> >Semua juga sudah tahu kalau jabatan menteri adalah jabatan
> >politis. Semua orang juga sudah tahu kalau harusnya menteri
> >boleh kampanye. Tetapi kayaknya cuma dia yang nggak tahu
> >kalau rakyat masih terbayang-bayang pengalaman pemilu di
> >masa lalu.
>
> Yw: Enggak juga. Maybe he's stupid, but not that stupid, lah.
Hehe.... justru krn dia nggak stupid saya jadi penasaran kok
ngototnya sampe nge-den, entar keluar ampasnya tahu rasa...
Mungkin bener Bung Dodo kalau buku catatannya kecuci.
> >Oya, kenapa bola dilempar BJH ke MA ya? Apa biar lolos dari
> >ancaman Akbar bahwa Golkar hendak mencabut dukungan thd
> >BJH bila BJH menyuruh menteri tidak kampanye?
>
> Yw: He, he, he... (Ketawa saya ini rasanya udah cukup
> menjawab DENGAN TEPAT, pertanyaan di atas).
Ya lumayan kalau gagal jadi pres bisa jadi pemain nasinal volley.
Khusus yg bagian ngumpan bola.
> >Pertanyaan terakhir, seberapa besar sih pengaruh perolehan
> >suara oleh kampanye Akbar? Apa AT akan kehilangan sesuatu
> >bila dia tidak kampanye?
>
> Yw: Seberapa besar sih, pengaruh iklan larutan penyegar
> cap kaki tiga di tivi thd tingkat penjualannya.
> Lumayan juga. If he is smart, he can make some
> differences, I think (artinya tuh, ya: yg semula
> cuma bisa dapet 1% suara, gara-gara Akbar kampanye
> jadi meningkat menjadi 2%! Peningkatan 100%, ha,
> ha, ha...). And for him, that maybe big enough.
> Iya nggak?
Hehe.... teh bisa beli 100 perak...... Jawabannya nggak bener Bung Dodo.
Yang bener, kalau kampanye bakal deket-deket sama artis. Lumayan
dapet satu dua senggol. Makanya rugi berat kalau nggak jadi jurkam.
Aduh...kehilangan kesempatan buat nonton kampanye. Soalnya sering
lucu sih. Dulu ada jurkam bilang kenapa John Travolta dansa di Saturday
Night Fever nunjuk pake satu jari, karena dia fans PPP. Mangkanya dia
nggak nunjuk 2 jari. Kyai Waras Pungkas juga punya cerita singkatan
GOLKAR dulu adalah "Golek Ongko Loro Kae Akeh Rejekine".
Kok nanyanya nggak pake "iya atau nggak" sih? Aku mau milih 'atau' je...
Soalnya dengan reputasi yg turun drastis akibat ngotot, AT ikut
berkampanye atau tidak rasanya nggak berpengaruh banyak thd
peroleh suara.
Eh, itu bener nggak sih kalo dapat kurang dari 10 suara lalu nggak
boleh ikut pemilu lagi? Baca di mana? Soalnya entar jadi kayak seleksi
alam. Bisa-bisa 5 tahun lagi cuman ada 10 parpol.
Ngomong-ngomong mungkin enak kalau pemilu 4 tahun sekali aja ya?
Biar cepet ganti presiden. Kan kasihan...banyak yg pengen jadi prez sih.
Tapi nanti PELITA (pembangunan lima tahun) berubah menjadi
PEEMTA (4 tahun).....jelek ah... atau PEPATA...not bad....
Kalau dagang Turn Over tinggi kan bagus. Udah deh usulin 4 tahun aja.
Salam,
Jaya
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)