Ida Halim at 09/10/2008 11:00 wrote:

>Hmmm setuju dgn Pak yusuf... kalo kita hrsnya bisa memperlakukan 
>asisten2 di rumah sebagai 'orang' i/o robot... or other...
>Ya, mungkin jg krn saya blm pernah ngerasain punya asisten rumah yg 
>aneh bin ajaib... amit2 deh... *knock2 the wood*

***Apa ya istilah Indonesia untuk 'mengorangkan orang' ini.
Ini sebenarnya istilah jawa saya indonesiakan.
Kurang tepat sebenarnya.

Konsep ini 'mendudukkan'/meletakkan seorang manusia sebagai manusia.
Sesuatu yang berjiwa, mempunyai perasaan, emosi dan pikiran.
Tidak seperti robot.

Ini sebuah contoh.

Suatu ketika, tetangga minta dicarikan PRT.
Sebenarnya saya malas diminta bantuan seperti ini,
meski banyak juga yang saya bantu.
Kebetulan kita juga nyari, karena adanya Zelda, adiknya Zidan,
1 PRT tidak mampu. Kebetulan ada yang butuh.
Sehingga ditemani kakak, ke-2 PRT ini dikirim ke rumah.

Setelah ngobrol-ngobrol, kita kontak tetangga untuk datang.
Karena nggak enak, saya minta dia yang milih duluan di antara 2 PRT itu.

Dari sini dia sudah tidak 'mengorangkan orang'.
Kita semua duduk lesehan, karena ke-2 PRT ini tidak mau duduk di kursi.
Jadi, kita 'ngalah'  duduk lesehan juga.

Sedang dia berdiri sambil menunjuk-nunjuk dan sepertinya tergesa-gesa,
ingin cepat dalam urusan ini. Bahkan urusan gaji ditanyakan langsung 
dihadapan kita semua.
(saya rasa lebih baik, gaji dibicarakan privat dengan dia).

Ke-2 PRT ini datang sore hari dan mulai kerja selepas maghrib (seharusnya).
Namun besok siangnya PRT yang diambil tetangga kembali ke rumah, minta pulang.
(untungnya kakak belum pulang, jadi ya pulang bareng).

Saya sampai heran kok hanya kerja setengah hari ?
Kemudian saya tahu tetangga jam 2 pagi sudah menggedor-gedor pintu
untuk minta bekerja. Gila. Ini memang keterlaluan.
Sudah tidak mengorangkan. Apalagi gajinya standard,
padahal masih harus mengasuh bayi.
Ya, wajar kalau dia 'hilang' dengan cepat.

Kita (saya dan istri) punya prinsip PRT hanyalah pembantu.
Tanggung jawab sepenuhnya keluarga adalah kita.
Jadi kita tidak menyerahkan sepenuhnya pada PRT/BS.
(ya pasti dia ngeluh kan, kalau semua minta dikerjakan dia sepenuhnya).

Setiba di rumah, semua pengasuhan anak adalah tanggung jawab kita.
Apapun PRT/BS tidak kita minta.
Bahkan sampai misal rewel di tengah malam, kita tidak akan menggedor pintu
untuk membantu mengasuh.
Ya, kita yang gantian mengasuh kalau anak rewel.
(saya sampai pernah tidur sambil berdiri, karena sang anak
tidak mau ditidurkan. Minta digendong).

Kalau jalan-jalan demikian juga, misal di Mall.
Kita tak akan minta sama PRT/BS untuk mengasuh anak kita,
sedangkan kita leha-leha.
Kita gantian mengasuh anak, bahkan banyakan kita yang mengasuh anak,
karena anak lebih suka sama kita.

Kita bebaskan dia pakai pakaian apa di Mall.
Meski saya lihat banyak baju PRT/BS yang dijual (bahkan murah),
saya tak mau membelikan dan minta memakai pakaian seperti itu.
Jadi bisa saja PRT/BSnya bisa lebih keren dan trendy dibanding bosnya.
He.. he..

Saya kadang kasihan dan melihat tidak adil para PRT yang diajak jalan-jalan
oleh bosnya di Mall.
Para PRT/BS ini yang kadang-kadang yang masih muda, kurus dan kecil
harus menggendong anak bosnya yang gemuk dan nakal.
Bosnya (suami & istri) senang-senang dan cuek dengan situasi ini.
Di lain pihak si PRT/BS sampai berkeringat menggendong dan mengasuh
anak bosnya yang gemuk dan nakal itu, yang lari-lari kemana-mana dan lainnya.

Saya lihat aura wajah PRT/BS ini tidak bercahaya.
Menunjukkan wajah yang capek, tertekan, terpaksa dan tidak gembira.
Jadi maksud untuk bersenang-senang tidak sampai ke dia.
Tidak diorangkan dia.

Kita misal kalau makan di restoran, akan duduk semeja dan makan 
makanan yang sama.
Seperti yang saya jelaskan di email sebelumnya, saya menganggap mereka
sebagai aset dan investasi masa depan.
Para PRT/BS saya ini adalah pengelola aset dan invetasi saya ini.
Kita mengharap aset dan investasi kita akan menguntungkan bukan merugikan.
(cerita mbak Yusri membuat saya makin harus lebih hati-hati lagi,
saya tidak mau anak-anak saya seperti itu).

Saya ingin menulis banyak tentang mengorangkan orang ini.
Karena saya melihat masih banyak orang yang tidak menghargai bangsanya sendiri.
Padahal ironisnya bangsa lain menghargainya.
Jadi wajar kalau mereka mending bekerja di luar negeri.
Kalau demikian terjadi, kita sendiri yang rugi.

Saya mohon maaf kalau ada yang tersinggung.


   Terima kasih
   M.Yusuf.web.id
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
   Tidak ada keadilan kecuali dalam kebenaran dan
   tidak ada kebenaran kecuali dalam keadilan.
   - [Arif bijak] -
   
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Kirim email ke