Nah ini, belum apa-apa, pihak Pemerintah dan Golkar sudah
kebakaran jenggot, gara2 Menteri engga boleh kampanye.
Itu kan sudah keputusan KPU (voting pula!).
Udah itu pake acara fatwa-fatwaan segala......

Kira-kira apa yang akan terjadi kalau Golkar kalah ?
Yakin kita kalau mereka pasti mau menerima kekalahan ??????

Salam,
bRidWaN
-----
At 22:40 26/03/99 -0500, Blucer Rajagukguk wrote:
>Betul, para tokoh politik ini harus belajar menerima kekalahan jika
>nantinya tidak berhasil menjadi presiden. Walaupun kalah tetap mau
>memberikan programnya yang terbagus dan tetap setia dipihak rakyat
>menjadi kontrol sosial untuk pemerintah yang baru.
>peace.
===========================================
>Dodo D. wrote:
>>
>> ....di ilangin.....
>> > Menanggapi posting apakah kita siap menghadapi kenyataan hasil
>> > Pemilu, kayaknya sih nggak siap.
>>
>> .....di sensor.....
>> > Kalau Golkar menang gimana? Kayaknya bakal ada kerusuhan besar
>> > juga. Entah kalau para pemimpin partai yg kalah ini sanggup meredam.
>> > Makanya transparansi pemilu mesti bener-bener dijamin. Itu juga
>> > belum menjamin, wong sepakbola jelas-jelas kasat mata kalah aja
>> > supporter bisa ngamuk. Apalagi yg ini masih pake transparansi, jadi
>> > rada burem juga.... Moga-moga aja tebakan saya salah.
>>
>> .....di busek...
>>
>> Nah...itulah yang kemaren saya bilang jadi pertanyaan gede di jidat saya
>> yang udah mulai keluar urat nih...
>>
>> Kok kayanya ndak ada ketua partai yang menyadari pontensi konflik pasca
>> pemilu nanti. Kalau memang kita menginginkan warna demokrasi yang lebih
>> cerah di negara kita pada era reformasi ini, ya seharusnya potensi
>> konlfik yang bisa meledak akibat perbedaan pendapat, kecurigaan, ketidak
>> percayaan serta SARA menjadi salah satu perhatian khusus dari semua
>> pihak, baik pemerintah maupun para pemimpin partai politik. Seharusnya
>> di tengah2 perbedaan pendapat (yang memang menjadi salah satu ciri dari
>> dinamika demokrasi), semua pihak juga menyadari permasalahan yang sangat
>> substansial ini, dan di cari jalan pemecahan maupun pengecagannya.
>> Ambillah asumsi bahwa faktor yang paling dominan adalah kesadaran
>> politik masyarakat yang masih rendah, berarti ini tugas para ketua
>> partai politik untuk ikut andil dalam pendidikan politik rakyat,
>> sehingga rakyat lebih dewasa, dan lebih bisa berfikir rasional di dalam
>> berpolitik. Jangan justru memberikan contoh yang tidak baik seperti
>> kasus kelompok 12 kemaren.
>>
>> Kalo mau mencontoh dikiiiittttttt...aja, mungkin kita bisa melihat
>> proses impeachment nya si Clinton kemaren. Meskipun di Congress terjadi
>> perdebatan sengit antara kelompok Republican ama Democrat, dan di
>> masyarakatpun berkembang perbedaan opini, tapi setelah dinyatakan bahwa
>> Clinton masih berhak untuk nduduki kursinya, toh semua bisa menerima
>> dengan besar hati, nggak sampe terjadi tawuran antara republican dan
>> demokrat.
>>
>> Lha kalo kita kan belum bisa begitu. Dimana ada perbedaan, eee...para
>> pemuka partainya masih sering ngomporin para pendukungnya, njelek
>> njelekin partai yang lain, nyurigain partai lawannya de el el, de es be.
>> Akhirnya ini menimbulkan opini negatif di jidat dan otot para
>> pendukungnya, dan begitu dua kelompok berhadapan, yang ada ya adu otot.
>> Kan repot....
>>
>> Saya sih sebagai rekyat jelata, cuman menyarankan, mbok ya para yang
>> terhormat tokoh2 partai itu mikirin yang beginian ini. Wong hampir
>> semuanya lulusan perguruan tinggi (kecuali satu), bahkan banyak yang
>> sudah doktor, insinyur, master dan segala embel embel lainnya. Mbok ya
>> atribut2 yang terpasang di belakang nama itu dimanfaatkan untuk mendidik
>> moral dan kesadaran politik para pengikutnya yang 95% nggak punya embel
>> embel di belakang namanya. Tentu saja, bukan cuman mendidik dengan
>> kata2, orasi, pernyataan2....kalo itu sih, nenek nenek juga bisa, tapi
>> ya dikasih contoh. Pemimpin sendiri seharusnya memulainya dari dalam
>> diri mereka masing2, kemudian memberi contoh dan mengarahkan para
>> pengikutnya.
>>
>> Kalau ini bisa dilaksanakan, Insya Allah kekuatiran kita ndak akan
>> terjadi. Tapi kok untuk melaksanakannya itu yang kelihatannya agak
>> susah...au ah...elap..namanya juga cuman oret oret.

Kirim email ke