Memang nyata telah terjadi pertentangan antara Suharto dengan Akbar, BJH, dan
lain-lain.

Suharto dongkol karena BJH dianggap kurang mampu memberikan perlindungan.
Suharto kira dia akan aman-aman saja menikmati pensiun.

Akbar juga punya agenda sendiri, karena dia harus habis-habisan mengganti
citra Partai Golkar. Perubahan citra ini memang agak membawa Suharto ke
pingggir.

BJH juga punya agenda sendiri, yaitu keinginannya untuk tetap menikmati
kekuasaan - persis seperti idamannya sejak kuliah dulu. Tentu kita ingat
betapa gemarnya BJH berpidato berapi-api di depan cermin tempat tinggalnya
semasa masih kuliah di Jerman dulu. Kartu yang dia mainkan sekarang adalah
mengadu Suharto dengan Akbar, sekaligus pada saat yang sama mempertahankan
posisi Suharto untuk tetap di pinggir. Jadi, BJH akan menggilas Akbar yang
berusaha ke tengah sambil melarang Suharto masuk kembali ke tengah. Cukup
cerdas juga.....

Bersamaan dengan itu, beberapa "kendaraan" (alas kaki) BJH kelabakan, karena
merasa telah berjasa mengantarkan BJH ke atas. Seorang anggota permadani BJH
bahkan terang-terangan dongkol karena gagal mendapatkan konsesi yang dia
minta. Para alas kaki BJH itu juga sebal karena agenda mereka tidak lagi
diterima BJH sebagaimana halnya ketika BJH masih berjalan di atas mereka.

Jadi, memang panggung politik Indonesia memang ramai dan seru. Berbagai
kepentingan naik ke permukaan. Sayangnya, tidak semua lakon itu mempunyai
tata urutan yang serasi. Masing-masing ingin tampil sebagai bintang utama.

Memang bukan Suharto melulu yang salah. Suharto hanya mengingatkan BJH
mengenai keamanan yang dijanjikan BJH dulu. Wajar saja jika orang ingin
mendapatkan rasa aman.

Rgds,

Alexander Lumbantobing

Kirim email ke