> Dodo:
> >  Kalau ngomongin masalah "kita" berarti kan kita ini mengacu kepada
> >  bangsa Indonesia secara keseluruhan,
>
> Irwan:
> Kata "kita" di atas bukan mengacu kepada bangsa Indonesia secara
> keseluruhan
> tapi mengacu pada orang2 yg memilih PDI-P sebagai penyampai aspirasi
> politiknya.
> Mohon dibedakan.

Bertolak dari tanggapan tanggapan yang anda sampaikan terhadap kritik
yang 'menyerang' Megawati, saya menangkap adanya persimpangan persepsi
yang mengakibatkan tidak match nya antara sebagian besar opini yang
berkembang dengan tanggapan anda.

Maksud saya begini, sebagian besar dari kritikan yang dilontarkan
kepada Mega atas penolakannya untuk debat itu berpangkal dari
kekecewaan kita sebagai bagian dari rakyat Indonesia yang ingin melihat
kualitas calon calon pemimpinnya, terlepas apakah itu dari PDI-P,
Golkar, PAN, PK dll. Tetapi argumen2 dan tanggapan anda lebih bertumpu
pada sudut pandang kepentingan partai. Artinya, anda cenderung melihat
penting atau tidaknya debat calon presiden serta capable atau tidaknya
Megawati sebagai pemimpin dari sudut pandang internal PDI-P. Nah, kalau
begini keadaannya, berarti perbedaan persepsi tentang perlu atau
tidaknya debat calon presiden itu akan berkelanjutan terus, soalnya
sudut pandang yang diambilpun sudah berbeda.

Memang yang menghendaki dan mempelopori adanya debat calon presiden itu
adalah kelompok akademis (intelektual) yang presentase jumlahnya
mungkin sangat kecil dibanding jumlah populasi Indonesia secara
keseluruhan. Kritik2 terhadap Megapun lebih banyak diwakili oleh
kelompok ini. Tapi kita juga tidak bisa membutakan mata bahwa di
belahan dunia manapun, setiap perubahan yang berskala nasional diawali
oleh ide dan gerakan kelompok akademis (mahasiswa, pelajar dan
cendekiawan).

Kalau kelompok kecil yang memang bertugas untuk membawa perubahan ini
akhirnya hanya nrimo dan ngikut saja seperti rakyat kebanyakan (petani,
buruh, tukang becak dll) maka kita akan terjebak kedalam situasi
politik yang statis. Dan kalau begini kondisinya, berarti akan sama aja
dengan mempertahankan status quo.

Jadi saya menurut saya, meskipun kegiatan debat calon presiden ini
dipelopori dan di adakan oleh kelompok mahasiswa, dan yang hadirpun
sebagian besar dari kelompok ini, tapi ini bisa diartikan mewakili
kepentingan seluruh bangsa Indonesia.

Nah, kembali ke perbedaan persepsi dalam menyikapi kegiatan debat ini,
ya monggo aja....silakan berdiri pada posisi masing masing. Yang jelas
bagi saya, debat calon presiden ini sangat penting untuk, sekali lagi,
mensosialisasikan visi para calon pemimpin kita dan sekaligus
memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk bisa menilai mereka2 yang
akan memimpin bangsa ini dimasa depan.

Kalau akhirnya ada salah seorang calon kuat menolak untuk ikut debat
dengan segala macam alasannya, itu tidak lebih dari cerminan
ketakutannya untuk terlihat lemah di mata para pendukungnya dan dimata
seluruh bangsa Indonesia. Alasan2 yang muncul kemudian atas penolakan
tersebut, tak lebih sebagai upaya untuk merasionalisasi penolakan itu
sendiri. Kenapa saya katakan demikian...? karena alasannyapun tidak
konsisten dan terkesan dibuat buat.

Alasan yang pertama kali muncul adalah ,"karena debat itu tidak sesuai
dengan budaya timur." Kemudian setelah alasan itu dianggap konyol dan
jadi bahan guyonan, akhirnya keluar alasan berikutnya yaitu," UUD 45
tidak mengatur masalah debat."  Ternyata berlindung dibalik
konstitusipun masih belum bisa menyelamatkan muka, dan akhirnya keluar
argumen trakhir yang juga menurut saya masih terkesan konyol," Mega mau
debat setelah pemilu, karena sekarang ini calon presidennya belum
jelas...."  Di milis inipun muncul puluhan alasan yang pada dasarnya
hanya untuk merasionalisasi penolakan Mega terhadap debat itu.

Jadi begitulah, saya tetap melihat penolakan debat itu sebagai sesuatu
yang tidak seharusnya dilakukan oleh calon pemimpin bangsa. Dan tidak
seharusnya pula seorang calon pemimpin bangsa mengeluarkan alasan2
konyol seperti itu. Silakan saja para pendukung PDI-P mencari ribuan
alasan lain yang mungkin terkesan logis dan rasional untuk me make up
penolakan itu menjadi suatu tindakan yang wajar.

-peace-

_________________________________________________________
Do You Yahoo!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke