Dear All,

setuju dengan apartemen 4-8 lt.
mungkin cukup 6 lt... 4 lt housing unit, 2 lt atas sbg storage.. spy cukup
walk-up, tdk usah pake lift.
Lift meningkatkan service charge cukup signifikan.

pesan moral dari sub-prime USA adalah: housing bukan komoditas..shg jg
di-komodifikasi..

Dalam lahan tidak berlaku mekanisme pasar.. karena supply lahan tidak
elastis terhadap demand..

CMIIW.

salam,
-K-

2008/9/28 - ekadj <[EMAIL PROTECTED]>

>   Pak Risfan ysh,
>
> Saya kurang mendalami aspek finansial dari perumahan, namun hanya merasakan
> saja. Pasar yang over supply ditambah rangsangan KPR memang dapat
> menimbulkan resiko tersendiri, seperti dulu kejadian 1996an itu. Namun
> sekarang kelihatannya modus berbeda, karena programnya sudah 'back to city',
> sehingga memang harus jeli untuk bermain di nilai lahan. Penawaran apartemen
> tower belakangan ini cukup laris seperti pisang goreng, dengan tema:
> kalangan menengah. Namun saya agak ngeri juga bila penawaran konstruksinya
> sudah di atas 20 lantai, yang pasti sarat engineering dan juga mahal.
> Loncatan ini dari pola rusun konvensional (rata-rata 4 lantai) sebenarnya
> cukup berani juga, termasuk keyakinan terhadap 'penerimaan konsumen'.
> Terkadang terpikir juga bila loncatan itu jangan terlalu tinggi, karena tokh
> dengan biaya lahan dan konstruksi yang memadai masih bisa diperoleh margin
> keuntungan yang cukup. Termasuk juga dapat merangsang pemain menengah untuk
> berperan serta.
>
>
>
> Terkecuali memang bisa dipenuhi 'one stop services' seperti yang ditawarkan
> oleh sebuah developer di Kemang, yaitu commercial area di lantai 1 s/d 3,
> kemudian ada sekolah di lantai 7 misalnya, serta fasos/fasum lain di lantai
> tertentu. Jadi polanya tidak hanya hunian, juga berbagai 'fasilitas
> perkotaan' lainnya.
>
>
>
> Saya kurang yakin apartemen tower ini menjadi trend, sekarang karena
> dirangsang oleh subsidi saja. Apartemen 4-8 lantai masih menarik secara
> biaya konstruksi dan penerimaan masyarakat, dan memiliki efek signifikan
> untuk mensubstitusi perumahan landed house yang selama ini ada secara
> besar-besaran, khususnya pada perumahan yang bukan terletak di jalan-jalan
> utama.
>
>
>
> Termasuk juga suatu pemikiran bila subsidi yang ada justru disasarkan pada
> aspek penyediaan lahan, sehingga tersedia rangsangan untuk berinvestasi.
> Apalagi bila pengembangannya dilakukan dengan perhitungan neraca lahan,
> sehingga perubahan nilai lahan dapat lebih terkendali.
>
>
>
> Saya menginformasikan saja, beberapa bulan lalu saya sempat bertemu dengan
> Walikota Kupang dan mendapatkan beberapa keterangan menarik. Saat ini Pemda
> Kupang sedang melakukan pembelian beberapa persil tanah dengan dana APBD.
> Tanah tersebut kemudian disimpan (land banking) dan sewaktu-waktu dapat
> ditawarkan kepada investor yang berminat melakukan usaha di Kupang dengan
> harga yang pantas. Hal ini untuk mendobrak kendala kesulitan lahan, seperti
> permasalahan klasik yang sering dihadapi oleh investor. Saya pikir cara ini
> cukup menarik dan inovatif serta dapat menjadi pelajaran bagi Pemda (kota)
> lainnya.
>
>
>
> Sementara demikian pak. Salam.
>
>
>
> -ekadj
>
>
> 2008/9/27 Risfan M [EMAIL PROTECTED]
>
>    (Setiap planolog belajar teori lokasi, transportasi, land use, dan
>> urban (land) economics.)
>>
>> Lahan pekotaan jumlah atau luasnya relatif terbatas, sedangkan
>> permintaan potensial meningkat terus. Akibatnya harga cenderung naik.
>> Harga terus naik itu telah menjadi asumsi umum di masyarakat dan
>> di'teguh'kan pengembang. Padahal di sisi permintaan tiap saat bisa
>> saja menurun, karena menurunnya daya beli. Income warga yang bisa
>> disisihkan (disposable) menurun. Ini bisa karena inflasi, atau naiknya
>> harga rumah, naiknya suku bunga, dst.
>> Permasalahan bisa timbul jika para pengembang terus 'meniupkan' iklan
>> secara berlebihan, ditunjang dengan sektor perbankan dan keuangan yang
>> juga mendorong penyerapan kredit (KPR, konstruksi) yang sedang
>> overliquid. Akibatnya, pasar atau konsumen dibujuk secara berlebihan,
>> bahkan sampai syarat penerima kredit juga dilonggarkan secara kurang
>> hati-hati. Akibat selanjutnya, potensi kredit macet tinggi. Kondisi
>> bubble economy ini bisa membahayakan sektor keuangan dan ekonomi
>> secara keseluruhan.
>> Di negara maju seperti USA, kecenderungan tak wajar tersebut bisa
>> tidak segera dirasakan masyarakat karena disana tiap KPR (mortgage)
>> dijaminkan kepada lembaga keuangan sekunder, yang juga 'menjualnya' ke
>> pasar hutang. Dengan kondisi bubble yang kian membengkak tanpa
>> kontrol, akhirnya besarnya kredit KPR yang macet kian tak
>> tertangguhkan. Maka terjadilah tragedi subprime mortgage yang
>> gelombang ikutannya (tsunami) akhirnya merontokkan raksasa keuangan
>> dan mengguncang sistem keuangan pada umumnya.
>> Kembali ke pangkal soal, yaitu karena penilaian dan pricing yang tak
>> wajar atas tanah perkotaan. Serta asumsi bahwa permintaan riil selalu
>> naik. Ini juga mengingatkan bahwa jika sektor riil lainnya sulit
>> bergerak (karena berbagai kendala) maka sektor keuangan cenderung
>> menggelontorkan likuiditasnya ke sektor (real) property. Hal terakhir
>> ini dapat dibuktikan dengan tren aktifnya kelompok bank yang terjun di
>> sektor (real) property.(Risfan Munir)
>> .
>>
>>  
>



-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
Cell : +62 815 607 0927
T/F  : +62 21 7997039
INDONESIA

Kirim email ke