Good comment!
Anda cukup jeli.
Inilah yang akan saya tulis sebagai lanjutan tulisan saya.

Bagi daerah yang punya PDB rendah atau tidak punya sama sekali (para pakar
sudah mengidentifikasi ini kemungkinan akan sebanyak 11 propinsi) tentu
saja harus disubsidi oleh pusat dalam jumlah yang significant, yang dapat
menggerakkan dinamika daerah. Soal berapa besarnya, silahkan para ekonom
yang menghitungnya. Ilmu saya nggak nyampai ke detil ini.

Hal ini masih sangat dimungkinkan, mengingat daerah-daerah yang
berpenghasilan besar hanya diambil 50% saja PDB-nya oleh pusat, sehingga
sebagian dari dana yang masih terkumpul di pusat ini bisa dialokasikan atau
disubsidikan ke daerah-daerah ber PDB rendah atau nol.

Ngomong-ngomong, komentar anda kok rada bernada memarahin. Apa saya yang
over peka ya...? Mudah-mudahan saya salah.

Salam,
Budi

At 02:23 AM 1/5/00 -0500, you wrote:
>Yang di bawah ini sih bukan untuk menyelesaikan masalah Ambon. Yang anda
>perlu jawab, berapa PDB Ambon? Jangan-jangan anggaran yang ada saat ini
>sudah tekor? Makin minus dong. Makin banyak bunuh-bunuhan dong. Makanya
>jangan melihat suatu masalah di suatu tempat dengan berpatokan pada
>keglamoran SDA di tempat lain. Bila anda sudah dapat melakukannya dan
>menemukan fakta di lapangan, nah, welcome to the real world.
>
>
>Jeffrey Anjasmara
>
>'--------------------------------------
>>From: Budi Haryanto <[EMAIL PROTECTED]>
>>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>>To: [EMAIL PROTECTED]
>>Subject: Re: gimana caranya...(sibukkan dengan hal lain)
>>Date: Tue, 4 Jan 2000 12:06:53 -0800
>>
>>Kedua (untuk seluruh daerah di Indonesia), terapkan modifikasi UU No.25
>>tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dan UU No.22 tentang
>>Pemerintah Daerah (otonomi) segera. Maksud saya modifikasi di sini
>>adalah, kalau di UU 25 hanya sebesar sekitar 18% pendapatan daerah yang
>>akan dikembalikan ke daerah tsb, ubah menjadi 50%. Ini akan bikin pening
>>daerah karena datangnya duit yang sedemikian banyaknya. Modifikasi UU 22
>>adalah beri peluang luas bagi daerah untuk membuat sendiri visi dan misi
>>(arah) pembangunan daerah yang diinginkannya. Dengan dua hal tsb, akan
>>terjadi guliran dinamisasi pembelanjaan dana dan pembangunan di daerah.
>>Misalnya saja, gaji pegawai akan ditingkatkan (dengan konsekuensi harus
>>profesional dan tidak boleh mangkir). Karena banyak duit, maka peluang
>>terbukanya pasar kebutuhan berbagai keperluan akan marak. Sudah barang
>>tentu hal ini akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para swasta. Di sisi
>>SDM, karena duit sekarang ada di daerah, maka banyak orang berkualitas
>>di pusat akan hijrah ke daerah (karena kemungkinan bisa digaji lebih
>>atau gaji sama dengan tingkat pengeluaran yang lebih murah) yang pada
>>gilirannya akan menjadikan lebih dinamisnya segala kegiatan di daerah.
>>Nah kalau secara natural hal ini terus bergulir, jadi sibuklah setiap
>>orang dan bergairah untuk bekerja. Lupalah orang akan pekerjaan tambahan
>>banta-membantai seperti selama ini.
>>
>>Mungkin nggak sih?
>>Nunggu komentar untuk tulisan berikutnya.
>>
>>Salam,
>>Budi
>>

Kirim email ke