Bung Rosadi,
Saya ingin ikut nimbrung nich. Karena saya fikir kita perlu fair dalam
menilai keadaan. Kita tidak seharusnya terperangkap dalam prototype yang
menyesatkan. Memang ada banyak pengusaha Tionghoa yang bajingan, tapi juga
banyak pengusaha Tiongkoa yang berintegritas, memulai usahanya dgn
mengumpulkan keuntungan sedikit demi sedikit. Ada banyak juga keturunan
Tionghoa yang berjuang untuk kejayaan bangsa Indonesia, Rudy Hartono, Susi
Susanti, Prof Ong Hok Kam, Thee Kian Wee dlsb.
mengenai utang swasta kita juga perlu proporsional. menurut data yang saya
ketahui komposisinya adalah sbb. ;
Utang pemerintah : US$ 54
Milyard
Utang BUMN & Bank yang ditanggung pemerintah : US$ 12 Milyard
Utang PMA : US $ 40
Milyard
Utang Swasta Indonesia ( Pri dan Non-pri) : US$ 28 Milyard
TOTAL : US $ 134 Milyard
salam,
-----Original Message-----
From: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 07 Januari 1999 5:28
Subject: Re: Racist (Tanggapan buat bung Panut-bag I)
>
>Panut Wirata wrote:
>
>>Bung Mohammad Rosadi Yth:
>> Saya kira pernyataan Anda: ".......keserakahan dan keangkuhan
>>para konglomerat yang mayoritas etnis tionghoa,yang telah
>>memporak-porandakan perekonomian Indonesia dan memiskinkan rakyat"
>>perlu dipikirkan keabsahannya. Apakah benar krisis ekonomi Indonesia
>>ini disebabkan hanya oleh konglomerat keturunan cina.
>
>Bung Panut Wirata Yth juga...:),
>Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa TIDAK ADA tulisan saya yang
>menyebutkan konglomerat keturunan cina sebagai penyebab krisis ekonomi
>di Indonesia(itu hanya dugaan anda saja). Namun saya setuju jika
>dikatakan para konglomerat keturunan ini mempunyai andil yang SANGAT
>BESAR bagi terjadinya krisis ekonomi di Indonesia. Berikut, saya uraikan
>apa saja kontribusi mereka bagi terjadinya krisis ekonomi di tanah air.
>
>1.Menguasai dan memonopoli perekonomian di Indonesia.
> Berbekal "hubungan baik" dengan para pejabat pemerintahan(termasuk
>dengan keluarga mantan presiden Soeharto), mereka banyak mendapatkan
>kemudahan dan fasilitas dalam berbisnis, sehingga usaha mereka makin
>hari makin besar. Hampir semua sektor usaha/bisnis mereka
>kuasai,mulai dari pertanian,kehutanan,industri,perbankan,dsb.Tidak
>ada tempat bagi para pengusaha menengah dan kecil untuk bersaing
>dengan mereka, karena semua sudah mereka kuasai,mulai dari jalur
>distribusi barang,hak monopoli,hingga pada penentuan harga(price
>maker). Dalam hal ini tentu kita tidak bisa menyalahkan 100% kepada
>konglomerat keturunan ini, tapi kita juga tidak bisa menutup mata
>akan peran mereka sebagai PEMAIN UTAMA dalam PENGUASAAN dan MONOPOLI
> perekonomian di Indonesia.
>
>2. Debitur(penghutang) nomor Wahid.
> Dalam menjalankan bisnisnya, para konglomerat keturunan ini sangat
> tergantung pada pinjaman modal dari dalam maupun dari luar negeri.
>namun celakanya cara-cara yang mereka lakukan untuk mendapatkan
>modal ini tidak selalu dengan cara yang BENAR.Dan kalaulah modal
>sudah didapat, maka TIDAK digunakan sepenuhnya untuk kegiatan
>bisnisnya.Sekedar tambahan, menurut data yang berhasil saya
>kumpulkan,hutang Luar Negeri(LN)pihak swasta(mayoritas dari
>konglomerat keturunan hingga maret 1998 tercatat) berkisar antara
>80-100 milyar US dollar..., jauh diatas hutang LN pemerintah yang
>berjumlah sekitar 60 US dollar.
>
>
> *PINJAMAN DALAM NEGERI
> Berasal dari bank-bank komersial swasta maupun pemerintah. Modal
>yang didapat dari bank-bank swasta,biasanya berasal dari bank
>yang dimiliki para konglomerat keturunan ini(masih dalam satu
>kelompok usaha). Sudah merupakan hal yang lumrah bagi bank-bank
>swasta yang mereka kuasai untuk mengucurkan sebagian besar dana
>yang dimilikinya kepada kelompok-kelompok usahanya
>sendiri,walaupun hal itu jelas melanggar "LEGAL LENDING LIMIT"
>yang ditetapkan oleh bank Indonesia. Akibatnya pengusaha-pengusaha
>menengah dan kecil(termasuk dari etnis tionghoa) yang seharusnya
>lebih diprioritaskan mendapat bantuan kredit, tidak dapat
>memperoleh modal usaha dari bank tersebut. Padahal sebagian besar
>dana yang masuk kedalam bank-bank swasta itu berasal dari dana
>tabungan rakyat/masyarakat kecil.Selain itu, pengucuran
>sebagian besar kredit bank swasta ini kepada kelompok-kelompok
>yang masih ada hubungan "darah' ini, TIDAK melalui seleksi ketat
>dan studi kelayakan usaha yang cukup baik, sehingga seringkali
>menimbulkan"KREDIT MACET"(gagal bisnis, tidak bisa mengembalikan
>pinjaman)yang sebagian besar JUSTRU berasal dari kelompok usaha
>para konglomerat keturunan ini.
> Sementara itu, untuk mendapatkan kredit dari bank-bank pemerintah,
>mereka seringkali memanfaatkan "POWER" pejabat pemerintah untuk
>"menekan" bank yang bersangkutan(ingat kasus Edy Tansil yang
>menggunakan "katabletje" dari Soedomo).
>
>** PINJAMAN LUAR NEGERI
> Selain meminjam dana dari dalam negeri, para konglomerat(yang
>mayoritas etnis tionghoa)juga meminjam dana dari luar negeri dalam
>bentuk mata uang asing(US dollar).Dengan memanfaatkan kelengahan BI
>dalam mengawasi pinjaman luar negeri dan lemahnya peraturan(tentang
>batas dan ketentuan pinjaman), maka masuklah dana dari luar negeri
>(yang berupa pinjaman swasta itu )secara tidak terkontrol ke
>Indonesia.Pinjaman dari luar negeri dianggap merupakan sumber
>pendanaan yang potensial bagi usaha mereka,karena selain tingkat
>bunga pinjaman cukup murah(sekitar 2%),syarat peminjamannyapun
>tidak begitu sulit. Namun celakanya, ketika modal tersebut sudah
>ada di tangan, TIDAK SELURUHNYA digunakan untuk menjalankan
>kegiatan usahanya.Ada yang digunakan untuk bermain di pasar
>VALAS(foreign Exchange market)yang penuh dengan spekulasi, dan ada
>yang dimasukkan ke rekening pribadi mereka di bank-bank komersial
>dengan memanfaatkan "INTEREST RATE ARBITRAGE"(Pinjam uang dari luar
>negeri dalam US dollar dengan tingkat bunga pinjaman 2%,lalu
>ditukar dalam rupiah dan di masukkan dalam deposito di dalam negeri
>dengan tinggat bunga tabunga 20-22% kala itu, sehingga mereka
>memperoleh keuntungan dari SELISIH tingkat suku bunga).
>BAYANGKAN...., hanya dengan modal DENGKUL saja, mereka bisa kaya
>raya, dengan meminjam dana dalam US dollar dengan tingkat bunga
>rendah, dan memasukkannya dalam deposito Rupiah didalam negeri
>dengan tingkat bunga yang cukup tinggi.
>
> Ketika tiba waktunya untuk membayar pinjaman LN (yang tidak terkendali
>dan TIDAK BENAR penggunaannya itu),terjadilah permintaan US dollar yang
>sangat besar terhadap rupiah, yang membuat nilai rupiah
>anjlok(terdepresiasi).
>Para konglomerat pun menjadi resah, karena proyek-proyek bisnis
>mereka kebanyakan berjangka panjang(belum memberikan hasil/profit
>saat ini),sementara hutang luar negeri mereka kebanyakan jangka
>pendek(yang harus segera dilunasi).Selain itu kebanyakan hutang-hutang
>luar negeri para konglomerat ini tidak dilindungi dengan fasilitas
>"HEDGING"(FORWARDD,SWAP,maupun OPTION),karena dianggap kurs rupiah akan
>tetap stabil. sementara itu disisi lain dana pinjaman LN yang mereka
>pakai untuk bermain VALAS juga sudah ludes akibat salah menganalisa
>pasar.Sebagian dana pinjaman LN yang telah dirupiahkan dan ditaruh di
>bank-bank dalam negeri tidak banyak berguna, karena tingkat depresiasi
>rupiah yang terjadi jauh diatas tingkat bunga deposito sekalipun(jika
>Rp2300 per dollar saat meminjam, terdepresiasi menjadi 11000 per-dollar
>saat membayar, berarti hutang para konglomerat ini membengkak hingga
>500% atau 5 kali lipat dari hutang awal). jangankan membayar hutang
>pokoknya, membayar bunga pinjaman nya saja mereka sudah setengah mati
>susahnya.
>Nilai rupiah menjadi semakin anjlok terhadap US dollar, ketika para
>spekulan pasar uang ikut bermain(seperti George Soros)ikut nimbrung
>bermain dipasar VALAS. Maka sejak saat itu munculah suatu fenomena
>yang kita kenal dengan KRISMON-B(KRISIS EKONOMI BO....:).
>
> Akibat dari dari KRISMON-B ini, maka munculah dampak yang
>beruntun(DOMINO EFFECT) di segala sektor di Indonesia. Di sektor
>ekonomi misalnya, akibat perekonomian berorientasi pada KONGLOMERAT dan
>MONOPOLI, membuat banyak perusahaan besar bankrut karena tidak dapat
>membayar hutang-hutangnya(terutama hutang luar negeri), dan membuat roda
>perekonomian seakan terhenti.PHK terjadi dimana-mana,pengadaan serta
>distribusi barang terganggu dan harga-harga melonjak tidak karuan,
>karena sektor perdagangan selama ini dikuasai oleh suatu kelompok
>tertentu saja(MONOPOLI).Daya beli masyarakat menurun tajam,karena adanya
>Inflasi yang demikian tinggi(pernah mencapai 85%-90%)sementara
>pendapatan masyarakat tetap atau bahkan menurun.Kemiskinan merebak
>dimana-mana.fenomena ini dikenal dengan KRISIS EKONOMI .
>Rakyat kecil yang selama ini yang SANGAT SEDIKIT merasakan hasil
>perekonomian dan selalu TERABAIKAN dan dari kebijakan ekonomi pemerintah
>ORBA, menjadi pihak yang paling menderita akibat krisis ekonomi ini.
>Tetapi Allah itu Maha Adil..., disaat para konglomerat besar(yang paling
>banyak menikmati hasil pembangunan)dilanda kesulitan dan terancam
>bangkrut usahanya, JUSTRU industri kecil yang dikelola pengusaha
>menengah kebawah(rakyat kecil) masih tetap dapat bertahan, dan malah
>menjadi penyerap tenaga kerja yang cukup banyak di saat krisis seperti
>saat ini. Selain karena usaha mereka yang berorientasi EKSPOR,usaha
>mereka kebanyakan hanya dibiayai dengan pinjaman dari koperasi dan
>pemerintah yang jumlahnya relatif kecil.Makanya saya menilai kebijakan
>pak Adi Sasono yang mengucurkan kredit yang sangat besar bagi pengusaha
>menengah kebawah untuk membiayai usaha mereka adalah suatu langkah yang
>SANGAT TEPAT. Perekonomian yang berbasis kerakyatan telah terbukti mampu
>bertahan dari krisis ekonomi yang maha hebat sekalipun,dan memberikan
>kontribusi yang sangat besar bagi bangsa dan negara Indonesia.Sudah
>seharusnyalah rakyat menjadi PELAKU UTAMA dalam perekonomian di
>Indonesia(Konglomerat bagi saya tidak termasuk rakyat). Kebijakan
>pembangunan ekonomi HARUS menempatkan rakyat di POSISI TERATAS dalam
>menjalankan perekonomian negara.
>Saya sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati atas suara-suara
>sumbang yang kurang mendukung langkah-langkah pak Adi Sasono dalam
>memeberdayakan ekonomi rakyat,dan malah menjadi pembela KONGLOMERAT
>keturunan tidak pada tempatnya(Pahlawan KESIANGAN) . Adakah mereka itu
>sekedar tidak mengerti(karena tidak punya pengetahuan), ataukah ada
>maksud dan kepentingan tertentu dibalik suara-suara sumbang itu???
>Wallahu 'alalm bishowab.
>
>
>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com
>