>Irwan:
>Satu hal tambahan, kenapa kita kurang memberi perhatian terhadap MPR/DPR
>mendatang?
>Bukankah Presiden dalam negara kita fungsinya hanya sebagai mandataris MPR?
>Dengan kata lain, ya semuanya yg nyusun itu orang MPR/DPR, setelah itu dicari
>seorang presiden
>yg diperkirakan mampu menjalankan mandat dari MPR tersebut (mohon saya
>dikoreksi kalau salah).
>Kalau ngga salah, hal ini berbeda dengan AS yg memang dipisahkan antara
>memilih presiden dan
>anggota kongres/senat. Karenanya kita bisa melihat presiden AS sekarang dari
>partai demokrat sementara
>mayoritas senat adalah dari partai republik.
>
>Karenanya acara debat capres itu menurut saya rada aneh juga dilakukan di
>Indonesia.
>Wong yang kita milih anggota MPR, baru nanti anggota MPR itu yg milih
>presiden. Karenanya
>kalau mau debat capres ya pas sudah ketahuan komposisi kursi di MPR/DPR.
>Bayangan saya akan
>terdiri dari beberapa partai dimana tidak ada yg mayoritas tunggal. Nah,
>disitulah baru dibutuhkan
>debat capres karena para anggota capres itu harus berusaha meyakinkan partai2
>lainnya bahwa
>dia pantas menjabat presiden. Debat capres disini juga arahnya pada
>pengecekan apakah capres
>tersebut memang mampu dan memiliki kapasitas yg dibutuhkan untuk menerima
>mandat dari MPR.
>
>Saya akan mendukung acara debat capres kalau memang dalam pemilu kita memilih
>langsung
>presiden dan bukan anggota MPR. Dengan kata lain dalam pemilu dipisahkan
>antara memilih presiden
>dengan memilih anggota MPR.
>
>Salah satu kelemahan dari sistem kita saat ini adalah kontrol setelah
>terpilihnya presiden oleh MPR yg terpilih.
>Dari kebiasaan, dari partai yg menanglah presiden itu dipilih. Nah, coba kita
>bayangkan kalau partai A menang,
>kemudian presidennya juga dari partai A, khan nantinya kontrol atas jalannya
>pemerintahan jadi berkurang
>karena biasanya partai A tersebut akan berusaha melindungi apa yg telah
>dilakukan oleh pemerintahan yg dipilih
>dan darinya itu. Contoh kasus yg kita lihat adalah terjadi di Golkar. Golkar
>tidak sanggup/mau mengontrol
>pemerintahan yg dipimpin oleh Soeharta yg notabene adalah sesepuhnya sendiri,
>sesepuh Golkar.
>Akibatnya, ya kita lihat dan alami sendiri yg terjadi di Indonesia.
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>(pemilih PDI-P)
Nimbrung nih bung Irwan:
Saya sependapat dengan anda, bahwa yang nanti dipilih adalah anggota MPR.
Lembaga ini selanjutnya memilih presiden. Model begini kan dikenal sebagai
representative democracy. Tulisan anda menggugah saya untuk bertanya, mana
yang sebenarnya baik untuk Indonesia direct democracy atau representative
democracy. Kalau dilihat perkembangan terakhir umummnya orang berpikir
bahwa pemimpin partai pemenang atau partai mayoritas akan otomatis menjadi
presiden. Padahal kalau melihat sistem pemilu sekarang belum tentu hal
tersebut terjadi. Apalagi dengan sistem multipartai, lembaga eksekutif
sudah tentu akan dibentuk berdasarkan koalisi antar partai. Punya saran?
Soal Golput saya juga sependapat dengan anda. Ketimbang mengurangi
perolehan suara partai lawannya ABG Cs, mendingan kita sumbang suara untuk
partai-partai tersebut. Golput dalam kondisi sekarang dapat dimanfaatkan
oleh Golkar Cs. untuk menganulir kemenangan partai-partai yang menginginkan
perubahan.
Y.Y. Alim