Sebelum melanjutkan obrolan dalam topik ini, saya kutipkan ulang
saja terlebih dahulu bagian dari posting rekan Nasrullah pertama kali:
Nasrullah:
> Kita sering mendengar kalimat
> "KARYA ILMIAH HARUS BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN"
> "TEMUAN BARU HARUS DIBUKTIKAN DULU MELALUI EKSPERIMEN"
> "KARYA ILMIAH HARUS MEMENUHI KAIDAH YANG SUDAH DISEPAKATI"
>
> Terus-terang, kalimat ini bila di hati-hati dalam
mengsosialisasikannya
> justru menghambat kreativitas.
Sekarang kita lanjutkan dengan membandingkan respon dari
rekan Nasrullah atas contoh kasus yg saya berikan....:)
In a message dated 9/30/00 12:06:00 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> *****Rekan Nasrullah, bagaimana komentar anda bila seandainya
> terjadi situasi seperti berikut ini:
> Saya mengatakan pada rekan Nasrullah bahwa saya
> menemukan suatu bahan yg dapat tahan panas yg bisa
> dijadikan bahan pesawat untuk bisa sampai ke matahari.
> Bahan tersebut adalah campuran dari unsur baja, alumunium,
> mika, dan batu kali.
> #####Kalau saya profesor kedirgantaraan, maka saya akan mengajak anda
> ngobrol santai, tetapi tetap dalam suasana dialog. Kalau mental anda sangat
> sensitif, maka pembicaraan akan saya lakukan seperti guru TK. Pokoknya akan
> saya pancing supaya ia mengeluarkan unge-uneg seputar penemuan itu. Yang
> penting dari hasil pembicaraan itu memang benar bahwa ia telah menyelami
hal
> tersebut.
Irwan:
Akan lebih pas kalau posisi anda sebagai profesor metalurgi....:)
Walau demikian, kita anggap saja bidangnya pas dengan yg
sedang dibicarakan.
Dari kalimat terakhir rekan Nasrullah di atas, ada kesan bahwa
rekan Nasrullah sedang mencari konfirmasi atau pun PEMBUKTIAN
bahwa saya memang menguasai penemuan saya tersebut....:)
> *****Bagaimana kira2 sikap dari rekan Nasrullah terhadap penemuan saya
> tersebut di atas?
> #####kalau memang anda memperlihatkan hasilnya tentu akan saya nilai
> berdasarkan berapa besar yang bisa dipertanggungjawabkan dan berapa besar
> yang belum tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Irwan:
Lagi2 bisa dilihat, baik sadar atau pun tidak sadar atas respon
yg rekan Nasrullah berikan di atas menunjukkan bahwa suatu
karya ilmiah itu memang harus bisa DIPERTANGGUNGJAWABKAN.
Karena rekan Nasrullah mengatakan akan menilai berapa besar
yg bisa dipertanggungjawabkan dan berapa besar yg belum/tidak
bisa dipertanggungjawabkan, tentunya dalam melakukan penilaian
tersebut ada dua kemungkinan:
Pertama, dengan MELAKUKAN UJI COBA atau EKSPERIMEN.
Kedua, dengan mengkajinya berdasarkan KAIDAH2 ilmu pengetahuan yg ada.
> *****Yang jelas, saya ngga mau disuruh membuktikan penemuan saya tersebut,
> ngga mau diminta mempertanggungjawabkan penemuan saya tersebut,
> #####Kalau saya punya duit tentu saya akan minta kepada rekan saya untuk
> membuktikannya terlebih dulu. Pokoknya akan saya lakukan, supaya penemuan
> anda diujicobakan dulu.
> penemuan anda itu ibarat file kerja pada microsoft word 97. Tetapi anda
> tidak mampu mencetak karena tidak punya printer.
Irwan:
Rekan Nasrullah tampaknya menyadari sendiri bahwa suatu temuan
itu perlu DIBUKTIKAN DULU atau DIUJICOBAKAN/EKSPERIMEN
terlebih dahulu sebelum bisa diterima.
Dan untuk itu, diperlukan biaya.
> *****dan ngga peduli apakah apa yg saya katakan di atas itu secara teori
> memungkinkan atau tidak....:)
> #####Eh ini apa artinya?
Irwan:
Artinya, dari contoh saya di atas saja sebenarnya rekan Nasrullah
ngga perlu repot2 untuk melakukan ke tahap uji coba mengingat
bila anda mengetahui sifat2 dari baja, alumunium, mika, dan batu kali
maka sejak awal anda sudah bisa mengetahui bahwa omongan
saya itu adalah omong kosong belaka.
Jadi, ngapain juga anda buang2 waktu dan biaya untuk melakukan
uji coba pemikiran saya tersebut yg tidak didukung sama sekali dengan
perhitungan2 maupun hasil uji coba di laboratorium.
Inti yg mau saya sampaikan, kita memang tidak boleh mematikan
ide atau pun kreativitas seseorang. Tapi, dengan bekal pengetahuan
dan wawasan yg cukup, kita bisa memilah2 mana ide yg ngasal aja
dan mana ide yg memang kemungkinan untuk diwujudkan masih
terbuka cukup lebar.
Semoga sekarang rekan Nasrullah bisa melihat kembali bahwa
memang pada dasarnya tiga kalimat yg anda tulis seperti berikut ini:
> "KARYA ILMIAH HARUS BISA DIPERTANGGUNGJAWABKAN"
> "TEMUAN BARU HARUS DIBUKTIKAN DULU MELALUI EKSPERIMEN"
> "KARYA ILMIAH HARUS MEMENUHI KAIDAH YANG SUDAH DISEPAKATI"
memang perlu dipenuhi terlebih dahulu. Itu pulalah yg
saya lihat dari respon anda atas contoh kasus yg saya
berikan.....:)
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu