi masing² 
pihak, tapi kalau
 pembantu/BS ini ikut masuk area kehidupan pribadi kita. Di situlah kita  
juga akhirnya saling menemukan watak asli masing², termasuk kekurangannya. 
Karyawan di  perusahaan juga wataknya aneka macam kan, dari yang menyenangkan 
sampai yang bikin dirinya sendiri bisa dipecat perusahaan, hehehe. Saya 
juga berpendapat  bahwa pembantu  jaman dulu dengan jaman sekarang 
(yang kebanyakan adalah masih anak muda) sangat berbeda. Pembantu jaman dulu 
bekerja dengan loyalitas yang  tinggi, sedangkan kalau sekarang memang  
kenyataannya  banyak yang  money oriented tapi tidak memiliki etos kerja 
yang baik. Banyak dari mereka yang ingin kerjaan mudah tapi duit banyak. Atau 
kalau BS, karena merasa job desc-nya hanya ngurus anak, seringkali dari mereka 
juga merasa statusnya lebih tinggi dari pembantu (kakak saya sering bermasalah 
dengan konflik antar BS dan pembantu, saya rasa ibu² yang lain juga mungkin 
banyak yang mengalaminya ya?) sehingga
 sama sekali tidak mau membantu pekerjaan rumah tangga sedikit pun walaupun  
sebenarnya hal tersebut sesuatu yang sepele yang tidak akan merubah job desc 
mereka sebagai BS.Jadi Pak Yusuf, tidak salah juga lho Ibu² di milis ini banyak 
yang complain mengenai pembantu/BS. Setiap orang pastilah ingin memiliki 
pembantu/BS yang baik dan awet. Saya sioalnya dulu juga punya pikiran seperti 
Anda, Pak. Kita tidak akan mengerti bagaimana rasanya berada dalam posisi para 
Ibu yang bermasalah dengan pembantu sampai kita sendiri akhirnya berada pada 
masalah yang sama.Saya rasa jaman sekarang juga kita-kita ini sudah cukup 
terdidik kok untuk memperlakukan pembantu/BS dengan baik, apalagi pembantu/BS 
jaman sekarang juga lebih berani protes, lebih  berpendidikan juga dan saya 
rasa itu bagus juga, sebagai bentuk aktualisasi hak bicara mereka, sebagai 
bentuk kesadaran mereka untuk melindungi dirinya sendiri juga. Jadi kita juga 
gak bisa semena-mena sama pembantu/BS.
 Sayangnya banyak juga sih emang yang tidak tahu diri dan menurut saya itu  
selain karena pembawaan watak dari sononya yang kurang baik, juga karena 
pemahaman yang kurang mengenai timbal balik yang baik mengenai hak dan 
kewajiban seorang pekerja. Mungkin ini yang kita para pengguna jasa pembantu/BS 
juga harus berusaha memberi tahu mereka tentang pemahaman ini, sekalian kitanya 
juga harus menerapkan yang baik dan benar lho.Jadi buat para Moms yang sampai 
hari ini belum dapat pembantu/BS yang baik, jangan putus asa juga ya...yang 
sabar. Selain juga untuk introspeksi diri mengenai kekurangan kita terhadap 
mereka.Rina--- On Thu, 10/9/08, .:merry:. <gosal_merry@ yahoo.com. sg> 
wrote:From: .:merry:. <gosal_merry@ yahoo.com. sg>Subject: Re: [parentsguide] 
Maaf tentang PRT/BSTo: "Parents" <parentsguide@ yahoogroups. com>Date:  
Thursday, October 9, 2008, 12:17 PM    Ikut nimbrung ya,Setiap orang pasti 
punya daerah privasi masing2....apalg yg namanya kamar tidur
 pasti hampir smua org akan menggangap kalo kamar itu adalah daerah pribadi d 
mana tdk smua org bisa masuk apalg sampe duduk or rebahan ranjang!Mungkin aja 
mba davi menggap jika kamar tidur adalah daerah privasinya dia, d mana mba davi 
akan mrasa sangat tdk nyaman dg adax org lain yg duduk d ranjang dia! Sama 
ajakan kita d kantor....masa bisa seenakx masuk ruangan si bos, apalg sampe 
duduk d kursi s bos, pasti atasan kita akan menggangap kita sebagai bawahan yg 
tdk tau aturan atau kasarannya tdk tau diri, koq  bisa2nya duduk d kursi 
atasan!Tapi apakah dg kita masuk k ruangan s bos  duduk d kursi yg sdh d 
sediakan buat tamu......apa itu bisa d katakan s bos tdk "mengorangkan" kita 
sbg karyawannya? ! Tentunya tidak bukan....?!Jd aq krg setuju dg pendapat dr 
P.Yusuf....kalo PRT/BS yg d larang duduk d ranjang sdh d anggap tdk 
"mengorangkan" mreka sbg pekerja! Terkecuali s mba davi sampe melarang mreka 
duduk d kursi  harus duduk d lantai krn status mreka yg
 hanya sbg pekerja, nah itu baru bisa d katakan kalo mba davi tdk mengorangkan 
mreka sbg pekerja....Slama sebatas itu daerah privasi yah aq msh menggangap hal 
itu wajar aja!Kami d rmh malah punya pembantu d mana sdh ikut kami kerja 
sebelum ayah sy merit, itu berarti dia ikut kami sebelum kami lahir, kakak 
tertua sy saja dah 35th.Bahkan ortu kami mengajarkan kami u/ memanggil beliau 
dg sebutan ibu  anak2 kami memanggil dia nenek!Beliau jg tau daerah mana yg 
kami anggap  privasi, beliau pasti tdk akan berani u/ duduk seenakx, pdhal kalo 
beliau mau kami jg tdk keberatan wong dia sdh jaga kami dr kecil  dia sdh ikut 
kami lama!Maaf ya kalo aq krg setuju dg P.YusufPeace,MerrySent from my 
BlackBerry®powered by Sinyal Kuat INDOSAT_._,___          


      

Kirim email ke