Terlanjur basah mandi sekalian. Saya kira ungkapan ini cocok untuk kasus MUI
vs Kelompok Pesantren Nasional. Anehnya seorang yang cukup disegani seperti
Nurcholish Madjid setuju akan esensi dari pernyataan kelompok pesantren
nasional. Alwi Shihab juga dari awal menegaskan bahwa tidak ada masalah
wanita jadi Presiden.
Lebih lucu lagi Presiden PSII menyatakan bahwa jika jadi wapres ok, tetapi
jadi presiden tidak. Kembali kefatwa MUI, jika yang dituju bahwa wanita
tidak dapat jadi pemimpin, lalu apa kriteria pemimpin disitu. Kenapa Aisyah
Amini dan Tuty Alawiyah bisa jadi menteri, ataupun banyak wanita lainnya
yang jadi direktur.
Kebingungan dan keanehan masyarakat akan fatwa yang dikeluarkan yang jelas
tujuannya menjegal Mega dan ingin menggolkan lain, dinilai merupakan campur
tangan terlalu jauh, yaitu terjun langsung dalam suksesi. Yang mampu
menjelaskan kesalahan MUI haruslah ahli agama atau kyai. Karena itulah KPN
bergerak, membantu keterangan yang telah dibuat oleh Alwi Shihab dan banyak
pendapat ahli lainnya. Jadi KPN hanya bereaksi terhadap aksi MUI yang
dianggap kurang tepat. Saya kira ini wajar saja antar lembaga agama, yaitu
saling mengingatkan antar satu dengan yang lain. Saya hanya bisa ikut
berharap, mudah-mudahan bangsa kita tidak pecah dengan mudah karena ada
pendapat yang kurang tepat.
Widjojo Adi Prakoso,Cornell U.,Ithaca,NY wrote:
> Membaca berita kemarin tentang pertemuan sejumlah tokoh NU, reaksi saya:
> Kemana KH Ilyas Ruchyat, Rois Aam Syuriah PBNU?
> Kemana KH Ali Yafie, ketua MUI dan mantan pembesar PBNU?
> Baru hari ini saya sedikit mendapat sedikit 'insight', setelah membaca
> berita Republika.
>
> ... ''Saya sama sekali tidak mendapatkan undangannya. Pertemuan
> ini kan diprakarsai oleh Kiai Mustofa Bisri, sehingga apa yang
> akan dibicarakan lebih lanjut saya tidak mengetahui,'' jelas Kiai
> Ilyas kepada Republika kemarin.
>
> Namun, pertanyaan tentang kenapa-nya belum terjawab. Saya jadi
> bertanya-2, apa pernyataan berikut merupakan jawabannya.
>
> ... Pertemuan Rembang yang memperbolehkan wanita menjadi presiden,
> menurut Ketua Umum Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur,
> KH Hasyim Muzadi, bukanlah mewakili suara NU. Keputusan itu, katanya,
> hanyalah sebagai aspirasi sebagian ulama Partai Kebangkitan Bangsa
> (PKB).
>
> Tentang KH Ali Yafie, kesimpulan saya:
> KH Ilyas Ruchyat saja tidak diundang, apalagi beliau.
>
> Bingung saya jadinya, mereka mengecam MUI karena "bermain politik',
> tapi mereka sendiri koq ikut "bermain". Ada yang bisa menjelaskan?
>
> widjojo