Hehehe..
semoga tulisan saya ini tidak membuang2 waktu rekan2 lain yang mau membaca. saya coba 
sesingkat mungkin.
banyak hal2 lain yang saya ingin analisa. tapi berhubungan saya juga masih banyak 
analisa2 lain buat presentasi kelas saya jadi saya tulis tentang satu ini dulu.

kenapa indonesia butuh mata uang stabil ?
Pertama. Bila suatu perusahaan ingin membuka usaha atau melakukan ekspansi tentu saja 
dia harus menghitung cost-benefit dari suatu usaha yang akan dilaksanakannya.
Selalu pada akhirnya akan dihitung Present Value dari project tersebut.
Nah, seperti yang namanya cost-benefit atau untuk mempermudah pengertiannya anggap 
saja uang masuk dan uang keluar.

Seperti kita ketahui semua project itu pasti ada biaya dan akan ada pendapat. bila 
ternyata project ini membutuhkan bahan baku yang harus dibeli dengan dollar, maka bila 
rupiah tidak stabil tentu akan mempersulit penghitungan feasibility project tsb.
contoh: misal project mobil.
asumsi: semua bahan baku lokal kecuali ban mobil.
asumsi biaya: 10 jt lokal
dan variable untuk ban 50 dolar.

disini kita sudah bisa menghitung betapa pentingnya nilai rupiah yang stabil.
berapapun nilai rupiah tidak terlalu dipermasalahkan.
jika memang rupiah pada saat periode 1 10,000 maka mobil itu akan dijual dengan biaya 
10,5 juta.
nah tapi karena tidak stabilnya rupiah maka pada saat periode 2 dollar 5000, yang 
mestinya terjadi mestinya harga mobil = rp. 10.25 juta.
bila ini terjadi, maka pabrik mobil akan rugi karena menggunakan sistem inventory 
(FIFO/LIFO)yang mengharuskan mereka melakukan penghitungan ulang untuk harga jual.
Sedangkan bila tiba2 dollar menjadi 20000, pabrik mobil pun akan rugi karena harga 
jual akan naik, menjadi 11 juta. kenapa rugi, harga mobil akan terlalu mahal. mereka 
yang telah menyiapkan uang 10.5 juta akan berpikir 2 kali untuk membeli mobil.

diatas adalah salah satu contoh mudah kenapa mata uang mesti stabil.
in conclussion, untuk mempermudah penghitungan bisnis ataupun rapbn pemerintah yah 
diperlukan kestabilan. sehingga pengeluaran dan pemasukan dapat diproyeksikan seakurat 
mungkin.

begitu pak irwan..
lagian masyarakat bisnis kita mesti dilatih untuk menggunakan bahan lokal sehingga 
flukuasi diharapkan tidak akan terlalu mengganggu lagi.

nah.. semoga berguna.. jadi 5000 .. 20000.. berapupun juga sama saja.. asal stabil...
so next time.. kalo bisa mau analisa ekonomi wes politiknya jadi dikedepankan banget..

banyak faktor yang membuat rupiah berfluktuasi. kalo anda masih ingat kuliah statistik 
atau quant. method pasti diajarkan bahwa regressi yang paling sederhana saja paling 
tidak butuh 2 faktor. untuk memperkecil error semakin banyak faktor semakin bagus.

kalo hanya dengan satu faktor yaitu megawati maka rupiah bisa 5000.. wah om soros dan 
pangeran brunei pun bisa kalah nanti duitnya sama anda..

salam ekonomi ..

faran
--

>Irwan:
>Atas dasar asumsi atau logika apa anda mengatakan pada
>tingkat 5000 tidak membuat ekonomi Indonesia membaik?
>Coba dong kalau anda memberikan argumentasi didukung
>paling tidak dengan logika kalau tidak bisa dengan data.
>Tahukah anda bisnis susah berkembang sekarang di
>Indonesia karena daya beli masyarakat rendah apalagi ditambah
>barang/jasa kita masih banyak mengandung komponen importnya.
>
>Dikalimat berikutnya anda mengatakan bahwa yg kita butuhkan
>adalah rupiah yg stabil. Sadarkah anda bahwa dua kalimat anda
>tersebut tidak berkaitan satu sama lain?
>
>Saya setuju bahwa pelaku bisnis kita membutuhkan rupiah
>yg stabil. Yang menjadi masalah sekarang adalah stabil dimana?
>Stabil di 10 ribu, 8 ribu, atau 5 ribu?
>Saya mengajukan pemikiran dengan memperhatikan kepentingan
>banyak pihak yaitu importir, eksportir, dan masyarakat, bahwa
>tingkat 5000 itulah yg saat ini merupakan tingkat ekuilibrium
>dengan menggunakan asumsi masalah politik dan keamanan
>sudah bisa diminimumkan, kepercayaan sudah bisa dipulihkan
>(saya memberikan perkiraan 4-8 minggu setelah Megawati terpilih
>secara aklamasi).
>Apakah para eksportir masih bisa survive di tingkat 5000 tersebut?
>Bisa dilihat tulisan saya di:
>http://www.detik.com/berita/199906/19990623-0945.html
>
>Faran:
>>  so buat rekan2 yang memang lagi belajar disini seperti saya.. kita masih
>> perlu banyak belajar dari orang amerika. bukan bermaksud sombong. tapi
>orang
>> indonesia ini emang typicallnya kalo punya lebih sedikit merasa lebih
>> segunung.
>
>Irwan:
>Satu lagi yg bisa saya tambahkan, kelemahan sebagian
>orang Indonesia kurang punya confidence kalau harus berhadapan
>dengan asing. Rekan Nasrullah Idris sering kali mengajak kita
>di milis ini untuk tidak takut dengan mereka. Christianto Wibisono
>dalam beberapa tulisannya sering secara implisit menunjukkan
>bahwa orang bule itu sebenarnya tidak jauh berbeda kemampuannya
>dengan kita. Seorang rekan saya disini yg juga seorang dosen
>di Cleveland dan sering membuat tulisan di media cetak nasional
>yg kumpulan tulisannya juga sudah dibukukan, Budi Soetjipto,
>sering kali mensupport kami2 yg di Cleveland untuk punya
>confidence yg tinggi bila berhadapan dengan bule.
>Kelebihan dari bule dibanding orang kita katanya, orang bule
>tuh punya confidence yg tinggi dan mereka terbiasa berpikir
>secara sistematik (mengikuti sistem yg berlaku) dan prosedural
>Saking sistematik dan proseduralnya cara berpikir mereka,
>ketika dia memberikan suatu tugas yg diluar dari kebiasaan yaitu
>para mahasiswanya diminta mempresentasikan suatu paper yg
>telah jadi (milik orang lain), mahasiswanya malah kebingunan harus
>berbuat apa karena memang mereka terbiasa untuk mempresentasikan
>paper kita sendiri.
>
>Makanya saya ngga heran kalau dosen anda kebingungan untuk
>mencoba memperkirakan pergerakan rupiah atau pun fenomena
>ekonomi yg ada di Indonesia karena memang tidak ada jaminan
>kebijakan suatu ekonomi bisa berhasil di satu daerah/negara maka
>akan berhasil pula di daerah/negara lain. Kondisinya bisa punya
>karakter yg berbeda. Tentunya kita disini tidak sedang bicara
>ilmu tubuh lho dimana jantung orang Indonesia dan jantung
>orang bule ya samalah, sama2 jantung yg itu2 juga....:)
>Ketika kita bicara ilmu sosial, maka kita harus hati2 dengan
>asumsi2 yg digunakan.
>
>Saya tidak pernah merasa menjadi orang yg paling hebat,
>tapi saya tidak akan pura2 menyangkal bahwa saya bisa
>punya kelebihan jam terbang untuk urusan saham dan currency.
>Jangan kita menjadi rendah diri dan jangan pula kita menjadi
>sombong. Saya diajarkan oleh orang bule untuk tidak takut
>mengakui memiliki sesuatu dan punya confidence akan hal tersebut
>dan selalu membuka diri akan kritikan dan masukan dari orang
>lain.
>
>Silahkan kritik tulisan2 dan opini2 saya, saya akan senang
>membacanya karena dari saya akan belajar dan memperbaiki
>kekurangan2 yg ada. Kritikan2 atau pun serangan2 tidak
>akan mematikan saya untuk menyampaikan pendapat/opini.
>
>Mari kita saling bertukar pendapat secara lebih sehat dan
>memberi nilai tambah agar waktu dan tenaga yg kita keluarkan
>di milis ini tidak hanya terbuang untuk suatu yg tidak jelas.
>
>
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
>


DC Email!
free email for the community - http://www.DCemail.com

Kirim email ke