Analisa yang tajam dan mengena.
Alexander Lumbantobing wrote:
>
> Memang nyata telah terjadi pertentangan antara Suharto dengan Akbar, BJH, dan
> lain-lain.
>
> Suharto dongkol karena BJH dianggap kurang mampu memberikan perlindungan.
> Suharto kira dia akan aman-aman saja menikmati pensiun.
>
> Akbar juga punya agenda sendiri, karena dia harus habis-habisan mengganti
> citra Partai Golkar. Perubahan citra ini memang agak membawa Suharto ke
> pingggir.
>
> BJH juga punya agenda sendiri, yaitu keinginannya untuk tetap menikmati
> kekuasaan - persis seperti idamannya sejak kuliah dulu. Tentu kita ingat
> betapa gemarnya BJH berpidato berapi-api di depan cermin tempat tinggalnya
> semasa masih kuliah di Jerman dulu. Kartu yang dia mainkan sekarang adalah
> mengadu Suharto dengan Akbar, sekaligus pada saat yang sama mempertahankan
> posisi Suharto untuk tetap di pinggir. Jadi, BJH akan menggilas Akbar yang
> berusaha ke tengah sambil melarang Suharto masuk kembali ke tengah. Cukup
> cerdas juga.....
>
> Bersamaan dengan itu, beberapa "kendaraan" (alas kaki) BJH kelabakan, karena
> merasa telah berjasa mengantarkan BJH ke atas. Seorang anggota permadani BJH
> bahkan terang-terangan dongkol karena gagal mendapatkan konsesi yang dia
> minta. Para alas kaki BJH itu juga sebal karena agenda mereka tidak lagi
> diterima BJH sebagaimana halnya ketika BJH masih berjalan di atas mereka.
>
> Jadi, memang panggung politik Indonesia memang ramai dan seru. Berbagai
> kepentingan naik ke permukaan. Sayangnya, tidak semua lakon itu mempunyai
> tata urutan yang serasi. Masing-masing ingin tampil sebagai bintang utama.
>
> Memang bukan Suharto melulu yang salah. Suharto hanya mengingatkan BJH
> mengenai keamanan yang dijanjikan BJH dulu. Wajar saja jika orang ingin
> mendapatkan rasa aman.
>
> Rgds,
>
> Alexander Lumbantobing