In a message dated 11/12/00 6:13:23 PM Eastern Standard Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Saya alergi terhadap beberapa tulisan anda (kronis) seperti
>  juga anda alergi terhadap tulisan saya.


Wah, ya pantes aja dah anda begitu emosional
dalam meresponi posting saya. Lha, awalnya sudah
alergian sih.....:)
Saya juga jadi bisa mengerti, mengapa anda begitu benci
dengan saya sehingga perlu mendiskreditkan saya
dalam posting anda terdahulu yg sudah saya kutipkan.
Yang jelas, ketika saya baca tulisan anda tersebut,
saya hanya tersenyum saja dan mencoba memaklumi
sikap kekanakan2 yg tercermin dalam tulisan tersebut.

Yang jelas, saya ngga pernah tuh ada alergi2an dengan
posting siapapun di milis ini.  Saya suka pro atau kontra
terhadap isi tulisan, bukan pada siapa yg menulis.
Pro dan kontra adalah hal yang biasa buat saya, bukan
sesuatu yg aneh.

Dalam hal mengkoreksi pun, saya juga ngga lihat2 siapa
yg nulis. Siapa pun yg nulis, kalau ada hal yg ngga benar
ya saya koreksi. Dengan catatan, pas memang kebetulan saya baca.

Soal kritik pun juga saya ngga milih2 orang.

Selain pernah mengoreksi atau pun mengkritik, saya pun
juga pernah dikoreksi dan dikritik di milis ini.
Itu ngga jadi masalah buat saya, karena saya sadar bahwa
setiap manusia bisa melakukan kesalahan. Hal ini lumrah saja
bagi saya. Walau kelihatannya hal ini terdengar umum, tapi
kalau kita perhatikan lebih jauh lagi dilingkungan kita (dimilis ini
dan juga diluar milis alias dalam kehidupan seharis), akan sering
kita jumpai orang2 yg suka ngritik, tapi pas giliran dia-nya dikritik
maka orang tersebut malah akan cenderung bersikap resist atau
pun menolak alias mengarah ke sikap "anti kritik".

Adalah menjadi satu keanehan bila ada yg mengkoreksi
bahwa 1+1 adalah 2 dan bukan 4 lalu serta merta di cap
sok jadi polisi, pengin ngetop, atau dicap merasa dirinya benar,
atau pun dianggap mempermalukan orang lain, dll.

Mencoba mengoreksi terhadap suatu yg dilihat salah seharusnya
ditanggapi dengan positif.
1+1=2, bukan 4 atau 5 atau pun 6.
Seharusnya, yg menyebut 4, atau 5, atau pun 6 perlu mengucapkan
terima kasih kepada orang yg mengoreksinya bahwa 1+1=2
tersebut. Hal ini mengingat bahwa orang yg mengatakan 1+1 =
4, atau 5, atau pun 6 tersebut bisa memperbaikinya dan tidak
melakukan kesalahan yg sama dikemudian hari.

Bila kita menyadari bahwa diri kita bisa berbuat salah alias tidak
sempurna, karenanya kita tidak akan pernah merasa sakit hati,
atau pun merasa dipermalukan bila ada pihak lain yg mencoba
mengingatkan atau pun memperbaiki kesalahan2 yg kita perbuat.

Untuk rekan Ida, terima kasih atas masukannya.
Yang jelas, bagi saya, mengingatkan bahwa 1+1=2 bukanlah
suatu tindakan yg mempermalukan orang lain.
Bagi mereka yg merasa dipermalukan hanya karena diingatkan
bahwa 1+1=2, bisa diartikan bahwa orang tersebut merasa dirinya
sempurna.
Di sisi lain, ketidaksempurnaan yg kita miliki, bukan berarti
kita tidak bisa melihat bahwa 1+1=2 alias bahwa walaupun
manusia seperti saya ini tidak sempurna, punya kekurangan
atau pun bisa melakukan kesalahan, bukan berarti lalu serta
merta tidak dibenarkan untuk mengoreksi sesuatu yg salah
yg dilihatnya.

Demikian saja dari saya.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke