Betul.  Sebetulnya simpel saja yg. dibutuhkan u/ jadi presiden: Jujur dan
adil.

> ----------
> From:         Yusuf-Wibisono[SMTP:[EMAIL PROTECTED]]
> Sent:         Monday, March 15, 1999 8:10 AM
> Subject:      Re: Apakah Amien Rais seorang Negarawan?
>
> Indi Soemardjan <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> ...
>
> >Bagi Anda semua yang mendukung Amien Rais sebagai calon Presiden,
> >Saya anjurkan untuk memikirkan kembali dukungan Anda.
> >Apakah betul dia mempunyai sikap "negarawan"?
>
> Yw: Negarawan seperti suharto maksudnya? Tidak tentu saja.
>
> >Salah satu peserta (saudara saya sendiri hadir disana) bercerita kapada
> >saya bahwa pada acara temu muka dgn. Amien Rais di NY hari Rabu (10/3)
> >malam, Amien Rais rupanya tidak mampu menunjukkan atau memberikan
> >jawaban-jawaban yang dilontarkan beberapa tamu yang datang mengenai
> >langkah2 yang akan beliau ambil apabila terpilih menjadi Presiden.
>
> Yw: Andaikan yg harus menjawab itu adalah Suharto, dia pasti
>     mampu! But who cares about him? Janganlah hanya gara-gara
>     benchmark kayak gitu, anda terus ada niat utk balik ke
>     Suharto lagi, gitu kan prinsipnya?
>
> >Saudara saya juga mengatakan bahwa dia betul2 kecewa dengan cara
> >dialog/diplomasi Amien Rais yang tidak menunjukkan sikap "Statemanship"
> >ataupun "kharisma" seperti layaknya seorang pemimpin yang mampu
> >berpolitik/berdiplomasi secara terbuka.
>
> Yw: Itu menunjukkan bahwa:
>     1. Dia belum berpengalaman jadi negarawan
>        (dan apalagi jadi presiden).
>     2. In some sense dia bukan politikus sejati.
>     3. In some sense dia bukan diplomat ulung.
>
>     Frankly speaking, kalo beneran Indonesia pingin maju,
>     apakah bijaksana kalo memilih 'politikus sejati yg diplomat
>     ulung' utk menjadi presiden. 'Politikus sejati yg diplomat
>     ulung' itu kan kalo dalam bahasa sehari-hari artinya apa...
>     bisa sinonim sama 'pembohong besar', malah gawat... ;-)
>
> >Sebagai tambahan, Amien Rais datang terlambat (kasus biasa untuk orang
> >Indonesia yang merasa diperlukan) dan seusai acara tersebut langsung
> >meninggalkan ruangan tanpa mengadakan "bincang2" dengan para tamu yang
> ada;
>
> Yw: Menunjukkan bahwa dia Indonesia sekali.
>     (dg segala keunikan dan kekurangannya).
>
> >kesempatan untuk berbincang2 dengan public dibuang begitu saja!
>
> Yw: 'Gak cocok utk jadi diplomat, 'gak cocok utk jadi politikus.
>     Kesimpulan: kalo dia tampil (sbg wakil presiden atau apapun),
>     dia tidak bisa tampil sendiri! Harus dilengkapi (kekurangannya)
>     oleh orang-orang lain. Dg kata lain: dia manusia biasa, bukan
>     manusia superior. Dan Indonesia sebenernya butuhnya yg gini-
>     gini aja (biar nggak keterusan nongkrong di kursi presiden,
>     dan nggak cukup pinter utk ngibulin rakyat).
>
> ...
>

application/ms-tnef

Kirim email ke