Lagian kenapa kalau ada umpatan atau pendapat yang menyalahkan/memojokkan
"konglomerat", koq ya umumnya kaum tionghoa jadi reaktif. Terus kalau ada
yang bilang, "kita harus mendahulukan 'rakyat kecil'", lalu mereka protes
menuntut persamaan hak/prioritas.

Dan menurut saya (hampir semua) Konglomerat memang bangsat!!!!!!!, ada yang
sakit hati?

Salam,
Alvian M

PS:
Istri yang saya cintai (tionghoa), mertua, Oom (in law) & inlaw-inlaw yang
lain, rata-rata menunjukkan gejala yang sama, mudah tersinggung kalau
konglomerat dihujat. Padahal mereka ini (keluarga saya) termasuk cina
melarat, sungguh!

-----Original Message-----
From: Ichwan Ramli [mailto:[EMAIL PROTECTED]]
Sent: Thursday, January 07, 1999 10:00 AM
To: [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Racist (Tanggapan buat bung Panut-bag I)


Bung Rosadi,

Saya ingin ikut nimbrung nich. Karena saya fikir kita perlu fair dalam
menilai keadaan. Kita tidak seharusnya terperangkap dalam prototype yang
menyesatkan. Memang ada banyak pengusaha Tionghoa yang bajingan, tapi juga
banyak pengusaha Tiongkoa yang berintegritas, memulai usahanya dgn
mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit. Ada banyak juga keturunan
Tionghoa yang berjuang untuk kejayaan bangsa Indonesia, Rudy Hartono, Susi
Susanti, Prof Ong Hok Kam, Thee Kian Wee dlsb.

mengenai utang swasta kita juga perlu proporsional. menurut data yang saya
ketahui komposisinya adalah sbb. ;

Utang pemerintah                                                 : US$ 54
Milyard
Utang BUMN & Bank yang ditanggung pemerintah  : US$ 12 Milyard
Utang PMA                                                         : US $ 40
Milyard
Utang Swasta Indonesia ( Pri dan Non-pri)             : US$ 28 Milyard
        TOTAL                                    :     US $ 134 Milyard

salam,



-----Original Message-----
From: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 07 Januari 1999 5:28
Subject: Re: Racist (Tanggapan buat bung Panut-bag I)


>
>Panut Wirata wrote:
>

Kirim email ke