In a message dated 4/29/99 12:11:53 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
Dodo:
> Bertolak dari tanggapan tanggapan yang anda sampaikan terhadap kritik
> yang 'menyerang' Megawati, saya menangkap adanya persimpangan persepsi
> yang mengakibatkan tidak match nya antara sebagian besar opini yang
> berkembang dengan tanggapan anda.
Irwan:
Mari kita lihat bersama apakah memang adanya persimpangan persepsi
ataukah adanya kekerasan menerapkan satu standar dalam penilaian....:)
Dodo:
> Maksud saya begini, sebagian besar dari kritikan yang dilontarkan
> kepada Mega atas penolakannya untuk debat itu berpangkal dari
> kekecewaan kita sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang ingin melihat
> kualitas calon calon pemimpinnya, terlepas apakah itu dari PDI-P,
> Golkar, PAN, PK dll. Tetapi argumen2 dan tanggapan anda lebih bertumpu
> pada sudut pandang kepentingan partai. Artinya, anda cenderung melihat
> penting atau tidaknya debat calon presiden serta capable atau tidaknya
> Megawati sebagai pemimpin dari sudut pandang internal PDI-P. Nah, kalau
> begini keadaannya, berarti perbedaan persepsi tentang perlu atau
> tidaknya debat calon presiden itu akan berkelanjutan terus, soalnya
> sudut pandang yang diambilpun sudah berbeda.
Irwan:
Dalam satu posting telah saya singgung bahwa penilaian kualitas calon
pemimpin dari hanya debat capres adalah sangat berbahaya karena
saya katakan debat capres bagi saya adalah dunia maya bagi calon pemimpin.
Kualitas pemimpin lebih bisa dilihat dan dinilai dari kemampuan dia memimpin
dan mengorganisasikan partainya. Inilah yg saya sayangkan pada posting
yg mempunyai pemikiran bahwa debat capres adalah satu2nya cara untuk
melihat kemampuan atau pun kualitas calon pemimpin tersebut, padahal
debat capres adalah dunia mayanya mereka.
Pada posting2 lainnya lagi saya pun sudah mencoba memaparkan hal2 yg
bisa dijadikan tolok ukur kualitas kepemimpinan Megawati, tapi tetap saja
masih ada yg berkeras bahwa debat capres adalah hal mutlak atau bahkan
mungkin satu2nya tolok ukur melihat kualitas calon pemimpin.
Ini khan sudah tidak benar, sudah keluar jalur terlalu jauh. Tul ngga?...:)
Saya pun juga mengajak rekan2 untuk melihat kembali sistem politik kita
dimana kita tidak dimungkinkan memilih presiden secara langsung seperti
di AS. Kita memilih anggota2 MPR (tepatnya kalau tidak salah DPR),
dan sebagian lagi anggota MPR adalah hasil pengangkatan. Padahal kita
tahu sendiri bahwa MPR lha yg nantinya akan memilih presiden mendatang.
Sayangnya belum ada yg melihat masalah krusial disini yg coba saya
sampaikan. Rekan2 tampaknya belum menyadari atau mungkin menganggap
sepele anggota MPR yg hasil pengangkatan (kalau tidak salah membutuhkan
persetujuan presiden, mohon dikoreksi bagi yg tahu lebih jauh). Ini khan
sama saja "keuntungan" suara dimuka buat Golkar?
Coba deh dipikirin, orang yg diangkat umumnya khan akan loyal ke yg ngangkat.
Contohnya gini, si A dicalonkan menjadi anggota MPR sebagai utusan daerah XY.
Butuh persetujuan presiden. Pencalonan A sendiri saya yakini juga dilakukan
oleh orang2 "pemerintah" dengan rekomendasi bahwa si A ini adalah orang "kita"
alias akan dukung Golkar nantinya di MPR. Coba deh bayangin, ada berapa
ratus suara yg seperti itu di MPR kita, khan ini ngga fair toh?
Tapi sayangnya kita cenderung menerima begitu saja tanpa menyadari bahayanya
kelak.
Sebenarnya sih sudah ada yg menyuarakan ketidak-fair-an ini tapi koq ya
tenggelam
begitu saja ya?
Saya pun juga coba menggambarkan akan kondisi saat ini, bahaya yg ada saat ini
bila terus terjadi pertentangan antar partai yg tergolong ABG cs baik itu
simpatisannya maupun pengurusnya. Bukan tidak mungkin kalau ini terus
berlangsung
maka Golkar cs akan kembali berjaya bahkan lebih parahnya lagi kelompok yg
tadinya ABG cs, setelah melihat peluang gabung dengan Golkar cs lebih
menjanjikan
karena diiming2i jabatan misalnya, mereka jadi bergabung ke Golkar cs, ini
khan bahaya.
Nah, kalau anda sepaham dengan saham tentang bahaya laten Golkar cs ini,
bukankah
sebaiknya partai2 yg ada melakukan penggalangan suara dengan caranya masing2?
Cara PDI-P adalah dengan terjun langsung ke pelosok2 karena disanalah masa
mereka.
Bagi partai2 ABG cs lainnya yg merasa masa mereka ada di kota dan dikalangan
akademis,
ya berjuanglah merebut suara yg ada di sana. Nanti setelah pemilu kita lihat
masing2
sudah mengumpulkan suara berapa banyak dan dipikirkan untuk melakukan koalisi
dalam pemilihan presiden yg tepat untuk periode mendatang. Ini yg saya coba
ingin
angkat, tapi sayangnya masih ada beberapa pihak yg tetap meletakkan debat
capres sebagai hal yg mutlak dan harus tanpa mempertimbangkan lagi kondisi
yg ada saat ini baik mepetnya waktu persiapan dan tidak samanya sistem yg
berlaku
di Indonesia dengan yg di AS.
Hal lain lagi yg sudah saya sampaikan, Megawati sudah sering tampil di depan
publik,
lebih seringnya di depan massanya sendiri. Nah, kalau memang dari kita ada yg
ingin
mengetahui langsung atau bertanya langsung atas hal2 yg ingin diketahui,
bukankah lebih baik datang pada acara2 tersebut? Mudah2an ngga keberatan
bergabung
bersama dengan supir becak, supir bajaj, tukang beling, dan kelompok2
tersisih lainnya.
Gitu lho menurut saya seharusnya kalau kita mau aktif. Jadi jangan hanya
nunggu saja
dan kalau orangnya ngga bersedia dateng trus ngambek, itu namanya kita egois,
hanya
mementingkan kepentingan kita/kelompok kita saja padahal ada kelompok lain yg
lebih
besar dan lebih urgent sifatnya yg perlu didahulukan.
Sekarang kita lihat kembali, apakah persepsi kita berbeda atau kah
ada pihak yg tetap berkeras memaksakan standarnya dalam menilai kepemimpinan
seseorang calon pemimpin?
Dodo:
> Memang yang menghendaki dan mempelopori adanya debat calon presiden itu
> adalah kelompok akademis (intelektual) yang presentase jumlahnya
> mungkin sangat kecil dibanding jumlah populasi Indonesia secara
> keseluruhan. Kritik2 terhadap Megapun lebih banyak diwakili oleh
> kelompok ini. Tapi kita juga tidak bisa membutakan mata bahwa di
> belahan dunia manapun, setiap perubahan yang berskala nasional diawali
> oleh ide dan gerakan kelompok akademis (mahasiswa, pelajar dan
> cendekiawan).
Irwan:
Apakah setelah itu mahasiswa langsung menuntut minta diservice?
Saya yakin mahasiswa yg kritis tidak sependek itu pikirannya. Saya
juga mahasiswa tapi saya mencoba melihat skala prioritas yg lebih luas.
Saya percaya rekan2 saya mahasiswa dan akademis lainnya bisa menyadari
hal ini.
Satu hal lagi yg perlu disadari, perjuangan mahasiswa tanpa dukungan
dari masyarakat juga ngga akan ada apa2nya. Mahasiswa memang motor
dari mahasiswa, tapi jangan pernah mengatakan bahwa semua ini hanya
karena mahasiswa. Saya percaya mahasiswa Indonesia tidak akan punya
pemikiran sempit atau kesombongan politik seperti itu.
Anda bisa lihat gerakan2 mahasiswa yg ngga jelas dan ngga didukung
masyarakat ya akhirnya kandas begitu saja.
Jadi bagi saya gerakan mahasiswa harus didukung oleh masyarakat bila
mau sukses.
Dodo:
> Kalau kelompok kecil yang memang bertugas untuk membawa perubahan ini
> akhirnya hanya nrimo dan ngikut saja seperti rakyat kebanyakan (petani,
> buruh, tukang becak dll) maka kita akan terjebak kedalam situasi
> politik yang statis. Dan kalau begini kondisinya, berarti akan sama aja
> dengan mempertahankan status quo.
Irwan:
Ini dia nih, kembali menyepelekan kemampuan rakyat kecil dalam
menentukan pilihannya. Seperti dalam posting terdahulu, saya yakin
rakyat kecil yg rela memberikan bantuan material untuk PDI-P punya
keyakinan bahwa dengan kemenangan PDI-P kehidupan mereka
akan lebih baik, akan diperlakukan lebih layak karena memang mereka
yakin PDI-P sedang memperjuangkan kepentingan mereka.
Nah, kembali saya bertanya pada anda dan rekan2 lainnya yg mahasiswa,
apakah yg sedang diperjuangkan oleh PDI-P itu salah?
Mengulang kembali hal sebelumnya, kita (mahasiswa) hanyalah motor
dari perubahan. Yang bisa membawa negeri ini menuju perubahan
yg berarti adalah masyarakat secara keseluruhan, jadi bukan hanya mahasiswa.
Semoga ini disadari dari awal.
PDI-P tidak menginginkan status quo, mereka ingin suatu perubahan yg
berfokus pada rakyat kecil. Ini yg sedang mereka perjuangkan dan ini
yg saya harapkan rekan2 mahasiswa lainnya juga bisa melihat seperti
mahasiswa2 lainnya pendukung perjuangan PDI-P yg telah lebih dulu
melihat kebenaran apa yg diperjuangan oleh PDI-P.
Dodo:
> Jadi saya menurut saya, meskipun kegiatan debat calon presiden ini
> dipelopori dan di adakan oleh kelompok mahasiswa, dan yang hadirpun
> sebagian besar dari kelompok ini, tapi ini bisa diartikan mewakili
> kepentingan seluruh bangsa Indonesia.
Irwan:
Saya tidak berani mengatakan demikian. Anda bisa menilai sendiri acara
debat capres yg telah berlangsung tersebut. Mungkin anda puas telah
menyaksikan calon2 yg ada. Tapi pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa
rakyat kecil di daerah juga akan memperoleh kepuasan yg sama bahkan
lebih setelah bisa melihat langsung Megawati, calon mereka, berpidato
menyampaikan visinya secara langsung ke mereka?
Rakyat kecil itu pemikirannya sederhana2 saja, ngga yang rumit2 dan
muluk2 seperti yg mungkin ada disebagian mahasiswa. Pikiran rakyat
kecil umumnya membumi, langsung berkaitan dengan kehidupan nyata
dan sehari2.
Menurut saya pribadi, debat capres seperti kemarin hanyalah untuk
pemuasan politik terhadap sekelompok bagian masyarakat saja.
Sebagian lagi ada yg baru terpuaskan bila bisa bertatap muka atau
mungkin bersalaman langsung dengan calonnya. Ini kondisi sebagian
masyarakat kita saat ini. Mereka sudah ngga butuh lagi orang2 pintar
yg mimpin negeri ini, mereka butuh orang yg bisa dipercayai mereka
yg akan memperjuangkan nasib mereka.
Apakah kita sebagai mahasiswa mau bersaing dengan mereka rakyat kecil?
Yang jelas saya tidak mau, saya akan berdiri sekelompok dengan mereka,
rakyat kecil yg merupakan mayoritas penduduk Indonesia saat ini.
Dodo:
> Nah, kembali ke perbedaan persepsi dalam menyikapi kegiatan debat ini,
> ya monggo aja....silakan berdiri pada posisi masing masing. Yang jelas
> bagi saya, debat calon presiden ini sangat penting untuk, sekali lagi,
> mensosialisasikan visi para calon pemimpin kita dan sekaligus
> memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bisa menilai mereka2 yang
> akan memimpin bangsa ini dimasa depan.
Irwan:
Dalam posting terdahulu pun saya mengatakan setiap partai
punya cara tersendiri dalam penyampaian visi atau pun penjaringan massa.
PDI-P seperti saya katakan tampaknya lebih memilih terjun langsung
ke daerah2 menemui simpatisannya. Saya menghargai dan menghormati
pihak2 yg telah bersusah payah menyelenggarakan serta berpartisipasi
dalam debat capres itu. Tapi hendaknya jangan sampai kita terlena dan
tertutup mata kita hingga menjadikan debat capres itu adalah satu2nya tolok
ukur menilai kemampuan calon pemimpin. Padahal seperti saya katakan sebelumnya
debat capres itu hanyalah dunia mayanya pemimpin, dunia nyatanya adalah
pada kemampuan dia memimpin partainya. Lebih hebat lagi mampu membesarkan
partainya ditengah tekanan2 dan perlakuan tidak adil dari penguasa.
Itulah tipe pemimpin sejati yg dibutuhkan saat ini.
Dodo:
> Kalau akhirnya ada salah seorang calon kuat menolak untuk ikut debat
> dengan segala macam alasannya, itu tidak lebih dari cerminan
> ketakutannya untuk terlihat lemah di mata para pendukungnya dan dimata
> seluruh bangsa Indonesia. Alasan2 yang muncul kemudian atas penolakan
> tersebut, tak lebih sebagai upaya untuk merasionalisasi penolakan itu
> sendiri. Kenapa saya katakan demikian...? karena alasannyapun tidak
> konsisten dan terkesan dibuat buat.
Irwan:
Simpatisan lawan politiknya mungkin akan berpikiran demikian, tapi apakah
simpatisan PDI-P secara mayoritas juga akan berpikiran demikian?
Lagi pula, toh visi2nya dan partainya telah berulang2 disampaikan baik
lewat pidatonya mau pun tulisan2 yang dapat kita baca baik pada websitenya
atau pun media2 cetak. Apalagi sih yg kita tuntut dari mereka? Ayolah bung,
jangan sampai kita jadi bersikap manja politik.
Dodo:
> Alasan yang pertama kali muncul adalah ,"karena debat itu tidak sesuai
> dengan budaya timur."
Irwan:
Menurut saya ini kepleset lidah saja seperti juga "kepleset lidah" yg
terjadi pada debat capres kemarin pada dua capres yg ada. Kita dimilis
itu tidak terlalu mempermasalahkan kepleset lidah dari 2 capres tersebut
tapi kenapa koq kelihatannya kita sulit banget sih menerima kepleset lidah
dari capresnya PDI-P...?....:)
Dodo:
> Kemudian setelah alasan itu dianggap konyol dan
> jadi bahan guyonan, akhirnya keluar alasan berikutnya yaitu," UUD 45
> tidak mengatur masalah debat." Ternyata berlindung dibalik
> konstitusipun masih belum bisa menyelamatkan muka, dan akhirnya keluar
> argumen trakhir yang juga menurut saya masih terkesan konyol," Mega mau
> debat setelah pemilu, karena sekarang ini calon presidennya belum
> jelas...." Di milis inipun muncul puluhan alasan yang pada dasarnya
> hanya untuk merasionalisasi penolakan Mega terhadap debat itu.
Irwan:
Menurut saya dengan memperhatikan sistem yg ada memang seharusnya
debat capres itu baru dilangsungkan setelah pemilu dimana MPR sedang
mencari capres yg dianggap mampu menerima mandat dari MPR untuk
limat tahun mendatang. Bagi saya, debat capres setelah pemilu adalah
suatu keharusan dan bukan lagi suatu alternatif. Ini pandangan saya pribadi
yg bisa saja berbeda dengan anda yg tampaknya bernafsu sekali dengan
debat capres....:)
Dodo:
> Jadi begitulah, saya tetap melihat penolakan debat itu sebagai sesuatu
> yang tidak seharusnya dilakukan oleh calon pemimpin bangsa. Dan tidak
> seharusnya pula seorang calon pemimpin bangsa mengeluarkan alasan2
> konyol seperti itu. Silakan saja para pendukung PDI-P mencari ribuan
> alasan lain yang mungkin terkesan logis dan rasional untuk me make up
> penolakan itu menjadi suatu tindakan yang wajar.
Irwan:
Semoga pemaparan saya dalam milis bisa sedikit membantu melihat permasalahan
yg mungkin ada dan dipikirkan oleh tim PDI-P. Megawati menginginkan debat
tersebut setelah pemilu dengan dasar pertimbangan partainya. Bila memang
kelak mayoritas pemilihnya meminta Megawati perlu tampil, saya yakin dia akan
tampil karena memang seharusnya saat ini setiap partai lebih berusaha
mengumpulkan
kursi MPR agar perjuangan yg dicanangkan semulai bisa lebih lancar jalannya.
Apa gunanya punya visi dan cita2 perjuangan bagus tapi ngga bisa punya saluran
dalam mewujudkan hal tersebut hanya karena tidak punya kursi di MPR atau pun
punya tapi sedikit.
PDI-P punya visi yg jelas, memperjuangkan nasib rakyat kecil. PDI-P punya
struktur
dan pelaku organisasi yg kuat yg telah teruji pada masa2 sulit dulu. PDI-P
punya
massa yg besar saat ini yg menjadi andalan utama mewujudkan perjuangannya.
Semoga pembahasan seputar hal ini tidak berkepanjangan tapi
kita bisa melangkah lebih jauh ke hal2 yg sifatnya jauh lebih penting
lagi demi perbaikan Indonesia mendatang.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
(pemilih PDI-P, no urut 11)
>
> -peace-