Sorry, kalau dalam beberapa hari belakangan ini saya
tidak merespon ke milis permias dikarenakan saya demam
tinggi, mungkin oleh2 dari Times Square kemarin....:)

In a message dated 1/4/00 3:16:36 PM Eastern Standard Time, [EMAIL PROTECTED]
writes:

>  Saya masih berkeyakinan bahwa akar
>  dari beringasnya masyarakat adalah karena beratnya beban ekonomi dalam
>  kurun 3 - 4 tahun terakhir.

Irwan:
Perut kosong biasanya membuat orang menjadi lebih nekat.
Perus terisi membuat orang menjadi lebih malas berbuat yg
macam2.
Cuma saja, perut gendut/buncit perlu diwaspadai...hehehehehe

>  Lalu bagaimana caranya?
>  Pertama kali, bagi daerah yang bertikai, sudah barang tentu harus
>  dihentikan pertikaian tsb. Dan ini tentulah tugas dari aparat keamanan
>  yang netral dan tidak berpihak. Bagaimana caranya? Ya biar TNI/POLRI
>  yang mikirin ini, khan sudah pekerjaan dan bidangnya. Kalau nggak bisa,
>  ya masak saya yang rakyat jelata ini harus jadi Pangab dulu untuk
>  mengatasi hal tsb? Bisa gila dunia ini kalau itu terjadi.

Irwan:
Yang juga perlu dipikirkan adalah adanya kelompok/kubu tertentu
dijajaran TNI/POLRI. Anda bisa ikuti perkembangan akan hal ini
dari media2 online. Itulah sebabnya, kenapa kasus Ambon ini
ngga begitu gampang diatasi. Terlalu banyak kepentingan kelompok
yg bermain dibelakang peristiwa ini.


>  Kedua (untuk seluruh daerah di Indonesia), terapkan modifikasi UU No.25
>  tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dan UU No.22 tentang
>  Pemerintah Daerah (otonomi) segera. Maksud saya modifikasi di sini
>  adalah, kalau di UU 25 hanya sebesar sekitar 18% pendapatan daerah yang
>  akan dikembalikan ke daerah tsb, ubah menjadi 50%. Ini akan bikin pening
>  daerah karena datangnya duit yang sedemikian banyaknya. Modifikasi UU 22
>  adalah beri peluang luas bagi daerah untuk membuat sendiri visi dan misi
>  (arah) pembangunan daerah yang diinginkannya. Dengan dua hal tsb, akan
>  terjadi guliran dinamisasi pembelanjaan dana dan pembangunan di daerah.
>  Misalnya saja, gaji pegawai akan ditingkatkan (dengan konsekuensi harus
>  profesional dan tidak boleh mangkir). Karena banyak duit, maka peluang
>  terbukanya pasar kebutuhan berbagai keperluan akan marak. Sudah barang
>  tentu hal ini akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh para swasta. Di sisi
>  SDM, karena duit sekarang ada di daerah, maka banyak orang berkualitas
>  di pusat akan hijrah ke daerah (karena kemungkinan bisa digaji lebih
>  atau gaji sama dengan tingkat pengeluaran yang lebih murah) yang pada
>  gilirannya akan menjadikan lebih dinamisnya segala kegiatan di daerah.
>  Nah kalau secara natural hal ini terus bergulir, jadi sibuklah setiap
>  orang dan bergairah untuk bekerja. Lupalah orang akan pekerjaan tambahan
>  banta-membantai seperti selama ini.

Irwan:
Otonomi daerah, mungkin ini yg mau anda sampaikan....:)
Saya lihat kita sedang mengarah kesana.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke