In a message dated 10/15/99 2:54:12 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Saya juga melihat ketidak-benaran argumen anda tuh, tepatnya kebenaran yg
>  tidak mutlak. Teori anda tentang berbagai currency cuman teori umum. Anda
>  sendiri bilang bidang sosial tidak ada yang pasti.

Irwan:
Ada salah pengertiandisini. Saya tidak pernah mengatakan bahwa
saya punya suatu teori atas pergerakan currency. Saya pun tidak
pernah mengatakan bahwa apa yg saya katakan dalam analisa2
pergerakan currency adalah berdasarkan teori tertentu.
Analisa2 yg saya lakukan cenderung menggunakan analisa logika
yg didukung dengan data2 lapangan. Silahkan lihat kembali
pemaparan saya tentang asal muasal angka 5000 yg saya berikan.
Lihat juga alasan2 saya dalam memprediksi trend berdasarkan
apa yg pernah terjadi sebelumnya.
Walau demikian, saya bisa memaklumi bahwa analisa2 saya
mengenai pergerakan saham dan indeks bisa jadi adalah suatu
yg baru buat beberapa rekan sehingga masih sulit untuk bisa
diterima. Bahkan, ketika dulu saya memberikan analisa2 grafik
untuk mengantisipasi suatu pergerakan mata uang atau pun
indeks dan harga saham, beberapa anggota di milis tersebut
sempat sulit menerima. Mereka berpikir bagaimana mungkin
suatu nilai tukar atau pun harga saham bisa ditentukan/diprediksi
hanya dari melihat grafiknya. Tapi, sejalan dengan waktu
akhirnya banyak sekarang yg menggunakan grafik untuk
dijadikan acuan kapan saat masuk kapan saat keluar
dalam trading currency atau pun saham.


>  Nyatanya anda tidak mampu memprediksi dengan baik kejadian rupiah yg anjlok
>  sampai menembus 15,000. Saya masih ingat yang itu. Kalau model
menebak-nebak
>  sih bukan kerjaan sulit. Maaf saja ini bukannya memandang rendah anda.
>  Nyatanya analisis KKG (yg kadung didaulat ahli ekonomi) saja tidak ada yang
>  menyenggol kebenaran sama sekali. Bahkan sampai sekarangpun.

Irwan:
Dalam salah satu posting saya beberapa hari yg lalu, saya
dengan terbuka menyatakan bahwa saya dulu pernah salah
dalam memperkirakan penurunan rupiah. Kemudian saya coba
lihat kembali, kenapa dulu saya salah. Akhirnya saya menyadari
karena saat itu rupiah baru dilepas dari managed floating menjadi
free floating, grafik belum terbentuk. Menjadi kurang tepat bila
saat itu menggunakan grafik. Walau demikian, pada bulan
Desember 1997 (minggu ketiga kalau tidak salah ingat),
saya sempat mencium adanya ketidakberesan
pada pergerakan rupiah. Silahkan lihat kembali arsip di milis
ini atau pun apakabar@. Saya waktu itu mengatakan bahwa
tampaknya ada suatu gerakan dari orang yg menguasai informasi.
Orang tersebut bisa saja berasal dari orang2 yg dekat dengan
lingkaran kekuasaan (pejabat2 atau pun menteri2) yg mungkin
dengan tujuan menyelamatkan aset pribadi dari rupiah ke dolar.
Sekitar seminggu kemudian, hal ini menjadi ramai. Bahkan
menkeu saat itu sampai perlu mengeluarkan pernyataan akan
menyelediki apakah benar ada para pejabat pemerintah yg bermain
dolar. Seorang wapemred majalah nasional termuka sampai
menghubungi saya lewat japri karena tertarik dengan apa yg
saya tulis. Dia meminta saya untuk membuat tulisan2.
Sayangnya saat itu kondisi saya kurang memungkinkan.

Bagi saya adalah bukan bidang keahlian KKG untuk
memperkirakan pergerakan rupiah secara teknis. Dia punya
pengetahuan untuk menganalisa secara fundamental, tapi
kurang dalam hal pengalaman menganalisa secara teknis.
Hendaknya ini bisa dimaklumi terlebih dahulu.
Banyak orang saat itu yg mempunyai kemampuan jauh
di atas saya dalam melakukan analisa grafik. Hanya saja
bedanya, saya suka menulis secara terbuka (berhubung
amatiran) mereka cenderung menulis untuk nasabah/klien
nya mengingat profesionalisme pekerjaan mereka.

Sementara pendapat analis2 ekonomi yg sering anda baca
di media cetak/online nasional, sepengetahuan saya adalah
bukan bidang mereka dalam membuat analisa2 teknis
atas pergerakan suatu mata uang.
Pengecualian untuk Theo Toemion yg memang profesinya
adalah sebagai pengamat sekaligus consultant dalam masalah
pergerakan mata uang (rupiah).
Yang membedakan saya dengan Theo adalah dia mungkin
punya posisi long or short di rupiah, sementara saya
tidak memiliki posisi apa pun selain pegang dolar
untuk kebutuhan hidup disini...hehehehehe....:)

>  Satu hal dari yg di atas, apa yg anda sebutkan bisa salah bisa betul.

Irwan:
Seperti yg saya katakan, tidak ada seorang pun analis yg
bisa memberikan jaminan 100% terhadap pergerakan satu
mata uang. Siapa pun itu orangnya, tanpa terkecuali seorang
Soros sekali pun. Hal ini hendaknya disadari terlebih dahulu
dari awalnya. Analisa yg saya berikan adalah berdasarkan
trend yg sempat saya indikasikan. Jelas, bisa benar dan bisa
salah.  Saya pun di milis rupiah atau saham sering kali
juga mengingatkan bahwa resiko untuk rugi selalu terbuka
bagi para trader yg jual/beli mata uang atau pun saham.

Analisa saya di detik.com itu pun awalnya hanya untuk konsumsi
milis rupiah dan saham yg tidak saya sangka dimuat di detik.com
(bahkan terakhir saya dengar dimuat juga di "Moneter Indonesia",
entah media di mana ini). Tulisan analisa seperti itu menurut
saja bukan konsumsi untuk khalayak umum yg beragam latar
belakang dan interestnya. Saya berikan komentar dan penjelasan
di milis ini pun juga karena ada rekan yg memforwardkan
tulisan di detik.com ke milis ini.

>  Ada
>  dua issue yg anda jadikan modal untuk meyakinkan peserta milis, yaitu teori
>  currency, dan situasi politik. Berhubung yg menyangkut currency cuman
global
>  saja, saya atau siapapun tidak akan menyalahkan. Tetapi giliran anda
>  hubungkan dengan politik, anda menjadi keluar dari sikap ilmiah anda karena
>  spekulasi sudah mulai anda masukkan.

Irwan:
Seperti penjelasan saya sebelumnya, silahkan anda melakukan
riset sendiri atas pergerakan mata uang dan indeks saham
bulan2 sebelumnya. Analisa saya hanya mencoba mencari
trend yg ada. Kenapa pasar memberikan reaksi positif ke Megawati,
selama bulan2 yg telah lalu, ya jangan tanya ke saya dong.
Hal tersebut khan diluar kontrol saya. Nah, saya sebagai seorang
yg sering bikin analisa di milis rupiah dan saham, kudu jeli
melihat trend pasar yg ada dan membagikan apa yg saya lihat
tersebut ke rekan2 di kedua milis tersebut.

Banyak analisa2 saya di kedua milis tersebut yg bisa
anda telusuri kalau berminat. Silahkan juga dinilai kembali
berapa persen tingkat ketepatan saya dalam mengantisipasi
pergerakan mata uang (termasuk Yen di dalamnya).
Yang pasti, tidak 100% saya mampu memperkirakan pergerakan
mata uang secara tepat dan akurat sampai ke detil waktu dan
angkanya....:)

Analisa saya terakhir di milis rupiah adalah tanggal 11 Oktober
ketika rupiah berada di sekitar 7800.
http://www.egroups.com/group/rupiah/1548.html?
Saya katakan disana, bila rupiah mendapat berita negatif
maka rupiah akan mencoba ke 8500. Kemarin di monitor
saya sempat menunjukkan angka 8492 (tampaknya pasar NY)
sebelum rebound pagi ini.

>  Ingat lho, kemarin anda hanya menghubungkan teori currency dengan text
book,
>  dan memberikan sekelumit teori di sini.

Irwan:
Seingat saya, tidak pernah saya disini mengaikan analisa
saya dengan teori currency apalagi dengan text book.
Mungkin saya terlewat atau tidak sadar, bisa disebutkan
kembali apa yg saya sampaikan tersebut?

>  Jelas yang begituan segudang dong.
>  Cuman giliran anda menghubungkan dengan keyakinan pasar dengan naiknya
>  Megawati, nah itu menjadi sekedar spekulasi saja. Namanya juga spekulasi,
>  jelas anda tidak akan dapat memberikan data berupa referensi textbook.

Irwan:
Seperti yg sudah saya katakan, saya hanya mengantisipasi
trend ke depan dari apa yg ada sebelumnya (hari2/minggu2/bulan2
sebelumnya). Kalau anda melakukan riset untuk melihat
trend2 sebelumnya, maka dengan mudah anda akan
melihat apa yg saya indikasikan tersebut.

Barusan saya lihat kembali artikel di detik.com dengan tulisan
awal saya yg tampaknya ada perbedaan kecil tapi mendasar.
Di detik.com yg bisa dibaca ulang di:
http://www.detik.com/berita/199910/19991007-1030.htm
tertulis:
"Pasar, menurut Irwan, telah melihat sinyal Megawati akan terpilih
sebagai presiden. Hal itu tercermin melalui manuver-manuver
politik yang terjadi pada pemilihan ketua MPR dan DPR."

Sementara di tulisan awal saya yg belum di edit ulang oleh
detik.com yg bisa dilihat di:
http://www.egroups.com/group/rupiah/1536.html?
tertulis:
"Menurut perkiraan saya, tampaknya Megawati akan terpilih
sebagai presiden setelah memperhatikan manuver2 politik
yg terjadi pada pemilihan ketua MPR dan DPR yg lalu."

Padahal kita tahu bahwa perkiraan saya atas naiknya Megawati
belum tentu sama dengan perkiraan pasar. Karenanya adalah
tidak tepat kalau detik.com menulis seperti di atas.

Satu pertanyaan dari saya. Siapakah presiden AS yg akan
terpilih nanti tahun 2002 apakah ada referensi textbook-nya?...:)
Bottom line, siapapun juga tahu bahwa soal perkiraan siapa
presiden nanti yg akan terpilih tidak dapat kita jumpai dalam
teori2 atau pun di buku2 pelajaran yg ada.
Jadi, kenapa harus dipermasalahkan?


>  Hasilnya ya seperti kita ngobrol di warung kopi. Tidak ada yg bisa
>  membantah, tetapi tidak ada pula yang bisa membenarkan. Yah namanya juga
>  rumour mas...;).

Irwan:
Tidak sepenuhnya benar. Anda bisa bertanya atas dasar
apa pasar akan bereaksi positif bila Megawati terpilih jadi
presiden. Pertanyaan seperti ini menurut saya adalah pertanyaan
yg kritis. Dan saya pun sudah memberikan penjelasan
dasar perkiraan saya tersebut dengan memperhatikan trend
bulan2 sebelumnya. Atau juga yg bertanya dari mana angka 5000
itu saya dapatkan. Saya pun sudah memberikan perhitungan
yg berdasarkan situasi dari sebelum krisis dimulai sampai
sekarang dengan membandingkannya ke Thailand dan Philipina.
Masalah analisa saya mau diterima atau tidak, itu tidak
menjadi masalah. Setiap orang bebas untuk itu karena apa
yg saya sampaikan adalah bukan BERITA tapi ANALISA
saya atas situasi yg ada.

Dan perlu juga dicatat bahwa analisa saya tersebut
membutuhkan kondisi:
1.Semakin menguatnya indikasi Megawati akan terpilih
   secara aklamasi.
2.Megawati terpilih secara aklamasi.
Tanpa poin 1, maka analisa saya tersebut sebagian
tidak bisa lagi berlaku. Tanpa poin 2, maka analisa
saya terhadap pergerakan rupiah dan indeks saham
tidak lagi berlaku. Perlu analisa baru walau pun
seandainya Megawati terpilih tapi dengan cara voting.
Semoga bisa dimengerti terlebih dahulu dalam melihat
suatu analisa yg menggunakan asumsi2 atau pun
persyaratan kondisi.

>  Ngomong-ngomong kenapa anda tidak memasukkan policy keuangan RI saat ini,
>  dan juga pengaruh policy luar negeri macam Singapura dan Jepang ke dalam
>  analisis anda sih?

Irwan:
Karena saat ini menurut perkiraan saya momentum yg ditunggu oleh
pasar adalah pemilihan presiden, siapa yg akan menjadi
presiden RI berikutnya.


jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke