In a message dated 10/8/99 8:31:24 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Kalau saya ingin menghimbau, tulisan Bung Irwan
> belum tentu benar, tetapi paling tidak beliau
> telah berani mengeluarkan hasil pemikirannya.
> Dan mudah2an ide-nya adalah 'genuine'...
Irwan:
Betul bung bridwan. Dalam suatu analisa/prediksi saya tidak
pernah membuat "JAMINAN 100%" .
Mungkin karena masih ada bagian masyarakat yg belum
bisa membedakan mana opini seseorang dan mana berita.
Opini atau pun analisa2 saya atas rupiah dan saham semuanya
berdasarkan pengamatan atas pasar, karakter pasar, sentimen
pasar. Saya hanya coba terjemahin dalam bentuk kata2
dan sekaligus mencoba mengantisipasi bila suatu skenario
terjadi. Saya katakan bahwa bila Megawati bisa terpilih
secara aklamasi rupiah akan mencoba menembus Rp5000
hendaknya tidak diartikan bahwa kalau capres lain terpilih,
katakanlah Gus Dur, maka rupiah akan anjlok. Di dalam
artikel tersebut pun saya tidak membuat prediksi sedikitpun
akan rupiah dan saham bila capres yg terpilih adalah Gus Dur.
Kenapa? Karena memang saya kurang data untuk hal tersebut.
Selama ini sepengamatan saya terhadap pergerakan2 yg ada
ya mengidentifikasikan hal demikian.
Nah, kalau mau menyangkal opini saya, silahkan tunjukan
hal tersebut. Tapi jangan hanya mengirimkan komentar2
yg hanya penuh emosional saja. Walau demikian saya maklum
koq, tampaknya analisa yg saya berikan tidak sesuai dengan
harapan mereka atau bahkan mungkin interest mereka...:)
Makanya, saya mah bisa maklum bila ada ketakutan
rakyat2 kecil yg memilih Megawati bisa ngamuk bila
jagoannya/harapannya tidak terpenuhi. Lah yg katanya
educated bisa ngamuk/emosional membaca pendapat yg
tidak sesuai dengan pikiran ataupun kepentingannya.
Bukankah jadi aneh dilihat, di satu sisi mereka meminta pemilih
Megawati untuk bisa menerima bila nanti capres yg terpilih
tidak sesuai dengan yg mereka mauin, eh di sisi lain mereka
ngamuk/emosional ketika membaca suatu opini yg tidak
sesuai dengan harapan/kepentingan mereka. Ironis memang...:)
bridwan:
> Nah, bagi yang kurang (atau tidak) setuju dengan
> pandangan beliau, akan lebih baik lagi kalau
> penyanggahannya dibuat dengan baik (dan manis).
> Jangan malah dengan umpatan, ledekan atau apapun
> namanya.
Irwan:
Ini yg saya tunggu2 sebenarnya.
Soal 35% yg katanya tidak bisa dikatakan mewakili rakyat,
sudah saya berikan landasan berpikirnya.
Soal angka Rp5000 pun sudah saya berikan perhitungan
atas dasar perbandingan negara dan situasi.
Soal kenapa Megawati, juga sudah saya berikan dasar
pemikirannya.
Soal kenapa sebaiknya tidak voting tapi secara aklamasi pun
sudah saya berikan dasar pemikirannya.
Walau demikian, saya sadar koq kemungkinan tidak voting
itu kecil, tapi itu tidak menyurutkan saya untuk menyuarakan
kebenaran yg menurut saya perlu kita terapkan. Sama juga
seperti upaya menghapus korupsi yg bisa dibilang hampir
tidak mungkin. Tapi, walau hampir tidak mungkin itu toh
bukan berarti kita jadikan alasan untuk tidak bersuara, bukan?
Namanya opini itu masih bisa diperdebatkan.
Umumnya sih akan berkisar pada asumsi yg digunakan.
Tapi, bagaimana kita bisa adu argumentasi kalau
yg memberi respon hanya kasih komentar2 seperti:
"detik.com kecolongan", "koq cuma segitu doang analisanya",
"terlalu optimis", "sudahlah, irwan ngga usah diladeni", "jauh2
sekolah bisanya cuma nulis segitu", dan komentar2 sejenis
yg sudah rekan2 lihat sendiri.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu