In a message dated 4/27/99 10:58:23 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> -- Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>  ............
>  > Kepada rekan2 yg senang menggunjingkan atau tepatnya
>  > mencoba mengorek2 kelemahan atau membuat tulisan2
>  > atau pun komentar2 sehingga Megawati kelihatan lemah atau
>  > buruk, saya ingin bertanya kepada anda-anda, apakah anda
>  > akan puas bila GOLKAR dan boneka2nya berhasil menjuarai
>  > pemilu mendatang?

Dodo:
>  Ahaaa...landasan yang menjadi titik tolak pembicaraan kan bukan partai
>  mana yang kalah atau yang menang, tapi lebih berdasar kepada kualitas
>  calon pemimpin bangsa di masa depan. Jadi terlepas dari partai mana
>  yang akan menang dalam pemilu, kita tetap menginginkan punya seorang
>  pemimpin yang bener bener berkualitas. Saya rasa sekarang ini kan
>  sebagian besar dari kita sedang demam dengan istilah "jangan memilih
>  kucing dalam karung."

Irwan:
Saya dukung demam anda, "jangan memilih kucing dalam karung."
Hanya saja saya bertanya balik, apakah karena Megawati menolak hadir acara
debat
capres lalu kalau kita memlih dia akan seperti memilih kucing dalam karung?
Hmm...mungkin bagi yg belum mengenal sepak terjang Megawati selama ini akan
berkata demikian. Tapi tidak demikian halnya pada pendukung2 Megawati yg
memang
sudah bersama2 sejak jaman penindasan orde baru terhadap PDI. Mereka sudah
jatuh
bangun sama2, mereka sudah tahu kadar kepemimpinan Megawati. Dimata saya
Megawati adalah seorang leader yg telah teruji dilapangan, dalam dunia nyata
dan
bukan dunia maya.
catatan: acara debat bagi saya adalah dunia mayanya pemimpin. Ini bukan
berarti saya
tidak setuju dengan acara debat capres hanya saja saya mempertanyakan
kevalidan
acara debat dijadikan ajang untuk melihat kepemimpinan seseorang.
Mari kita galakan demam "jangan memilih kucing dalam karung". Marilah kita
pilih pemimpin
yg memang sudah teruji kehandalannya.
Membawa PDI dari partai gurem menjadi partai yg besar seperti sekarang
bukanlah hal
yg mudah. Dan hal itu bisa dicapai bukan semata karena usaha Megawati tapi
lebih
kepada usaha tim/kelompok/partai itu sendiri. Ini yg membuat saya lebih salut.

Tambahan dari saya, posting saya yg terdahulu itu bisa jadi rada keluar dari
alur pembicaraan karena memang saya selipi kampanye Asal Bukan Golkar cs (ABG
cs).
Itulah salah satu visi saya dari posting terdahulu......:)


Dodo:
>  Sayapun nggak mau pusing2 mempermasalahkan partai mana yang akan menang
>  dalam pemilu nanti, tapi saya akan ikutan pusing kalau pemimpin yang
>  terpilih ternyata nggak punya visi yang jelas, dan hanya akan disetir
>  oleh orang2 di sekitarnya.


Irwan:
Saya justru lebih senang pemimpin yg tidak absolute yg bisa mengarah menjadi
diktator.
Clinton bisa memenangkan pemilihan bukan semata hanya karena usaha Clinton
semata
tapi lebih kepada tim2 dibelakangnya. Ekonomi AS bisa menggila seperti
sekarang bukan
karena kehebatan Clinton dalam menerapkan kebijakan2 ekonominya tapi lebih
kepada
kepiawaian tim penasehat ekonomi Clinton serta pembantu2nya yg duduk
dipemerintahan.
Megawati sudah punya visi yg jelas, silahkan mengunjungi websitenya untuk
mengetahui lebih
lanjut. Megawati buka tipe pemimpin yg bisa disetir, dia tipe pemimpin yg mau
mendengarkan
masukan2 dari penasehatnya sesuai dengan kemampuannya masing2. Itulah
sebabnya dia
saya kategorikan pemimpin yg mampu menggali potensi yg ada disekitarnya.
Saya pun siap untuk membantunya memberikan ide2 pemecahan masalah ekonomi,
hanya
sayangnya saya masih dalam proses mencari yg orang2 PDI-P yg bisa saya kontak
melalui imel.

Satu hal tambahan, kenapa kita kurang memberi perhatian terhadap MPR/DPR
mendatang?
Bukankah Presiden dalam negara kita fungsinya hanya sebagai mandataris MPR?
Dengan kata lain, ya semuanya yg nyusun itu orang MPR/DPR, setelah itu dicari
seorang presiden
yg diperkirakan mampu menjalankan mandat dari MPR tersebut (mohon saya
dikoreksi kalau salah).
Kalau ngga salah, hal ini berbeda dengan AS yg memang dipisahkan antara
memilih presiden dan
anggota kongres/senat. Karenanya kita bisa melihat presiden AS sekarang dari
partai demokrat sementara
mayoritas senat adalah dari partai republik.

Karenanya acara debat capres itu menurut saya rada aneh juga dilakukan di
Indonesia.
Wong yang kita milih anggota MPR, baru nanti anggota MPR itu yg milih
presiden. Karenanya
kalau mau debat capres ya pas sudah ketahuan komposisi kursi di MPR/DPR.
Bayangan saya akan
terdiri dari beberapa partai dimana tidak ada yg mayoritas tunggal. Nah,
disitulah baru dibutuhkan
debat capres karena para anggota capres itu harus berusaha meyakinkan partai2
lainnya bahwa
dia pantas menjabat presiden. Debat capres disini juga arahnya pada
pengecekan apakah capres
tersebut memang mampu dan memiliki kapasitas yg dibutuhkan untuk menerima
mandat dari MPR.

Saya akan mendukung acara debat capres kalau memang dalam pemilu kita memilih
langsung
presiden dan bukan anggota MPR. Dengan kata lain dalam pemilu dipisahkan
antara memilih presiden
dengan memilih anggota MPR.

Salah satu kelemahan dari sistem kita saat ini adalah kontrol setelah
terpilihnya presiden oleh MPR yg terpilih.
Dari kebiasaan, dari partai yg menanglah presiden itu dipilih. Nah, coba kita
bayangkan kalau partai A menang,
kemudian presidennya juga dari partai A, khan nantinya kontrol atas jalannya
pemerintahan jadi berkurang
karena biasanya partai A tersebut akan berusaha melindungi apa yg telah
dilakukan oleh pemerintahan yg dipilih
dan darinya itu. Contoh kasus yg kita lihat adalah terjadi di Golkar. Golkar
tidak sanggup/mau mengontrol
pemerintahan yg dipimpin oleh Soeharta yg notabene adalah sesepuhnya sendiri,
sesepuh Golkar.
Akibatnya, ya kita lihat dan alami sendiri yg terjadi di Indonesia.

Irwan:
>  > Bagi saya akan jauh lebih baik buat Indonesia bila
>  > PDI Perjuangan, PAN, PKB, PK, dan lain2 yg memang
>  > tidak termasuk GOLKAR cs, berkoalisi untuk bekerja sama membereskan
>  > negeri ini yg sudah porak poranda karena GOLKAR beserta orde barunya.

Dodo:
>  Ane setuju 200%

Irwan:
Jangan 200% ah, mbok ya kasih 100% lainnya ke pemilih yg masih Golkar cs.
Lumayan khan dapat satu tambahan.....:)


Dodo:
>  Balik lagi ke persoalan semula, ane secara pribadi nggak begitu pusing
>  tentang urusan partai partai. Golkar atau Non Golkar, siapapun yang
>  menang asal caranya bersih dan demokratis, ya sah sah aja. Yang repot
>  kan kalo kita ini salah memilih pemimpin

Irwan:
Lha, khan kita punya MPR yg bisa memberhentikan presiden kalau dianggap ngga
becus. Mungkin anda terpengaruh oleh pengalaman selama ini dimana jabatan
presiden seperti memiliki kekuasaan absolut....:)
Jadi menurut saya yang jauh lebih penting itu saat ini adalah pemenangan
kursi MPR/DPR
yg mau ngga mau bisa dicapai dari pemenangan partai. Dengan kata lain,
urusan partai menjadi jauh lebih penting saat ini didalam sistem politik kita.
Dan yg membuat saya salut dengan Megawati adalah dia tidak ingin berdiri di
atas hukum.
Dan ini dia buktikan secara konsisten.  Sangat cocok bila jadi presiden
kelak.....:)
Sudah cukup kita pernah punya presiden yg "kebal" hukum bahkan dia sendiri
adalah hukum itu....:(


Dodo:
>  Kan emang ndak ada yang mengatakan bahwa penolakan Megawati untuk debat
>  itu melanggar hukum....? Cuman kok sepertinya penolakan itu justru
>  mengesankan ketidak siapan doi menangkap aspirasi yang berkembang. Dan
>  dia memang punya alasan, wong doi sendiri udah ngomong kok, "ndak
>  sesuai dengan budaya timur, capresnya ndak jelas, buang2 waktu
>  de..el..el."
>  permasalahannya kan, kok alasan seorang calon pimpinan bisa sekonyol
>  itu..


Irwan:
Aspirasi siapa? Mahasiswa atau kelompok yg dipimpinnya dalam hal ini
kelompok pendukung PDI-P?
Dalam posting terdahulu, saya mengatakan bahwa sebuah partai politik
harus mampu mengidentifikasikan apa yg diinginkan oleh sebagian besar
pemilihnya. Nah, mungkin saja dari timnya Megawati melihat bahwa saat ini
yg dibutuhkan oleh pendukungnya bukan tampil dalam acara debat2an tapi
lebih pada hal konsolidasi partai.
Soal cari alasan yg tepat, mungkin Megawati perlu mengangkat saya
sebagai penasehat mencari alasan yg tepat.....:)


Ngomong2 gimana komentar anda atas acara debat capres kemarin?
Terus terang saya kaget membaca beritanya di detik.com.
Diluar dari bayangan saya semula (dalam arah negatif).
Mudah2an hal itu hanya karena tahap awal saja. Saya berharap dan yakini
akan terjadi perbaikan2 di waktu2 mendatang.


Dodo:
>  Lha si Jeffrey Winters aja ampe bilang bahwa alasan itu terlalu di buat
>  buat kok.

Irwan:
Jeffrey Winters itu siapa sih?....:)
Moga2 bukan orang yg menjadi standar anda dalam menarik suatu kesimpulan
atas kejadian di tanah air.....:)


Dodo:
>  Bagus kalo emang doi pengin menegakkan wibawa hukum, tapi kok sampe
>  kejadian beberapa kali 'pengikutnya' melakukan tindakan yang tidak
>  mencerminkan wibawa hukum, contohnya narikin kutang...:)


Irwan:
Maaf, saya kurang mengikuti perkembangan beritanya. Apakah dari hasil
penyelidikan sudah terbukti secara hukum bahwa yg melakukan hal tersebut
adalah orang2 PDI-P?
Wibawa hukum akan berfungsi bila hukum diberlakukan dengan semestinya.
Jadi, kalau ada orang PDI-P yg memang secara hukum melakukan kesalahan
ya ditindak saja secara hukum. Saya yakin Megawati tidak akan keberatan untuk
itu.
Jadi kalau memang tidak terbukti melakukan kesalahan secara hukum ya janganlah
kita langsung mencap orang itu salah.

Akuntansi pada perusahaan kecil akan lebih sederhana dari akuntasi pada
perusahaan
besar apalagi yg sudah multinasional. Karenanya saya bisa memaklumi
permasalahan
yg dihadapi partai besar seperti PDI-P akan jauh lebih kompleks dari partai2
gurem yg
ada saat ini.

Irwan:
>  > Saya pribadi kalau jadi Megawati juga akan enggan untuk mengikuti
>  > debat capres
>  > dengan situasi seperti Indonesia sekarang ini.
>  > Buat saya jauh lebih berguna waktu saya tersebut dipakai untuk
>  > melakukan
>  > konsolidasi
>  > partai ke daerah2. Kalau ingin mengetahui tentang program2 partai,
>  > tinggal
>  > menghubungi
>  > sekretariatnya atau pun buka websitenya saja. Persiapan pemilu
>  > sekarang ini
>  > bisa dibilang
>  > sangat pendek karenanya waktu yg singkat ini tentunya akan
>  > dimanfaatkan oleh
>  > masing2
>  > partai untuk mendapatkan pemilih dengan cara/gayanya masing2.

Dodo:
>  Berarti anda seorang kader yang baek, lha wong alasannya persis seperti
>  yang disampaikan si Lubis kemaren.


Irwan:
Hanya sekedar analisa saya saja dengan melihat latar belakang partai.
Partai PDI-P itu sudah ada sejak lama, karenanya metoda pemenangan
pemilih saya perhatikan saat ini akan lebih mengena dengan jalan menjaga
yg sudah ada sambil mengembangkan yg sesuai target marketnya.
Berbeda dengan partai2 yg ikut debat capres yg memang bisa dibilang
partai2 baru. Cara terbaik dan tercepat menarik simpatisan ya lewat publikasi.
Ada yg berhasil ada yg tidak. Kedua cara tersebut menurut saya bagus2 saja.
Karenanya saya katakan diposting terdahulu, setiap partai bisa punya strategi
masing2 dalam upaya memenangkan pemilih.

Saya bisa ngomong gini karena dulu kebetulan saya punya pengalaman sebagai
salah satu tim dalam pemenangan suara pemilihan senat mahasiswa.
Hal2 seperti tersebut di atas termasuk dalam pembahasan tim. Pengenalan
pemilih,
strategi mengatasi debat, dll semua dibahas. Kebetulan saya diberikan
tanggung jawab
dalam masalah debat dan segala yg berkaitan dengan hal program.
Fun juga ngejalaninnya apalagi setelah kandidat kita ternyata memenangkan
pemilihan tersebut......:)


Dodo:
>  Lha, disini anda sendiri menyebutkan pentingnya visi yang jelas, tapi
>  kok dari awal si Mega ndak pernah menjelaskan visinya? sampe ditanya
>  wartawan asingpun cuman mesam mesem doang. Apakah memang visinya si doi
>  untuk menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang suka mesam
>  mesem...?

Irwan:
Sudah berkunjung ke websitenya?
Anda bisa baca visinya secara lengkap.

Dodo:
>  Ini kan masalah intern organisasi bahwa seorang pemimpin harus mengenal
>  kelompok pemilihnya, dan saya rasa si Mega memang jago dalam mengenali
>  pemilihnya. Tapi kok sewaktu ada aspirasi yang berkembang diluar
>  kelompok pemilihnya, yang nota bene juga akan menjadi bagian dari
>  orang2 yang dipimpin nanti, si Mega justru ndak tanggap, bahkan
>  mengelak.

Irwan:
Dalam proses pemenangan suara, yg didahulukan adalah yg memilihnya
dan bukan yg diluar itu. Strategi seperti ini juga dulu saya terapkan dalam
pemilihan
senat. Suara yg sudah ditangan harus benar2 bisa dijaga. Kita harus bisa
memuaskan
pemilih yg sudah ditangan.  Jangan pernah bermimpi untuk memperoleh
suara 100% menang. Jadi, kalau ada suara2 yg kontra itu mah wajar2
saja apalagi yg kontranya itu datang dari orang2 yg bukan termasuk
pemilih PDI-P. Itu sangat wajar sekali.....:)


Dodo:
>  Justru karena dia sangat diperhitungkan itulah, makanya kite pengin
>  tahu isi kepalanya. Jangan sampai kita memperhitungkan orang yang
>  salah.

Irwan:
Saya justru lebih memperhitungkan orang2 dipartainya, orang2 dibelakangnya.
Siapa2 saja pemikirnya, apakah saya bisa percayai para pemikirnya.
Apakah para pemikirnya punya kapasitas yg cukup untuk mengatasi masalah
yg ada di Indonesia saat ini?
Saya lihat hal itu ada di orangnya partai PDI-P.
Bila anda ingin tahu lebih jauh tentang pemikiran2 PDI-P, silahkan mengunjungi
websitenya atau datang ke sekretariat PDI terdekat dan tanyakan tentang
program2 mereka.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
(pemilih PDI-P)

Kirim email ke