Assalamualaikum Wr.Wb
Izinkanlah saya menaggapi komentar bung Panut Wirata dibawah ini.
berhububg cukup banyak yang akan saya sampaikan, maka tulisan saya ini
dibagi menjadi 2 bagian
selamat membaca......:)
Wassalam
Mohamad Rosadi
Panut Wirata wrote:
>Bung Mohammad Rosadi Yth:
> Saya kira pernyataan Anda: ".......keserakahan dan keangkuhan
>para konglomerat yang mayoritas etnis tionghoa,yang telah
>memporak-porandakan perekonomian Indonesia dan memiskinkan rakyat"
>perlu dipikirkan keabsahannya. Apakah benar krisis ekonomi Indonesia
>ini disebabkan hanya oleh konglomerat keturunan cina.
Bung Panut Wirata Yth juga...:),
Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa TIDAK ADA tulisan saya yang
menyebutkan konglomerat keturunan cina sebagai penyebab krisis ekonomi
di Indonesia(itu hanya dugaan anda saja). Namun saya setuju jika
dikatakan para konglomerat keturunan ini mempunyai andil yang SANGAT
BESAR bagi terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Berikut, saya uraikan
apa saja kontribusi mereka bagi terjadinya krisis ekonomi di tanah air.
1.Menguasai dan memonopoli perekonomian di Indonesia.
Berbekal "hubungan baik" dengan para pejabat pemerintahan(termasuk
dengan keluarga mantan presiden Soeharto), mereka banyak mendapatkan
kemudahan dan fasilitas dalam berbisnis, sehingga usaha mereka makin
hari makin besar. Hampir semua sektor usaha/bisnis mereka
kuasai,mulai dari pertanian,kehutanan,industri,perbankan,dsb.Tidak
ada tempat bagi para pengusaha menengah dan kecil untuk bersaing
dengan mereka, karena semua sudah mereka kuasai,mulai dari jalur
distribusi barang,hak monopoli,hingga pada penentuan harga(price
maker). Dalam hal ini tentu kita tidak bisa menyalahkan 100% kepada
konglomerat keturunan ini, tapi kita juga tidak bisa menutup mata
akan peran mereka sebagai PEMAIN UTAMA dalam PENGUASAAN dan MONOPOLI
perekonomian di Indonesia.
2. Debitur(penghutang) nomor Wahid.
Dalam menjalankan bisnisnya, para konglomerat keturunan ini sangat
tergantung pada pinjaman modal dari dalam maupun dari luar negeri.
namun celakanya cara-cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan
modal ini tidak selalu dengan cara yang BENAR.Dan kalaulah modal
sudah didapat, maka TIDAK digunakan sepenuhnya untuk kegiatan
bisnisnya.Sekedar tambahan, menurut data yang berhasil saya
kumpulkan,hutang Luar Negeri(LN)pihak swasta(mayoritas dari
konglomerat keturunan hingga maret 1998 tercatat) berkisar antara
80-100 milyar US dollar..., jauh diatas hutang LN pemerintah yang
berjumlah sekitar 60 US dollar.
*PINJAMAN DALAM NEGERI
Berasal dari bank-bank komersial swasta maupun pemerintah. Modal
yang didapat dari bank-bank swasta,biasanya berasal dari bank
yang dimiliki para konglomerat keturunan ini(masih dalam satu
kelompok usaha). Sudah merupakan hal yang lumrah bagi bank-bank
swasta yang mereka kuasai untuk mengucurkan sebagian besar dana
yang dimilikinya kepada kelompok-kelompok usahanya
sendiri,walaupun hal itu jelas melanggar "LEGAL LENDING LIMIT"
yang ditetapkan oleh bank Indonesia. Akibatnya pengusaha-pengusaha
menengah dan kecil(termasuk dari etnis tionghoa) yang seharusnya
lebih diprioritaskan mendapat bantuan kredit, tidak dapat
memperoleh modal usaha dari bank tersebut. Padahal sebagian besar
dana yang masuk kedalam bank-bank swasta itu berasal dari dana
tabungan rakyat/masyarakat kecil.Selain itu, pengucuran
sebagian besar kredit bank swasta ini kepada kelompok-kelompok
yang masih ada hubungan "darah' ini, TIDAK melalui seleksi ketat
dan studi kelayakan usaha yang cukup baik, sehingga seringkali
menimbulkan"KREDIT MACET"(gagal bisnis, tidak bisa mengembalikan
pinjaman)yang sebagian besar JUSTRU berasal dari kelompok usaha
para konglomerat keturunan ini.
Sementara itu, untuk mendapatkan kredit dari bank-bank pemerintah,
mereka seringkali memanfaatkan "POWER" pejabat pemerintah untuk
"menekan" bank yang bersangkutan(ingat kasus Edy Tansil yang
menggunakan "katabletje" dari Soedomo).
** PINJAMAN LUAR NEGERI
Selain meminjam dana dari dalam negeri, para konglomerat(yang
mayoritas etnis tionghoa)juga meminjam dana dari luar negeri dalam
bentuk mata uang asing(US dollar).Dengan memanfaatkan kelengahan BI
dalam mengawasi pinjaman luar negeri dan lemahnya peraturan(tentang
batas dan ketentuan pinjaman), maka masuklah dana dari luar negeri
(yang berupa pinjaman swasta itu )secara tidak terkontrol ke
Indonesia.Pinjaman dari luar negeri dianggap merupakan sumber
pendanaan yang potensial bagi usaha mereka,karena selain tingkat
bunga pinjaman cukup murah(sekitar 2%),syarat peminjamannyapun
tidak begitu sulit. Namun celakanya, ketika modal tersebut sudah
ada di tangan, TIDAK SELURUHNYA digunakan untuk menjalankan
kegiatan usahanya.Ada yang digunakan untuk bermain di pasar
VALAS(foreign Exchange market)yang penuh dengan spekulasi, dan ada
yang dimasukkan ke rekening pribadi mereka di bank-bank komersial
dengan memanfaatkan "INTEREST RATE ARBITRAGE"(Pinjam uang dari luar
negeri dalam US dollar dengan tingkat bunga pinjaman 2%,lalu
ditukar dalam rupiah dan di masukkan dalam deposito di dalam negeri
dengan tinggat bunga tabunga 20-22% kala itu, sehingga mereka
memperoleh keuntungan dari SELISIH tingkat suku bunga).
BAYANGKAN...., hanya dengan modal DENGKUL saja, mereka bisa kaya
raya, dengan meminjam dana dalam US dollar dengan tingkat bunga
rendah, dan memasukkannya dalam deposito Rupiah didalam negeri
dengan tingkat bunga yang cukup tinggi.
Ketika tiba waktunya untuk membayar pinjaman LN (yang tidak terkendali
dan TIDAK BENAR penggunaannya itu),terjadilah permintaan US dollar yang
sangat besar terhadap rupiah, yang membuat nilai rupiah
anjlok(terdepresiasi).
Para konglomerat pun menjadi resah, karena proyek-proyek bisnis
mereka kebanyakan berjangka panjang(belum memberikan hasil/profit
saat ini),sementara hutang luar negeri mereka kebanyakan jangka
pendek(yang harus segera dilunasi).Selain itu kebanyakan hutang-hutang
luar negeri para konglomerat ini tidak dilindungi dengan fasilitas
"HEDGING"(FORWARDD,SWAP,maupun OPTION),karena dianggap kurs rupiah akan
tetap stabil. sementara itu disisi lain dana pinjaman LN yang mereka
pakai untuk bermain VALAS juga sudah ludes akibat salah menganalisa
pasar.Sebagian dana pinjaman LN yang telah dirupiahkan dan ditaruh di
bank-bank dalam negeri tidak banyak berguna, karena tingkat depresiasi
rupiah yang terjadi jauh diatas tingkat bunga deposito sekalipun(jika
Rp2300 per dollar saat meminjam, terdepresiasi menjadi 11000 per-dollar
saat membayar, berarti hutang para konglomerat ini membengkak hingga
500% atau 5 kali lipat dari hutang awal). jangankan membayar hutang
pokoknya, membayar bunga pinjaman nya saja mereka sudah setengah mati
susahnya.
Nilai rupiah menjadi semakin anjlok terhadap US dollar, ketika para
spekulan pasar uang ikut bermain(seperti George Soros)ikut nimbrung
bermain dipasar VALAS. Maka sejak saat itu munculah suatu fenomena
yang kita kenal dengan KRISMON-B(KRISIS EKONOMI BO....:).
Akibat dari dari KRISMON-B ini, maka munculah dampak yang
beruntun(DOMINO EFFECT) di segala sektor di Indonesia. Di sektor
ekonomi misalnya, akibat perekonomian berorientasi pada KONGLOMERAT dan
MONOPOLI, membuat banyak perusahaan besar bankrut karena tidak dapat
membayar hutang-hutangnya(terutama hutang luar negeri), dan membuat roda
perekonomian seakan terhenti.PHK terjadi dimana-mana,pengadaan serta
distribusi barang terganggu dan harga-harga melonjak tidak karuan,
karena sektor perdagangan selama ini dikuasai oleh suatu kelompok
tertentu saja(MONOPOLI).Daya beli masyarakat menurun tajam,karena adanya
Inflasi yang demikian tinggi(pernah mencapai 85%-90%)sementara
pendapatan masyarakat tetap atau bahkan menurun.Kemiskinan merebak
dimana-mana.fenomena ini dikenal dengan KRISIS EKONOMI .
Rakyat kecil yang selama ini yang SANGAT SEDIKIT merasakan hasil
perekonomian dan selalu TERABAIKAN dan dari kebijakan ekonomi pemerintah
ORBA, menjadi pihak yang paling menderita akibat krisis ekonomi ini.
Tetapi Allah itu Maha Adil..., disaat para konglomerat besar(yang paling
banyak menikmati hasil pembangunan)dilanda kesulitan dan terancam
bangkrut usahanya, JUSTRU industri kecil yang dikelola pengusaha
menengah kebawah(rakyat kecil) masih tetap dapat bertahan, dan malah
menjadi penyerap tenaga kerja yang cukup banyak di saat krisis seperti
saat ini. Selain karena usaha mereka yang berorientasi EKSPOR,usaha
mereka kebanyakan hanya dibiayai dengan pinjaman dari koperasi dan
pemerintah yang jumlahnya relatif kecil.Makanya saya menilai kebijakan
pak Adi Sasono yang mengucurkan kredit yang sangat besar bagi pengusaha
menengah kebawah untuk membiayai usaha mereka adalah suatu langkah yang
SANGAT TEPAT. Perekonomian yang berbasis kerakyatan telah terbukti mampu
bertahan dari krisis ekonomi yang maha hebat sekalipun,dan memberikan
kontribusi yang sangat besar bagi bangsa dan negara Indonesia.Sudah
seharusnyalah rakyat menjadi PELAKU UTAMA dalam perekonomian di
Indonesia(Konglomerat bagi saya tidak termasuk rakyat). Kebijakan
pembangunan ekonomi HARUS menempatkan rakyat di POSISI TERATAS dalam
menjalankan perekonomian negara.
Saya sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati atas suara-suara
sumbang yang kurang mendukung langkah-langkah pak Adi Sasono dalam
memeberdayakan ekonomi rakyat,dan malah menjadi pembela KONGLOMERAT
keturunan tidak pada tempatnya(Pahlawan KESIANGAN) . Adakah mereka itu
sekedar tidak mengerti(karena tidak punya pengetahuan), ataukah ada
maksud dan kepentingan tertentu dibalik suara-suara sumbang itu???
Wallahu 'alalm bishowab.
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com