Namun, sebelum meminang, Suharjono Prawiro tahu bahwa di halaman rumah
Dhora yang tak seberapa luas tersimpan harta karun yang jauh dari
lumayan.
Ah...stop dengan segala analogi-analogi seperti ini sebab
asumsi-asumsinya belum tentu tepat atau mendekati tepat semata-mata
karena kurangnya informasi yang di ketahui masyarakat.
Analogi-analogi semacam ini bisa membawa pada diskusi yang tidak
membawa manfaat apapun kecuali mungkin untuk penulis fiksi.

Wassalam,
Panut Wirata



---Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Bravo ....Cak Nas..!!!
>
> Bagaimana kalau misalnya ada prolognya seperti ini:
>
> Sejak awal si Dhora Fransisca memang nggak pernah pacaran dengan
Suharjono
> Prawiro. Lalu dengan setengah hati akhirnya mau saja diajak kawin
Suharjono
> Prawiro yang punya tanah dan sawah yang luas serta kebon-kebonnya.
>
> At 08:20 AM 2/6/99 +0700, you wrote:
> >Seorang wanita bernama Dhora Fransisca berkata kepada suaminya
bernama
> >Suharjono Prawiro,
> >        "Loe boleh memiliki saya. Selama itu pula loe harus tetap
memberi
> >makanan dan memberi kebebasan kepada gua"
> >        "Oke deh. Lalu ?", tanya si suami
> >        "Setelah lima atau sepuluh tahun kemudian, gua boleh kan
memutuskan,
> >apakah cerai atau tetap sebagai istri loe?
> >        "Ha ????? Kenapa nggak sekarang saja kita bercerai?????"
> >
> >===============================
> >
> >
>

_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke