Rekan Nasrullah, bagaimana komentar anda bila seandainya
terjadi situasi seperti berikut ini:
Saya mengatakan pada rekan Nasrullah bahwa saya
menemukan suatu bahan yg dapat tahan panas yg bisa
dijadikan bahan pesawat untuk bisa sampai ke matahari.
Bahan tersebut adalah campuran dari unsur baja, alumunium,
mika, dan batu kali.
Bagaimana kira2 sikap dari rekan Nasrullah terhadap
penemuan saya tersebut di atas?
Yang jelas, saya ngga mau disuruh membuktikan penemuan
saya tersebut, ngga mau diminta mempertanggungjawabkan
penemuan saya tersebut, dan ngga peduli apakah apa yg
saya katakan di atas itu secara teori memungkinkan atau tidak....:)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu
In a message dated 9/29/00 8:49:05 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Kita sering mendengar kalimat
> "KARYA ILMIAH HARUS BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN"
> "TEMUAN BARU HARUS DIBUKTIKAN DULU MELALUI EKSPERIMEN"
> "KARYA ILMIAH HARUS MEMENUHI KAIDAH YANG SUDAH DISEPAKATI"
>
> Terus-terang, kalimat ini bila di hati-hati dalam
mengsosialisasikannya
> justru menghambat kreativitas. Soalnya begini :
> Apakah karena "tidak bisa dipertanggungjawabkan", "tidak dibuktikan
> dulu melalui eksperimen", atau " tidak memenuhi kaidah yang sudah
> disepakati", sebuah karya ilmiah perlu dipetieskan saja?
>
> Tikus sudah banyak memperlihatkan temuan baru bagi para peneliti.
> Apakah pernah ada peneliti mengatakan, "Hai tikus, seharusnya bisa
> mempertanggungjawabkan, harus melalui eksperimen dulu, atau harus memenuhi
> kaidah yang sudah disepakati"
>
> Paling-paling si tikus berkata, "Itu urusan Loe. Emang gua pikiran!"
> Ha ha ha ha ha
>
> Artinya begini : apakah karena si pembuat karya ilmiah tidak bisa
> mempertanggungjawabkannya atau tidak membuktikannya terlebih dulu melalui
> eksperimen atau tidak memenuhi kaidah ilmiah, maka karyanya dianggap nggak
> ada apa-apanya?
>
> Karena itu, hati-hatilah dalam mengasosialisasikannya.
>