Alternatif lain adalah memperbanyak universitas-universitas berkualitas
didaerah. Kebijakan yang hanya menspesialisasikan pulau Jawa sebagai
pusat pendidikan bermutu hanya mematikan potensi rakyat didaerah.
Kemudian kelemahan lain atas pemusatan universitas bagus di P.Jawa
adalah proses diskriminasi yang juga hanya memecah belah suatu
masyarakat menjadi ekslusif kembali. Sudah saatnya universitas diluar
daerah mendapat prioritas lebih (mungkin dengan sistem otonomi luas,
daerah bisa memberi tunjangan yang menggiurkan agar dosen yang sangat
bermutu mau mengajar didaerah). Sistem otonomi luas juga menstimulasi
persaingan sehat, bahwa guru dan dosen berhak mendapat bayaran yang
menggiurkan (bukan hanya sekedar simbol pahlawan tanpa jasa yang norak
tsb :). Dengan demikian maka universitas-universitas bagus akan
berkembang dan menjamur, sekaligus memberikan kesempatan dan peluang
lebih besar kepada seluruh masyarakat untuk mendapatkan pendidikan yang
terhormat. Pendanaan bisa dilakukan oleh tokoh setempat atau tokoh
daerah dimana pemberi dana juga diberi potongan pajak. Usulan ini
membutuhkan gebrakan sistem dan peraturan dibeberapa sisi yang tentunya
akan lebih banyak positifnya daripada negatifnya.
peace.

FNU Brawijaya wrote:
>
> Ada sesuatu yang salah dari pembicaraan tentang kuota mahasiswa dari
> WNI Keturunan. Waktu itu saya sangat tidak setuju bila tidak ada kuota.
> Bila persaingan digeber 100%..... Sangat tidak adil bila 3% penduduk dengan
> keunggulan taraf hidup disuruh tanding dengan Sugiyem yang sekolah sambil
> angon. Saat ini tidak ada yg menyuarakan hal ini. Nanti ane cari saluran untuk
> menyuarakan hal ini. Saat ini kuota dinaikkan menjadi 15% dari semula 5%.
> Gile bener 15%........ sudah pada mikir implikasinya nggak sih...
>
> Untuk yg ini, perlu diperjuangkan secara hukum bagaimana hal ini mesti diatur.
> Keputusan perlu disosialisasikan agar terhindar dari tuduhan diskriminasi.
> Di AS sini saja kebijakan proporsi juga dilakukan. Sorry buat yg merasa WNI
> Keturunan nih...bukannya rasis, tapi keadilan buat seluruh lapisan masyarakat
> mesti diperjuangkan. Sekarang jaman reformasi, semua suara mesti dikumandangkan
> tanpa perlu takut dicap sebagai tukang SARA dlsb.
>
> Saya tidak tahu siapa yg menghujat anda sebagai pembela Cina. Tapi buat
> siapapun yang berniat memperjuangkan persaingan bebas yang akan merugikan
> manusia-manusia macam Sugio, perlu diminta memikirkan kembali. Ada baiknya
> jangan berkecil hati bila disebut sebagai pembela Cina. Tidak ada yang buruk dan
> tidak ada yg menyalahkan sikap anda (memangnya kenapa dg pembela Cina?).
> Kalau memang betulpun itu adalah hak anda tho bung. Statusnya sama dengan
> yang mengaku sbg pembela rakyat kecil. Tetapi bila ada yang meng-oppose
> pendapat anda, ya jangan mengkeret lalu menggerutu terus menerus....
> Hehehe....sorry....soalnya sudah baca posting senada dari anda lebih dari
> dua kali sih.... Iya endak?
>
> Salam,
> Jaya
>
> '------------------------
> Alexander Lumbantobing wrote:
>
> > Akhirnya keperluan untuk memperbaiki sistem pendidikan muncul kembali ke
> > permukaan.
> >
> > Beberapa waktu yang lalu, saya pernah mempertanyakan keberadaan sistem
> > pendidikan di Indonesia. Hasilnya saya justru dihujat sebagai pembela Cina.
> >
> > Rgds,
> >
> > Alex
>
> --
>                \\\|///
>              \\  - -  //
>               (  @ @  )
> ------------oOOo-(_)-oOOo-----------
> FNU Brawijaya
> Dept of Civil Engineering
> Rensselaer Polytechnic Institute
> mailto:[EMAIL PROTECTED]
> --------------------Oooo------------
>            oooO     (   )
>           (   )      ) /
>            \ (      (_/
>             \_)

Kirim email ke