....di ilangin.....
> Menanggapi posting apakah kita siap menghadapi kenyataan hasil
> Pemilu, kayaknya sih nggak siap.
.....di sensor.....
> Kalau Golkar menang gimana? Kayaknya bakal ada kerusuhan besar
> juga. Entah kalau para pemimpin partai yg kalah ini sanggup meredam.
> Makanya transparansi pemilu mesti bener-bener dijamin. Itu juga
> belum menjamin, wong sepakbola jelas-jelas kasat mata kalah aja
> supporter bisa ngamuk. Apalagi yg ini masih pake transparansi, jadi
> rada burem juga.... Moga-moga aja tebakan saya salah.
.....di busek...
Nah...itulah yang kemaren saya bilang jadi pertanyaan gede di jidat saya
yang udah mulai keluar urat nih...
Kok kayanya ndak ada ketua partai yang menyadari pontensi konflik pasca
pemilu nanti. Kalau memang kita menginginkan warna demokrasi yang lebih
cerah di negara kita pada era reformasi ini, ya seharusnya potensi
konlfik yang bisa meledak akibat perbedaan pendapat, kecurigaan, ketidak
percayaan serta SARA menjadi salah satu perhatian khusus dari semua
pihak, baik pemerintah maupun para pemimpin partai politik. Seharusnya
di tengah2 perbedaan pendapat (yang memang menjadi salah satu ciri dari
dinamika demokrasi), semua pihak juga menyadari permasalahan yang sangat
substansial ini, dan di cari jalan pemecahan maupun pengecagannya.
Ambillah asumsi bahwa faktor yang paling dominan adalah kesadaran
politik masyarakat yang masih rendah, berarti ini tugas para ketua
partai politik untuk ikut andil dalam pendidikan politik rakyat,
sehingga rakyat lebih dewasa, dan lebih bisa berfikir rasional di dalam
berpolitik. Jangan justru memberikan contoh yang tidak baik seperti
kasus kelompok 12 kemaren.
Kalo mau mencontoh dikiiiittttttt...aja, mungkin kita bisa melihat
proses impeachment nya si Clinton kemaren. Meskipun di Congress terjadi
perdebatan sengit antara kelompok Republican ama Democrat, dan di
masyarakatpun berkembang perbedaan opini, tapi setelah dinyatakan bahwa
Clinton masih berhak untuk nduduki kursinya, toh semua bisa menerima
dengan besar hati, nggak sampe terjadi tawuran antara republican dan
demokrat.
Lha kalo kita kan belum bisa begitu. Dimana ada perbedaan, eee...para
pemuka partainya masih sering ngomporin para pendukungnya, njelek
njelekin partai yang lain, nyurigain partai lawannya de el el, de es be.
Akhirnya ini menimbulkan opini negatif di jidat dan otot para
pendukungnya, dan begitu dua kelompok berhadapan, yang ada ya adu otot.
Kan repot....
Saya sih sebagai rekyat jelata, cuman menyarankan, mbok ya para yang
terhormat tokoh2 partai itu mikirin yang beginian ini. Wong hampir
semuanya lulusan perguruan tinggi (kecuali satu), bahkan banyak yang
sudah doktor, insinyur, master dan segala embel embel lainnya. Mbok ya
atribut2 yang terpasang di belakang nama itu dimanfaatkan untuk mendidik
moral dan kesadaran politik para pengikutnya yang 95% nggak punya embel
embel di belakang namanya. Tentu saja, bukan cuman mendidik dengan
kata2, orasi, pernyataan2....kalo itu sih, nenek nenek juga bisa, tapi
ya dikasih contoh. Pemimpin sendiri seharusnya memulainya dari dalam
diri mereka masing2, kemudian memberi contoh dan mengarahkan para
pengikutnya.
Kalau ini bisa dilaksanakan, Insya Allah kekuatiran kita ndak akan
terjadi. Tapi kok untuk melaksanakannya itu yang kelihatannya agak
susah...au ah...elap..namanya juga cuman oret oret.
_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com