Kalau megawati jadi wapres ataupun ketua dpr/mpr juga harus disyukuri.
Siapapun yang tidak jadi presiden tetapi punya hati untuk rakyat
seharusnya bersedia menjadi pimpinan yang lain. Tokh membantu rakyat
bukan berarti harus jadi presiden tapi memiliki wewenang yang cukup
untuk bicara dan bertindak.
Karena siapapun yang jadi presiden tidak menjamin membaiknya negeri ini.
Yang diperlukan adalah suatu tim yang tangguh (presiden, wapres, ketua
dpr/mpr, ketua MA dan lembaga tinggi lainnya, pangab) yang benar-benar
menjalankan kehendak rakyat dan bukan kehendak partai ataupun pribadi.
Siapapun pemimpin partai yang tidak berhasil menjadi presiden,
seharusnya berjiwa besar dalam menerima kekalahan tetapi tetap
berperilaku untuk melaksanakan kehendak rakyat yang menginginkan
keadilan dan kebenaran ditegakkan dinegeri ini.
peace.
Priyo Pujiwasono wrote:
>
> Dulu kangkung
> sekarang brocolli,
> Dulu mendukung...
> ehh...sekarang tak lagi.
>
> Kyai Gus Dur memang paling hobi berubah2 sikap.
> Baca wawancara Gus Dur dengan Institut Pertahanan dan Studi Strategis
> (IDSS) di Singapura hari Rabu (03/24).
>
> Salam,
> ~yo
>
> *******
> http://www.kompas.com/kompas-cetak/9903/25/NASIONAL/gusd07.htm
>
> http://www.republika.co.id/9903/25/10511.htm
>
> "Saya sangat dekat dengan Megawati, ia sudah seperti saudara sendiri.
> Tapi, kita harus menegakkan sistem demokrasi. Dalam demokrasi,
> mayoritas yang berkuasa. Dan mayoritas, saya pikir, tak akan memilih
> Megawati,'' katanya lagi.
> Menurut Gus Dur, realita itulah yang ada di Indonesia. Karena itu, ia
> berharap Megawati mau mengerti posisinya. Dalam pandangan kiai
> Ciganjur itu, posisi yang pantas bagi Megawati adalah wakil presiden.
> ''Atau kalau ia tak mau, karena pekerjaan wapres hanya urusan
> seremonial saja, ia bisa jadi Ketua DPR/MPR,'' tambah Gus Dur.
>
> _________________________________________________________
> Do You Yahoo!?
> Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com