Dear Juga Semua.
 
Maaf jika anak2 ini sok2an dan ikut2an nimbrung soal dan perkara GD. merujuk kepada perkara yang sedang hangat dibicarakan yaitu tentang temus. memang masalah perekrutan dan hasil yang terpilih acap kali dengan konflik antara kita. saya pribadi menggambarkan sebuah Kurva kerja DP-PPI, mereka2 itu setiap tahun harus menghadapi persoalan yang sangat besar dengan satu kata "TEMUS". mereka setaip tahunnya, berada di persimpangan dua jalan untuk memilah milih anggota yang berhak untuk berangkat ke saudi, memilih yang satu dengan kriteria latar belakang ingin bersyukur, sementara yang satunya lagi berlatar belakang master of debt,  semabri menyelamatkan generasi sesudahnya untuk lebih mudah segala urusan hidup (termasuk utang piutang). bagi saya, apapun keputusan jumlah baanyak, terkadang acap kali dengan konflik jumlah kecil, kita yang belum bisa saat ini. ada baiknya bersabar, semuanya ada Hikmah. mungkin hikmahg tsb tidak nampak oleh kita saat ini, namun bisa jadi bulan depan atau tahun depan.
 
pengalaman dalam mendaftarkan diri sebagai anggota temus.
tahun 2001, abang saya "MURTALA" baru saja menyelesaikan kuliahnya di Nadwatul UIama. dalam hatinya tersimpan sebuah azam ingin menunaikan ibadah haji, disampaing itu juga, Ayah kami yang tercinta, dapat Hadiah dari PT. Arun. untuk menunaikan haji. keberangkatang ayah ke saudi mengundang minat saya untuk berjumpa dengannya. satu2nya cara ialah dengan TEMUS. namun taqdir lain dari apa yang saya doa dan harapkan, umur yang saat itu masih 19, itu yang menjadi persoalan. saya bersedih sendiri, kesedihan saya, bukan karena tidak sempat megang dollar banyak, namun karena tidak sempat jumpa Ayah di mekah. ya......akhirnya Hikmah dibalik itu semua, nampak terbaca oleh saya, saat itu, sayuti kawan terpilih sebagai anggota temus, berangkat namun return visa tidak ada....walhasil, dia musti banting stir dan melanjutkan pemusafiran kuliahnya di syria.
 
mungkin, jika saya paksa juga untuk berangkat, nasib yang sama dengan sayuti akan menimpa pada saya. untung saja saya bersabar sambil nyimpan marah (hehehehe)  kalo ndak....? Aligarh Muslim University dengan jurusan ekonomi tidak pernah terbayang oelh saya untuk merasakannya.
 
dari cerpen diatas. dapat kita petik beberapa pelajaran
1. ada hikmah dibalik semua itu.
2. meraka2 yang duduk di DP PPI, kan manusia juga....salah dan benar, tidak mungkin absen dari meraka, apa salahnya kita maafkan.
3. apa yang saya tuliskan ini, bukan untuk menambah marah. in uriidu illal ishlah, tidak ada yang saya mau, kecuali perbaikan. sialturrahmi dan tetap hangat dan bersahabat seperti dulu2.
4. moga saja saya jadi wali nanggroe aceh darussalam
 
ntar kita makan malam di laot pusong " tempat yang indah untuk berkumpul bersama sambil ingat2 masa lalu di India.
 
wassalam
 
 
 
 


Rizqon Khamami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dear kawan-kawan,

Saya ingin berbagi pendapat soal temus. Dan ini murni ungkapan
pribadi.

Sebagai mahasiswa yang sudah bertahun-tahun "nongkrong" di India,
saya tahu persis seluk beluk PPI, India, dan keadaan teman-teman
Mahasiswa orang-perorang, dari sifat, perilaku, dan "kantong" saku
mereka.

Keinginan sdr. Rahmat untuk bisa beribadah ke Tanah Suci, sebagai
ungkapan rasa syukur dengan akan selesainya program doktornya, saya
sangat mengagumi. Sebuah rencana mulia. Dulu, Bang Dimas, (Dihyatun
Masqon, kini masuk papan atas tim pengasuh dan pengurus pesantren
modern Gontor, Jawa Timur), mengungkapkan rasa hatinya yang
membuncah, setelah selesai Ph.D, dengan Sujud Syukur di pelataran
Baitullah, Mekkah. Saya terharu. Kebahagiaan yang saya sendiri juga
ikut merasakannya. Rencana sdr. Rahmat untuk menyusul niat mulia Bang
Dimas tersebut, saya doakan semoga terlaksana. Dan semoga mendapat
jalan mudah dari Allah SWT.

Saya sepakat dengan sdr. Mario, Temus is not a big deal. Temus adalah
sarana, bukan tujuan. Sarana untuk menunjang kuliah. Tidak jarang,
teman-teman mahasiswa yang datang kuliah di India, karena beberapa
faktor, "father foundation" telah berhenti, dan mereka belum bekerja,
misalnya ngajar atau yang lain, hanya segelintir orang saja yang
dianugerahi oleh Allah beasiswa, sementara kuliah mereka harus tetap
jalan dan berlanjut. Bagaimana mereka bisa bertahan selama ini?
Mereka bertahan hidup dengan terjemahan, nulis buku, nulis kolom, dan
kerja-kerja intelektual lainnya, dan juga kerja-kerja tangan seperti
bikin tempe. Saya lihat sendiri bagaimana mereka terengah-engah. Saya
sangat terharu dengan kegigihan mereka. Saya tidak bisa
menyembunyikan kekaguman atas ketabahannya. Yang lebih mengharukan
lagi, honor kerja tersebut, bukan buat dia sendiri, tapi dibagikan ke
teman-teman lain yang membutuhkan. Mereka menerapkan "subsidi silang"
Mereka tulus, peduli, memiliki sifat kerakyatan, dan leadership yang
tangguh. Dan temus, saya kira, adalah prioritas bagi teman-teman
semacam ini, yang tidak lagi punya "father foundation", pekerjaan
tetap, belum ngajar, dan tanpa beasiswa. Sekali lagi, menurut saya,
temus is not a big deal, hanyalah perkara kecil belaka.

Salam,
Riz.
=== 





--- rahamt rangkuti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Salam untuk semua,
> Aku mendoakan mudah-mudahan kita selalu mendapat
> petunjuk dari Sang Kholik sehingga dapat terlepas dari
> belenggu kejumudan dan kemunafikan.
>
> Aku yakin bung Mario bukan orang baru dikancah
> pendidikan India, dari tulisan2 bung, aku rasa bung
> sudah cukup lama bermukim di india dan aku yakin bung
> juga cukup piawi dalam merespon permasalahan
> mahasiswa. Yang membuat aku terkejut adalah tulisan
> bung yang mengatakan bhw proses pemilihan temus kali
> ini adalah "yang paling transparan" yang pernah bung
> lihat selama bung di India, pertanyaanku adalah tahun
> berapa bung mulai menginjakkan kaki di India? dan
> sudah berapa pengurusan DP PPI yang bung bisa beri
> penilaian? Kulihat, inilah yang menjadi penyakit
> mahasiswa muda sekarang, ketika merasa dialah yg dekat
> dengan birokrat, ketika dia merasa dialah yg saat ini
> dituakan, lantas dia merasa dialah 'the real man'.
>
> Berita yg kuterima, mengatakan bhw pemilihan temus
> kali ini hanya ditentukan oleh pengurus DP PPI New
> Delhi saja, bukankah ini menafikan semangat demokrasi
> PPI itu sendiri? atau memang ketika berurusan dgn
> uang, demokrasi dikesampingkan ditubuh PPI saat ini?
> Bung Mario, bisa menanyakan kpd Rizqon, bgm kami harus
> menghadapi cercaan dr rekan2nya sendiri di Nizamuddin
> disaat dia belum layak utk diberangkatkan menjadi
> temus karena secara syarat belum layak untuk
> diberangkatkan. Begitu juga bang mujab, harus rela
> tunggang langgang mempertahankan jatah yg defisit,
> demi membela perut segelintir mahasiswa yg memang
> sangat membutuhkan, dimanakah bung mario saat itu?
> bersemedi di ruang 3x4 yg ada di Aligarh? atau
> bertafakkur berserah diri di Lucknow? tanpa mau
> perduli apakah PPI India itu ada atau tidak,  tanpa
> mau peduli apakah setiap tahunnya PPI India berganti
> ketua apa tidak, dan saat ini bung seenaknya saja
> mengklaim saat inilah 'saat yg paling indah'.
>
> Kalaulah, kalian  saat ini merasa beginilah cara yg
> kalian anggap 'paling baik' utk mengurus PPI, aku
> mengucapkan selamat bekerja, mudah2an kalian sampai
> kepada tujuan yg kalian inginkan. Namun, ingat, jangan
> terlalu layas ....kami alumni india sdh cukup erat
> membina link antar alumni, dan bertujuan untuk
> membantu kita semua alumni india, kalau kalian merasa
> tak butuh yah sudahlah...kita cari jalan kita
> masing-masing.
>
> Buat yang mo berangkat temus, bekerjalah dgn baik dan
> pandai2lah mendulang riyal di negri petrodolar.
>
> Salam
>



           
_______________________________
Do you Yahoo!?
Declare Yourself - Register online to vote today!
http://vote.yahoo.com


_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI www.ppiindia.shyper.com  ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional: www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255





Mr. Musrizal H. Muhammad Yusuf Syech
Mahasiswa Program S1 pada Department of Economics
Aligarh Muslim University
Aligarh-UP-India. 202 002.


Do you Yahoo!?
vote.yahoo.com - Register online to vote today!

_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI www.ppiindia.shyper.com  ==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg  berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional: www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255



Yahoo! Groups Sponsor
ADVERTISEMENT
click here


Yahoo! Groups Links

Kirim email ke