Dear Rekan-rekan Permias and readers,
Soal memunculkan new attitudes untuk the new Indonesia sudah dibahas
di seminar Madison. Attitudes tersebut sebenarnya tidak baru --
menurut Mas Franki Raden, namun dapat menjadi baru karena kita
menemukan esensi pengaplikasian yang baru, menurut Notrida Mandica.
Nah attitudes yang baru tersebut antara lain:
1. Berpikir kritis dan bertanggung jawab. Ketika melemparkan
pertanyaan, mampu memberi kejelasan persoalan dan mampu bertanggung
atas pengaplikasian solusi-solusinya. Misalnya: jangan teriak aja,
terus dikasih jalan keluarnya, katanya tidak sesuai dengan budaya
timur.
2. Dengan tegas menolak tugas yang diberikan jika tidak mampu
menjalankannya. Jangan hanya karena mau dapat posisi saja, baca
tentang hukumpun tak mampu malah menerima tawaran jadi ketua MA,
misalnya. Atau jelas-jelas sudah ikut memanipulasi hasil pemilu masa
Suharto, malah petenteng jadi ketua KPU.
3. Tidak menerima pemberian gratisan atau tidak menerima oleh-oleh
jenis apapun yang niatnya menjilat. Karena merasa birokrat or
politisian maka merasa berhak menggunakan fasilitas negara dan uang
rakyat. Merasa pejabat maka merasa berhak mendapatkan sumbangan dari
negara.
4. Konsisten dan tegas mengambil sikap. Sebelum dapat jabatan,
mencerca Pak Harto, setelah dapat jabatan, harusnya tetap mencerca Pak
Harto. Yang terjadi malah kebalikannya. Baru dikasih jabatannya
kepala registrasi di kantor desa aja, eh sudah berubah jadi jubir Pak
Harto. Nah sekarang Pak Harto turun, giliran mereka ramai-ramai
menghujat.
5. Mengakui perbuatan yang salah dan mengundurkan diri dari jabatan.
Ini yang tidak pernah ada dalam sejarah negara Indonesia. Yang
terjadi malah sebaliknya. Sudah tahu bahwa dia tidak mampu menangani
masalah organisasi dan tanggung jawab moralnya terhadap bangsa, eh
malah mencalonkan diri jadi presiden.
Karena itu, untuk Mahasiswa UI, kalau mau melibas kultur ORBA, bekas
ORBA yang plin-plan dulu yang dipinggirkan. Misalnya, jangan diajak
jadi pembicara dan jangan dijadikan tokoh. Nanti Indonesia jadi
"Baverly Hilly Billy"
Menurut kami dari Madison, bahwa memperkenalkan kembali budaya yang
katanya dari 'leluhur' -- yang ditinggalkan oleh para pejabat negara
selama kurang lebih dua puluh lima tahun ini--, diperlukan perbaikan
sistem pendidikan, khususnya perubahan kurikulum nasional mulai dari
dari TK hingga Perguruan tinggi. PERLU DIBERITAKAN BAHWA BERAHLAK ITU
LEBIH MULIA DARIPADA PLIN-PLAN.
Salam,
ida
>>
>>Ikatan Alumni UI (ILUNI-UI) akan menyelenggarakan Reuni Besar Alumni
UI
>>yang terbuka untuk semua Angkatan dan Fakultas. Acara Reuni tersebut
>>antara lain
>>akan diisi dengan acara-acara sebagai berikut:
>>
>>Seminar "Mengubur Kultur Orde Baru"
>>Waktu : Kamis, 29 April '99, jam 9:00 - 16:30
>>Tempat : Pusat Studi Jepang, Kampus UI Depok
>>Pembicara : Anwar Nasution, Sobary, Benjamin Mangkudilaga, Parsudi
Suparla
>>Pembahas : Arbi Sanit, Feisal Basri
>>Moderator : Selo Soemardjan
>>
>>Obrolan Santai "Membangun Kultur Bangsa Pasca Orde Baru"
>>Waktu : Sabtu, 1 Mei '99, jam 10:00 - 12:30
>>Tempat : Balairung Kampus UI Depok
>>Pembicara: Alumni dan civitas academica UI aktivis Parpol
>> a.l., Akbar Tanjung (Partai Golkar); Sri Bintang
(PUDI);
>> Roy B.Yanis (PDI Perjuangan); Feisal Basri (PAN);
>> Meutia Hatta (PKP); Bambang Sulistomo (PARI);
>> Yusril Ihza Mahendra (PBB)
>>
>>Hiburan Nostalgia "Buku, Pesta dan Cinta"
>>Waktu : Sabtu, 1 Mei '99, jam 11:00 - 18:00
>>Tempat : Balairung Kampus UI Depok
>>Artis : a.l., Chandra Darusman, Ikang Fawzi, Neno Warisman
>> Paragita UI, Butet Kartarajasa, dll.
>>
>>Musyawarah Nasional ILUNI-UI
>>Waktu : Minggu, 2 Mei '99, jam 9:00 - 17:00
>>Tempat : Balairung Kampus UI Depok
>>
>>Informasi lebihlanjut bisa menghubungi
>>Panitia Pelaksana MUNAS ILUNI-UI Telp. 7255434 Fax: 7201401
>>Sekretariat MUNAS ILNUNI-UI Telp. 7257129 Fax: 7221807
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com