Aloo bung Ichwan ...,

Sabar dulu ya..., Tulisan saya yang anda baca itu kan baru bagian
PERTAMA(Bag-I). Nanti setelah anda membaca bagian keduanya, mungkin anda
baru mengerti maksud saya.

Salam

Mohamad Rosadi
Virginia






>From [EMAIL PROTECTED] Wed Jan 06 18:09:01 1999
>Received: from [128.230.20.20] by hotmail.com (1.0) with SMTP id
MHotMail3093127714978303506532495216256206834023; Wed Jan 06 18:09:01
1999
>Received: from mailer (128.230.20.20) by mailer.syr.edu (LSMTP for
Windows NT v1.1a) with SMTP id <[EMAIL PROTECTED]>; Wed, 6 Jan
1999 21:09:41 -0500
>Received: from LISTSERV.SYR.EDU by LISTSERV.SYR.EDU (LISTSERV-TCP/IP
release
>          1.8c) with spool id 538786 for [EMAIL PROTECTED]; Wed,
6 Jan
>          1999 21:09:34 -0500
>Received: from willamette.cbn.net.id by listserv.syr.edu (LSMTP Lite
for
>          Windows NT v1.1a) with SMTP id <[EMAIL PROTECTED]>;
Wed, 6
>          Jan 1999 21:09:31 -0500
>Received: (qmail 6357 invoked from network); 7 Jan 1999 02:13:24 -0000
>Received: from ip28-193.cbn.net.id (HELO ichwanr) (202.158.28.193) by
>          willamette.cbn.net.id with SMTP; 7 Jan 1999 02:13:24 -0000
>MIME-Version: 1.0
>Content-Type: text/plain; charset="iso-8859-1"
>Content-Transfer-Encoding: 7bit
>X-Priority: 3
>X-MSMail-Priority: Normal
>X-Mailer: Microsoft Outlook Express 4.72.2106.4
>X-MimeOLE: Produced By Microsoft MimeOLE V4.72.2106.4
>Message-ID:  <005e01be39e2$b7067b40$53089eca@ichwanr>
>Date:         Thu, 7 Jan 1999 09:00:19 +0700
>Reply-To:     Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>Sender:       Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>From:         Ichwan Ramli <[EMAIL PROTECTED]>
>Subject:      Re: Racist (Tanggapan buat bung Panut-bag I)
>To:           [EMAIL PROTECTED]
>
>Bung Rosadi,
>
>Saya ingin ikut nimbrung nich. Karena saya fikir kita perlu fair dalam
>menilai keadaan. Kita tidak seharusnya terperangkap dalam prototype
yang
>menyesatkan. Memang ada banyak pengusaha Tionghoa yang bajingan, tapi
juga
>banyak pengusaha Tiongkoa yang berintegritas, memulai usahanya dgn
>mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit. Ada banyak juga keturunan
>Tionghoa yang berjuang untuk kejayaan bangsa Indonesia, Rudy Hartono,
Susi
>Susanti, Prof Ong Hok Kam, Thee Kian Wee dlsb.
>
>mengenai utang swasta kita juga perlu proporsional. menurut data yang
saya
>ketahui komposisinya adalah sbb. ;
>
>Utang pemerintah                                                 : US$
54
>Milyard
>Utang BUMN & Bank yang ditanggung pemerintah  : US$ 12 Milyard
>Utang PMA                                                         : US
$ 40
>Milyard
>Utang Swasta Indonesia ( Pri dan Non-pri)             : US$ 28 Milyard
>        TOTAL                                    :     US $ 134 Milyard
>
>salam,
>
>
>
>-----Original Message-----
>From: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
>Date: 07 Januari 1999 5:28
>Subject: Re: Racist (Tanggapan buat bung Panut-bag I)
>
>
>>
>>Panut Wirata wrote:
>>
>>>Bung Mohammad Rosadi Yth:
>>>     Saya kira pernyataan Anda: ".......keserakahan dan keangkuhan
>>>para konglomerat yang mayoritas etnis tionghoa,yang telah
>>>memporak-porandakan perekonomian Indonesia dan memiskinkan rakyat"
>>>perlu dipikirkan keabsahannya.  Apakah benar krisis ekonomi Indonesia
>>>ini disebabkan hanya oleh konglomerat keturunan cina.
>>
>>Bung Panut Wirata Yth juga...:),
>>Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa TIDAK ADA tulisan saya yang
>>menyebutkan konglomerat keturunan cina sebagai penyebab krisis ekonomi
>>di Indonesia(itu hanya dugaan anda saja). Namun saya setuju jika
>>dikatakan para konglomerat keturunan ini mempunyai andil yang SANGAT
>>BESAR bagi terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Berikut, saya
uraikan
>>apa saja kontribusi mereka bagi terjadinya krisis ekonomi di tanah
air.
>>
>>1.Menguasai dan memonopoli perekonomian di Indonesia.
>>  Berbekal "hubungan baik" dengan para pejabat pemerintahan(termasuk
>>dengan keluarga mantan presiden Soeharto), mereka banyak mendapatkan
>>kemudahan dan fasilitas dalam berbisnis, sehingga usaha mereka makin
>>hari makin besar. Hampir semua sektor usaha/bisnis mereka
>>kuasai,mulai dari pertanian,kehutanan,industri,perbankan,dsb.Tidak
>>ada tempat bagi para pengusaha menengah dan kecil untuk bersaing
>>dengan mereka, karena semua sudah mereka kuasai,mulai dari jalur
>>distribusi barang,hak monopoli,hingga pada penentuan harga(price
>>maker). Dalam hal ini tentu kita tidak bisa menyalahkan 100% kepada
>>konglomerat keturunan ini, tapi kita juga tidak bisa menutup mata
>>akan peran mereka sebagai PEMAIN UTAMA dalam PENGUASAAN dan MONOPOLI
>>  perekonomian di Indonesia.
>>
>>2. Debitur(penghutang) nomor Wahid.
>>   Dalam menjalankan bisnisnya, para konglomerat keturunan ini sangat
>>   tergantung pada pinjaman modal dari dalam maupun dari luar negeri.
>>namun celakanya cara-cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan
>>modal ini tidak selalu dengan cara yang BENAR.Dan kalaulah modal
>>sudah didapat, maka TIDAK digunakan sepenuhnya untuk kegiatan
>>bisnisnya.Sekedar tambahan, menurut data yang berhasil saya
>>kumpulkan,hutang Luar Negeri(LN)pihak swasta(mayoritas dari
>>konglomerat keturunan hingga maret 1998 tercatat) berkisar antara
>>80-100 milyar US dollar..., jauh diatas hutang LN pemerintah yang
>>berjumlah sekitar 60 US dollar.
>>
>>
>>  *PINJAMAN DALAM NEGERI
>>  Berasal dari bank-bank komersial swasta maupun pemerintah. Modal
>>yang didapat dari bank-bank swasta,biasanya berasal dari bank
>>yang dimiliki para konglomerat keturunan ini(masih dalam satu
>>kelompok usaha). Sudah merupakan hal yang lumrah bagi bank-bank
>>swasta yang mereka kuasai untuk mengucurkan sebagian besar dana
>>yang dimilikinya kepada kelompok-kelompok usahanya
>>sendiri,walaupun hal itu jelas melanggar "LEGAL LENDING LIMIT"
>>yang ditetapkan oleh bank Indonesia. Akibatnya pengusaha-pengusaha
>>menengah dan kecil(termasuk dari etnis tionghoa) yang seharusnya
>>lebih diprioritaskan mendapat bantuan kredit, tidak dapat
>>memperoleh modal usaha dari bank tersebut. Padahal sebagian besar
>>dana yang masuk kedalam bank-bank swasta itu berasal dari dana
>>tabungan    rakyat/masyarakat kecil.Selain itu, pengucuran
>>sebagian besar kredit bank swasta ini kepada kelompok-kelompok
>>yang masih ada hubungan "darah' ini, TIDAK melalui seleksi ketat
>>dan studi kelayakan usaha yang cukup baik, sehingga seringkali
>>menimbulkan"KREDIT MACET"(gagal bisnis, tidak bisa mengembalikan
>>pinjaman)yang sebagian besar JUSTRU berasal dari kelompok usaha
>>para konglomerat keturunan ini.
>>  Sementara itu, untuk mendapatkan kredit dari bank-bank pemerintah,
>>mereka seringkali memanfaatkan "POWER" pejabat pemerintah untuk
>>"menekan" bank yang bersangkutan(ingat kasus Edy Tansil yang
>>menggunakan "katabletje" dari Soedomo).
>>
>>** PINJAMAN LUAR NEGERI
>>   Selain meminjam dana dari dalam negeri, para konglomerat(yang
>>mayoritas etnis tionghoa)juga meminjam dana dari luar negeri dalam
>>bentuk mata uang asing(US dollar).Dengan memanfaatkan kelengahan BI
>>dalam mengawasi pinjaman luar negeri dan lemahnya peraturan(tentang
>>batas dan ketentuan pinjaman), maka masuklah dana dari luar negeri
>>(yang berupa pinjaman swasta itu )secara tidak terkontrol ke
>>Indonesia.Pinjaman dari luar negeri dianggap merupakan sumber
>>pendanaan yang potensial bagi usaha mereka,karena selain tingkat
>>bunga pinjaman cukup murah(sekitar 2%),syarat peminjamannyapun
>>tidak begitu sulit. Namun celakanya, ketika modal tersebut sudah
>>ada di tangan, TIDAK SELURUHNYA digunakan untuk menjalankan
>>kegiatan usahanya.Ada yang digunakan untuk bermain di pasar
>>VALAS(foreign Exchange market)yang penuh dengan spekulasi, dan ada
>>yang dimasukkan ke rekening pribadi mereka di bank-bank komersial
>>dengan memanfaatkan "INTEREST RATE ARBITRAGE"(Pinjam uang dari luar
>>negeri dalam US dollar dengan tingkat bunga pinjaman 2%,lalu
>>ditukar dalam rupiah dan di masukkan dalam deposito di dalam negeri
>>dengan tinggat bunga tabunga 20-22% kala itu, sehingga    mereka
>>memperoleh keuntungan dari SELISIH tingkat suku    bunga).
>>BAYANGKAN...., hanya dengan modal DENGKUL saja, mereka bisa kaya
>>raya, dengan meminjam dana dalam US dollar dengan tingkat bunga
>>rendah, dan memasukkannya dalam deposito Rupiah didalam negeri
>>dengan tingkat bunga yang cukup tinggi.
>>
>> Ketika tiba waktunya untuk membayar pinjaman LN (yang tidak
terkendali
>>dan TIDAK BENAR penggunaannya itu),terjadilah permintaan US dollar
yang
>>sangat besar terhadap rupiah, yang membuat nilai rupiah
>>anjlok(terdepresiasi).
>>Para konglomerat pun menjadi resah, karena proyek-proyek bisnis
>>mereka kebanyakan berjangka panjang(belum memberikan    hasil/profit
>>saat ini),sementara hutang luar negeri mereka kebanyakan jangka
>>pendek(yang harus segera dilunasi).Selain itu kebanyakan hutang-hutang
>>luar negeri para konglomerat ini tidak dilindungi dengan fasilitas
>>"HEDGING"(FORWARDD,SWAP,maupun OPTION),karena dianggap kurs rupiah
akan
>>tetap stabil. sementara itu disisi lain dana pinjaman LN yang mereka
>>pakai untuk bermain VALAS juga sudah ludes akibat salah menganalisa
>>pasar.Sebagian dana pinjaman LN yang telah dirupiahkan dan ditaruh di
>>bank-bank dalam negeri tidak banyak berguna, karena tingkat depresiasi
>>rupiah yang terjadi jauh diatas tingkat bunga deposito sekalipun(jika
>>Rp2300 per dollar saat meminjam, terdepresiasi menjadi 11000
per-dollar
>>saat membayar, berarti hutang para konglomerat ini   membengkak
hingga
>>500% atau 5 kali lipat dari hutang awal).      jangankan membayar
hutang
>>pokoknya, membayar bunga pinjaman nya    saja mereka sudah setengah
mati
>>susahnya.
>>Nilai rupiah menjadi semakin anjlok terhadap US dollar, ketika para
>>spekulan pasar uang ikut bermain(seperti George Soros)ikut nimbrung
>>bermain dipasar VALAS. Maka sejak saat itu munculah suatu fenomena
>>yang kita kenal dengan KRISMON-B(KRISIS EKONOMI BO....:).
>>
>> Akibat dari dari KRISMON-B ini, maka munculah dampak yang
>>beruntun(DOMINO EFFECT) di segala sektor di Indonesia. Di sektor
>>ekonomi misalnya, akibat perekonomian berorientasi pada KONGLOMERAT
dan
>>MONOPOLI, membuat banyak perusahaan besar bankrut karena tidak dapat
>>membayar hutang-hutangnya(terutama hutang luar negeri), dan membuat
roda
>>perekonomian seakan terhenti.PHK terjadi dimana-mana,pengadaan serta
>>distribusi barang terganggu dan harga-harga melonjak tidak karuan,
>>karena sektor perdagangan selama ini dikuasai oleh suatu kelompok
>>tertentu saja(MONOPOLI).Daya beli masyarakat menurun tajam,karena
adanya
>>Inflasi yang demikian tinggi(pernah mencapai 85%-90%)sementara
>>pendapatan masyarakat tetap atau bahkan menurun.Kemiskinan merebak
>>dimana-mana.fenomena ini dikenal dengan KRISIS EKONOMI .
>>Rakyat kecil yang selama ini yang SANGAT SEDIKIT merasakan hasil
>>perekonomian dan selalu TERABAIKAN dan dari kebijakan ekonomi
pemerintah
>>ORBA, menjadi pihak yang paling menderita akibat krisis ekonomi ini.
>>Tetapi Allah itu Maha Adil..., disaat para konglomerat besar(yang
paling
>>banyak menikmati hasil pembangunan)dilanda kesulitan dan terancam
>>bangkrut usahanya, JUSTRU industri kecil yang dikelola pengusaha
>>menengah kebawah(rakyat kecil) masih tetap dapat bertahan, dan malah
>>menjadi penyerap tenaga kerja yang cukup banyak di saat krisis seperti
>>saat ini. Selain karena usaha mereka yang berorientasi EKSPOR,usaha
>>mereka kebanyakan hanya dibiayai dengan pinjaman dari koperasi dan
>>pemerintah yang jumlahnya relatif kecil.Makanya saya menilai kebijakan
>>pak Adi Sasono yang mengucurkan kredit yang sangat besar bagi
pengusaha
>>menengah kebawah untuk membiayai usaha mereka adalah suatu langkah
yang
>>SANGAT TEPAT. Perekonomian yang berbasis kerakyatan telah terbukti
mampu
>>bertahan dari krisis ekonomi yang maha hebat sekalipun,dan memberikan
>>kontribusi yang sangat besar bagi bangsa dan negara Indonesia.Sudah
>>seharusnyalah rakyat menjadi PELAKU UTAMA dalam perekonomian di
>>Indonesia(Konglomerat bagi saya tidak termasuk rakyat). Kebijakan
>>pembangunan ekonomi HARUS menempatkan rakyat di POSISI TERATAS dalam
>>menjalankan perekonomian negara.
>>Saya sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati atas suara-suara
>>sumbang yang kurang mendukung langkah-langkah pak Adi Sasono dalam
>>memeberdayakan ekonomi rakyat,dan malah menjadi pembela KONGLOMERAT
>>keturunan tidak pada tempatnya(Pahlawan KESIANGAN) . Adakah mereka itu
>>sekedar tidak mengerti(karena tidak punya pengetahuan), ataukah ada
>>maksud dan kepentingan tertentu dibalik suara-suara sumbang itu???
>>Wallahu 'alalm bishowab.
>>
>>
>>
>>
>>______________________________________________________
>>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>>


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke