Saya heran, kok rekan-rekan ini selalu dan seragam cuma konsider
Suharto dan keluarga sih? Saya pribadi juga mikir-mikir ke sana, tapi
nggak terus difokuskan ke sana terus. Entar artinya kita membutakan
diri dari kemungkinan lain.

Kalau menurut saya ya..... permainan politik sudah dimonopoli oleh
BJH, Akbar Tanjung, dan Adi Sasono. Sekarang gini, dari statement-
statement 2 orang terakhir, sudah menunjukkan sikap tidak perduli
dengan Suharto. Jadi mereka sekarang sadar bahwa mereka sudah
tidak di bawah Suharto lagi (Coba baca gimana mereka mencak-mencak
krn ancaman pengacara Suharto). Memang wajar dalam suasana
transisi kepemimpinan, bekas anak buah suka bingung mau mihak
mana. Apalagi bila antara bekas dan current prez mulai bertentangan
(dlm hal ini karena situasi, mungkin tadinya nggak bermaksud untuk
bertentangan). Biasanya sih yg current pejabat yg jadi pihak pemenang,
dalam artian anak buah ini akan loyal kepada pemimpin baru.
Kejadian gini nggak hanya terjadi di level presiden, pokoke setiap ganti
pimpinan juga selalu demikian.

Nah, mangkanya saya kok agak heran dengan arus dakwaan kepada
Suharto yg TERLALU deras. Jangan-jangan memang sengaja diarahkan.
Sorry, seperti biasa, ane selalu curiga dengan yg serba TERLALU.

Sekarang gini aje ya. Kalau anda tahu atasan anda kepepet, lalu
mutusin turun. Anda ditawari untuk nggantiin, dengan syarat melindungi
dia dan keluarga. Anda pasti okay dong. Urusan syarat biar belakangan.
Nah, setelah anda jadi atasan, para bawahan mendakwaa bekas atasan
melarikan uang perusahaan. Anda pasti kan sebisa-bisanya menutupi
kan? Tapi hal ini ada batasnya kan? Kalau tuntutan bawahan terlalu
deras, sehingga mengancam posisi anda sendiri, bagaimana sikap
anda? Pilih save your own butt atau belain bekas atasan. Anda pasti
mikir, kalaupun saya ingkar janji, bekas atasan nggak akan bisa
ngapa-ngapain.

Nah, itu alasan, atau pola pikir saya. Tentunya buat saya lebih meyakinkan
daripada versi Suharto berusaha menyetir kembali RI. Wah, dia pasti
mikir nggak akan mungkin. Orang bego juga pasti nyadar. Dan Suharto
orang yg cerdik, pasti tahu posisi lah.

Lalu bagaimana dengan pemilu? Wah, dari dulu saya beranggapan bahwa
pelaksanaan pemilu yg tergesa-gesa akan menguntungkan partai lama.
Mereka sudah siap prasarana. Tapi berhubung partai baru yakin, ya sudah.
Cuma ini nih...... kalau film detektif, pelaku kejahatan yg ingin menggagalkan
pemilu kan perlu motif. Mari kita observasi:
- Suharto: Apa iya dia memperoleh keuntungan bila pemilu diundur?
        Untungnya apa? Kalau pemerintahan BJH kalah, misal PAN menang?
        Lho kalaupun BJH menang, dia akan diusut. Ini sih keyakinan saya dg
        argumen di atas. BJH saat ini sudah bisa jadi dinasti baru. Nggak perlu
        berada di bawah bayang-bayang Suharto lagi. Dia sudah punya sayap
        sendiri untuk terbang......
- Partai-partai baru: Lho, mereka sudah berani kok.
- Kaum establishment: Ngapain mereka pengen mundur? Justru Golkar
        pasti ingin cepat-cepat dilaksanakan biar partai baru tidak terkonsolidasi
        secara sempurna. Justru itu BJH maksain pemilu bulan Juni ini kan?
Jadi siapa? Ya silakan tebak.....  ane juga binun kok...
Yang jelas, walaupun nggak menutup kemungkinan Suharto di balik ini,
buat ane sih kemungkinannya kecil.

Wah, mau diterusin kok udah mau jam tiga....tidur dulu ah.

Salam,
Jaya
--
               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)

Kirim email ke