Ada baiknya kita bagi pengalaman. Pada jaman saya yang mesti diisi adalah:
- Pekerjaan orangtua
- gaji orangtua
- jumlah keluarga
- Kakak atau adik sekolah di mana
- Suku
- Agama
- apa lagi ya....? Ini doang deh.
Nah, menurut saya kalau kita mau membuat adil kita perlu data-data tsb.
Sebagai gambaran, kebetulan pengurutan NRP atau NIM berdasarkan asal kota
pendaftaran, sehingga agak mencerminkan sebaran mahasiswa (hanya terjadi
pada tahun saya saja). Jadi NRP urut Aceh, turun ke bawah, lalu ke timur sampai
Jayapura. Tentu saja untuk membuat generalisasi agak gegabah, tapi lumayan
untuk gambaran. Sebaran untuk kelas/jurusan saya kira-kira adalah demikian:
- Aceh, Bengkulu, Lampung = 0
- Sumut = 12
- Sumbar = 6
- Riau = 2
- Palembang = 4
- Jakarta = 35
- Bandung = 25
- Semarang & Solo = 12
- Jogja = 5
- Surabaya & Malang = 12
- Bali =1
- Kalbar, kaltim, kalsel, kalteng = 0
- Ujungpandang = 1
- Ambon = 1
- NTB, NTT, Timtim, Jayapura = 0 (malah sesekolah cuman nemu 1 orang).
Angkanya ndak pas....tapi kira-kira gitu. Berdasar agama kira-kira Islam 70-%.
Berdasarkan ekonomi sulit untuk disebut, tapi umumnya yg dari Jakarta lebih
bagus daripada yg dari daerah kayak kami-kami yg modal dengkul. Kalau bicara
yg keturunan, ada 8 yg dari keturunan. Sejauh yg ada di jurusan sih tiap angkatan
ya kira-kira demikian.
Dengan dasar ini sih, nurut saya yg merasa minoritas sih mestinya sudah
diberi kadar pas. Malah lebih. Apalagi yg asal Jakarta. Sudah ekonomi lebih
baik, semuanya sudah siap secara mental. Yang kasihan ya yg nggak terwakili.
Walaupun memang nggak mesti mutlak ada karena toh nilai test yg mendapat
bobot paling utama. Nah, setuju ndak kalau untuk kasus sekolah ane proses
keadilan sudah diterapkan?
Kebetulan kita semua waktu itu hitung-hitungan angka ini karena dalam acara
penataran P4 ada kawan yg kebetulan WNI keturunan mengangkat masalah
kenapa teman-temannya di Kanisius banyak yang tidak diterima padahal lebih
pintar daripada dia. (Geee, emang kenapa dg Kanisius? Sok hebat amat).
Sorry buat yg dari Kanisius...kebetulan contoh soalnya kayak gitu. Tentu
saja teman-teman yg dari daerah nyoraki. Sok amat... Yg dari daerah
ngomong sebagai satu-satunya wakil, eh...si gemblung ini malah mau
mindahin isi seluruh SMA ke sekolah baru.
Mari lihat sekolah macam Un-Udayana, atau UNS, atau USU? Karena keterbatasan
info, maka gambaran yg kasar ya muncul dari UGM, UNS, ITS, Undip.
Sejauh info yg diperoleh dari rekan-rekan sekampung, semua sesuai dg
sebaran penduduk. Ya tentunya, kita tidak bisa mengharapkan sekian persen
mahasiswa USU dari Bali, misalnya. Nol persenpun ndak masalah. Tapi kalau bicara
diskriminasi thd WNI keturunan tetap aktual kan? Wong juga ada di Sumut.
Pertanyaannya apakah wajar nggak komposisi tsb? Nurut saya sih yg dulu
proporsinya sudah wajar. Makanya ane jengkel ndak ketulungan waktu
Mendikbud gemblung itu bikin kuota 15%. Makin ndak ketulungan lagi waktu
masih ada yg protes mestinya free competition. Sorry, buat ane kurang
membumi dan perlu dipertanyakan keberpihakannya thd rakyat kecil.
Kita mesti balik ke lapangan. Dengan kuota 15%, maka sejumlah itu pula
yg akan terisi. Ini kita bicara masalah kesempatan sekolah yang juga
berhubungan dengan kesempatan (waktu) belajar. Kita bukan bicara masalah
siapa yg berhasil lolos test dg nilai tinggi maka berhak diterima sekolah.
Akhir kata..... justice for all !!!
Salam,
Jaya
--> I disapprove of what you say, but I will
defend to death your right to say it. - Voltaire
'-------------------------------------------------------------------------------------
Alexander Lumbantobing wrote:
> Kalau soal pemerataan kesempatan yang didasarkan kepada alasan kemampuan
> ekonomis, saya sih setuju-setuju saja. Ayah saya sekedar pensiunan pegawai
> negeri, jadi pasti dia tidak akan mampu menyekolahkan anak-anaknya di
> universitas swasta, apalagi ke luar negeri. Tapi tentu saja saya menyetujui
> hal ini bukan karena saya merasa diuntungkan dengan pembatasan berdasarkan
> alasan ekonomis ini. Jika Anda membaca dengan teliti, saya merasakan ada
> sesuatu yang mengganjal dengan pertanyaan-pertanyaan lain di lembar
> pendaftaran Sipenmaru itu (selain pertanyaan mengenai keadaan perekonomian
> keluarga sang calon mahasiswa itu, lho).
>
> Saya kira pertanyaan-pertanyaan "lain" itulah yang mengusik saya. Setelah
> saya pelajari, ternyata pertanyaan-pertanyaan lain itu juga muncul di
> tahun-tahun sebelumnya (sewaktu kakak-kakak saya juga mengikuti Sipenmaru
> sebelum mereka kuliah di PTN yang sama dengan saya). Pertanyaan serupa itu
> juga muncul ketika adik bungsu saya mengikuti Sipenmaru sebelum ia kuliah di
> PTN yang lain.
>
> Keheranan saya juga bertambah ketika saya, sebagai alumni, mengobrol santai
> dengan Sekretaris Pembantu Rektor III di PTN tempat saya kuliah dulu. Sambil
> mengobrol di lantai 2 Gedung Rektorat yang berpendingin itu, saya sempat
> melihat tumpukan surat. Surat-surat ini mempunyai kepala surat dari berbagai
> PTN lain atau dari instansi departemen dan kantor kementrian. Saya tanyakan
> perihal ini kepada Sekretaris Purek III. Ternyata itu adalah surat-surat
> sakti yang sering dikirim kepada pihak PTN itu sehubungan dengan Sipenmaru
> (waktu itu sudah bernama UMPTN). Secara tidak sengaja, saya sempat membaca
> surat dari Pembantu Rektor III Universitas Palangka Raya, yang berisi minta
> "kebijaksanaan". Sang sektretaris hanya tertawa saja, ketika saya menanyakan
> hal itu. "Sudahlah, Lex. Yang begini-begini tidak diterima, kok, kalau mereka
> memang tidak mampu memenuhi persyaratan akademik kita."
>
> Kemudian obrolan berlanjut kepada penjatahan (agama, keturunan, asal sekolah)
> untuk kuliah di PTN. Nah, hasil pembicaraan beberpa tahun itulah yang saya
> pernah ungkapkan dalam mailing list ini.
>
> Mengenai penjatahan berdasarkan kondisi ekonomi keluarga, tentu saja saya
> setuju. Kurang "pas" rasanya kalau calon mahasiswa yang berasal dari golongan
> amat-kaya-raya-sekali ikut disubsidi lagi. Kuliah saya sendiri kelabakan
> (secara finansial). Untung beberapa teman sempat mengajak saya mengamen. Lalu
> kemudian ada beasiswa dari dua yayasan (satu BUMN dan satu dari kelompok
> usaha swasta). Jadi agak lega....
>
> Warm regards,
>
> Alex
--
\\\|///
\\ - - //
( @ @ )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
oooO ( )
( ) ) /
\ ( (_/
\_)