In a message dated 10/8/99 6:08:47 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Jelas paruh atas dari posting Bung Irwan tidak berhubungan dengan separuh
>  yang bagian bawah dari posting ini. Mengapa?
>  - Sudah ngomongin AR yang didukung banyak pihak kecuali PDIP+PKB.
>    Ingat lho, PKB waktu itu belum tahu keseriusan pengangkatan Gusdur
>    sebagai capres. Coba kalau sudah tahu, PDIP bakalan sendirian.
>    Paling dibelain sama Matori yang sempet diiming-imingin jadi wapres.
>  - Sudah ngomongin AT yang juga didukung oleh PDIP
>  - Lagi-lagi kepercayaan RAKYAT untuk Megawati
>  - Tidak memperhitungkan manuver PDIP yang berusaha merangkul Golkar
>    dengan mengiming-imingi AT jawaban wakil presiden.
>  - Jadi mana tuh kepercayaan rakyat bahwa PDIP anti Golkar?
>
>  +anjas


Irwan:
Bung Anjas, ini dari posting saya tersebut adalah menjawab
hal yg berhubungan dengan angka "5000".
Saya lihat anda tidak memberikan komentar atas apa yg
saya sampaikan seputar dasar dari saya memberikan
angka "5000". Mudah2an anda dan rekan2 lainnya kini
melihat bahwa sebenarnya angka 5000 itu bukan angka yg terlalu
mengada2 atau pun terlalu optimis.

Mengenai komentar anda di atas, saya hanya bisa
menyampaikan sudut pandang anda dan saya berbeda.
Saya berusaha agar kita kembali ke demokrasi rakyat
ketimbang demokrasi arisan, sementara anda tidak
keberatan dengan demokrasi arisan. Bila diskusi dengan
landasan yg berbeda ini diteruskan, sampai kapan pun
tidak akan ketemu.

Sama juga dengan diskusi yg mengatakan konstitusi
kita mengatakan bahwa presiden dipilih oleh MPR dan
bukan rakyat. Siapa pun tahu ini, itulah sebabnya kenapa
saya sering nulis agar para wakil di MPR mau
menghormati pilihan rakyat. Justru akan menjadi aneh
kalau saya menulis hal yg sama bila presidennya sudah dipilih
langsung oleh rakyat.

Saya menulis hal tersebut karena sebenarnya saya dan
mereka para wakil rakyat punya semangat yg sama
yg menginginkan pemilihan langsung oleh rakyat untuk
memilih presiden pada pemilu tahun 2004.
Bedanya, semangat saya itu langsung diterapkan saja
pada hasil pemilu sekarang yg sama2 kita ketahui
bahwa pemilu kemarin diadakan untuk memilih presiden
yg baru sehingga kita bisa melihat pemilu yg lalu partai2
mayoritas banyak yg berkampanye dengan mengajukan
capresnya masing2. Capres dijadikan "alat jual" mendapatkan
suara. Sayangnya menurut saya, wakil2 yg sekarang
sebagian masih mencoba memanfaatkan konstitusi untuk
kepentingan2 tertentu ketimbang mendahulukan semangat
rakyat yg bisa kita lihat dari hasil pemilu lalu.

Jangan kaget dan heran nanti kalau dari mulut yg sama mereka
meminta konstitusi yg memuat tentang pemilihan presiden
dirubah agar presiden bisa dipilih secara langsung oleh rakyat.
Aneh bukan, bila nantinya mereka meminta konstitusi
dirubah tapi sementara ini memanfaatkan konstitusi yg sama
untuk membenarkan penolakan atas capres pilihan rakyat
dari hasil pemilu lalu. Inilah politik. Dagang kiri dagang kanan
seperti merupakan hal biasa saja. Sementara sebagian
rakyat menanti dengan was2 akan nasib mereka dan mereka
dipaksa harus menyadari dan menerima bahwa ternyata
suara mereka di pemilu kemarin bukan suara final

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke