Indi Soemardjan <[EMAIL PROTECTED]>:
...
>Bagi Anda semua yang mendukung Amien Rais sebagai calon Presiden,
>Saya anjurkan untuk memikirkan kembali dukungan Anda.
>Apakah betul dia mempunyai sikap "negarawan"?
Yw: Negarawan seperti suharto maksudnya? Tidak tentu saja.
>Salah satu peserta (saudara saya sendiri hadir disana) bercerita kapada
>saya bahwa pada acara temu muka dgn. Amien Rais di NY hari Rabu (10/3)
>malam, Amien Rais rupanya tidak mampu menunjukkan atau memberikan
>jawaban-jawaban yang dilontarkan beberapa tamu yang datang mengenai
>langkah2 yang akan beliau ambil apabila terpilih menjadi Presiden.
Yw: Andaikan yg harus menjawab itu adalah Suharto, dia pasti
mampu! But who cares about him? Janganlah hanya gara-gara
benchmark kayak gitu, anda terus ada niat utk balik ke
Suharto lagi, gitu kan prinsipnya?
>Saudara saya juga mengatakan bahwa dia betul2 kecewa dengan cara
>dialog/diplomasi Amien Rais yang tidak menunjukkan sikap "Statemanship"
>ataupun "kharisma" seperti layaknya seorang pemimpin yang mampu
>berpolitik/berdiplomasi secara terbuka.
Yw: Itu menunjukkan bahwa:
1. Dia belum berpengalaman jadi negarawan
(dan apalagi jadi presiden).
2. In some sense dia bukan politikus sejati.
3. In some sense dia bukan diplomat ulung.
Frankly speaking, kalo beneran Indonesia pingin maju,
apakah bijaksana kalo memilih 'politikus sejati yg diplomat
ulung' utk menjadi presiden. 'Politikus sejati yg diplomat
ulung' itu kan kalo dalam bahasa sehari-hari artinya apa...
bisa sinonim sama 'pembohong besar', malah gawat... ;-)
>Sebagai tambahan, Amien Rais datang terlambat (kasus biasa untuk orang
>Indonesia yang merasa diperlukan) dan seusai acara tersebut langsung
>meninggalkan ruangan tanpa mengadakan "bincang2" dengan para tamu yang ada;
Yw: Menunjukkan bahwa dia Indonesia sekali.
(dg segala keunikan dan kekurangannya).
>kesempatan untuk berbincang2 dengan public dibuang begitu saja!
Yw: 'Gak cocok utk jadi diplomat, 'gak cocok utk jadi politikus.
Kesimpulan: kalo dia tampil (sbg wakil presiden atau apapun),
dia tidak bisa tampil sendiri! Harus dilengkapi (kekurangannya)
oleh orang-orang lain. Dg kata lain: dia manusia biasa, bukan
manusia superior. Dan Indonesia sebenernya butuhnya yg gini-
gini aja (biar nggak keterusan nongkrong di kursi presiden,
dan nggak cukup pinter utk ngibulin rakyat).
...