Salam
lama juga rasanya nggak ikutan nimbrung dalam milis ppi tercinta..
sampe2 ndak tau sapa yang mo brangkat jadi temus.. hehehehe
memang.. dari dulu masalah ini (temus) selalu menjadi satu hal yang
sensitif, kalo ga bisa dibilang bikin pusing orang. but after all,
kita semua disini, di India khususnya, datang untuk belajar, menuntut
ilmu untuk bekal hari depan kelak. tentulah semuanya ini memerlukan
perjuangan, baik mental maupun finansial. determinasi dan niat yang
tulus dan kuat lah yang bisa menjadikan kita berhasil dalam menempuh
semuanya (baca bukunya Abdul Kalam, the wings of fire untuk referensi
hehehehe)
PPI dibentuk sebagai wadah interaksi bagi kita, mahasiswa dan juga
pelajar yang ada di India, untuk belajar memahami seluk beluk
berinteraksi dengan pribadi yang bermacam-macam. bentrokan dan
kesalahpahaman tentulah ada, tapi ini semua adalah pelajaran yang
sangat berharga ANDAI KITA BISA MENGAMBIL HIKMAHNYA.
anyway...
ga usah berpanjang lebar.. mari satukan niat demi kebaikan bersama.
kalaulah memang ada kesalahan dan kekhilafan, mari kita benahi
bersama, saling ingat-mengingatkan. kita pegang kuat persetujuan yang
telah kita buat. AD/ART PPI bukanlah 'just a piece of paper' yang
bisa dihiraukan begitu saja. aturan-aturan yang kita setujui bersama,
mari kita jalankan. kalau ada kesalahan, mari kita benarkan. mengutip
bagian ceramah ustadz dinamiz kemarin, "lihatlah apa yang diucapkan,
jangan lihat siapa yang bicara".
mari sama-sama kita belajar tanpa membeda-bedakan dia jawa, batak,
sunda, madura ataukah kristen, muslim, hindu, budha.. anything!
dont differentiate the race or creeds, semua adalah satu, orang
Indonesia! peace lah!
Let's bury the hatchet,
BERSAMA KITA BISA (SBY bo!!! hehehe)
wassalam
Ahmad Qisa'i
(ketua DP-PPI 2000-01)
--- In [EMAIL PROTECTED], rahamt rangkuti <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Assalamualaikum...
>
> 1. Saya ingin menjelaskan tujuan awal saya menanggapi
> pengumuman DP PPI ttg nama2 temus. Bukan niat saya
> untuk mengkritisi kebijakan DP PPI India krn saya
> hanya dimasukkan kedalam daftar bangku cadangan, namun
> saya menyangsikan kebijakan2 yg diambil tanpa proses
> demokrasi yg elegan akan menjadi contoh tak baik bg
> generasi selanjutnya.
>
> 2. Terimakasih kpd rekan2 yg mengirimkan saya 'kata2
> penghibur' dan 'nasihat utk bersabar'. Saya merasa
> kejadian ini bukan musibah bg saya, meskipun hikmahnya
> pasti ada,melainkan cambuk yg menyadarkan saya untuk
> mencoba menjaga tujuan mulia didirikannya PPI India.
>
> 3. Sangat ironis rasanya membaca tulisan bung Rizqon,
> mengaku sudah cukup lama nongkrong di India, yg secara
> tdk langsung melegalisir hasil keputusan DP PPI.
> Permasalahan ekonomi tak layak rasanya dikait2kan dgn
> kebijaksanaan tersebut. Bila ada org yg mau
> melanjutkan studinya keluar negri bukankah seyogyanya
> dia sudah mempersiapkan segala sesuatunya?? Bila org
> tua tak sanggup membiayi kuliah diluar negri, kenapa
> nekat kuliah diluarnegri?? Bukankah nantinya hanya
> akan melahirkan ilmuwan2 yg akan melacurkan
> kemampuannya demi tetap mempertahankan gengsi 'kuliah
> diluarnegri'?? Ini mungkin yg membuat rekan2 tak dapat
> berbuat banyak krn merasa adanya ketergantungan pd
> pihak tertentu. Ingat teman kita Khairul yg memutuskan
> utk pulang meski hanya dgn ijazah BA krn org tua tak
> sanggup lagi.
>
> 4.Perkara beasiswa dan tak beasiswa tak bisa dijadikan
> alasan utk menolak seseorang menjadi Temus, krn setahu
> saya persyaratan seperti itu tak ada dlm ketentuan yg
> dikeluarkan BUH Saudi Arabia. Malah sbnarnya yg
> menjadi syarat utama utk menjadi temus adalah 'dia hrs
> seorang mahasiswa'. Lantas apakah nama2 yg diusulkan
> oleh DP PPI India utk menjadi temus adalah mahasiswa
> aktif yg notabene memiliki bonafide student yg masih
> valid?? apakah bila saat ini seseorang sdg menunggu
> panggilan atau adanya urusan yg lain yg membuatnya
> masih tinggal di India dapat dikatakan 'mahasiswa'??
>
> 5. Tidak diikutsertakannya pengurus komisariat dlm
> rapat panitia, menambah kegalauan hati saya ttg
> kinerja kerja DP PPI India. Wajarlah kalau kemudian
> mereka mengeluh "kalo begini, ngapain ada
> komisariat??". Ditambah lagi dgn dimasukkannya
> mahasiswa yg tak berkaitan dgn urusan keagamaan
> seperti ini kedalam kepanitian, membuat saya semakin
> bertanya2, "komisariat dinafikan kok dia bisa??",
> apakah rute perjalanan para temus nanti akan singgah
> dulu di jerussalem???
>
> 6. Saya tak melihat singkronisasi antara 'bijaksana'
> dan 'ketangkap basah'. Tindakan bung mario memang
> layak diacungkan jempol, namun pada dasarnya, saya
> melihat itu adalah ungkapan rasa malu. Mungkin latar
> belakang budaya kita yg berbeda membuat kita ahli dlm
> bertingkah laku. Bung Mario yg saya yakin bersuku
> jawa, akan selalu tersenyum meskipun kerisnya sdh
> disiapkan dibelakang.Beda dgn saya yg bersuku batak,
> yg menyarungkan parangnya tepat didepan. Saya hrp
> tindakan bung Mario, memang merupakan tindakan
> bijaksana, seperti yg diharapkan rekan anda, bukan
> tindakan kamuflase belaka.
>
> 7. Yang terakhir,bg rekan2 yg ingin mengekspresikan
> pikirannya dgn media bhs inggris, saya berpesan,
> perbaikilah kemampuan bahasa anda. Jgn langsung bangga
> krn tiap hari baca koran atau nonton tv dgn media bhs
> inggris, sehingga tak mau lebih memperbaiki diri. Malu
> rasanya, bila anda nanti mengaku alumni india namun
> kemampuan anda tak jauh beda dgn mereka yg hanya ikut
> kursus di medan.
>
>
> Terimakasih
> Wassalamualaikum
>
>
>
>
> --- Mario Gagho <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Dear rekan2 semuanya,
> >
> > Karena tulisan Rahmat di bawah ini sebagian besar
> > ditujukan pada saya, tentu Anda yg membacanya akan
> > bertanya-tanya: gimana sikap dan respons saya?
> > Mungkin
> > Anda mengira saya akan 'marah' atau memberi 'respons
> > balik' dg nada yg sama. Kalau itu perkiraan Anda,
> > maka
> > Anda salah. :)
> >
> > Respons saya positif. To be honest, saya bahagia.
> > And
> > from the deepest part of my heart, saya ucapkan
> > terima
> > kasih yg sebesar2nya pada Rahmat. Apa yg
> > melarbelakangi rasa senang saya atas posting rahmat
> > ini?
> >
> > Pertama, Rahmat telah mengajari kita
> > --mahasiswa/alumni/masyarakat India -- bagaimana
> > cara
> > kita bersikap dan mengungkapkan
> > kesetujuan/ketidaksepakatan atas suatu
> > fenomena/peristiwa/hal yg terjadi. Dan dia
> > mengungkapkannya secara terbuka di sini, di milis.
> > Ini
> > merupakan transformasi dari sikap kita, atau orang
> > Indonesia umumnya, yg selama ini cuma mengungkapkan
> > uneg2nya melalui gosip, isu2, sementara ketika
> > bertemu
> > bersikap pura2 manis.
> >
> > Apa yg dilakukan Rahmat adalah sikap yg jantan dan
> > ksatria. Dan sudah sewajarnya kalau kita
> > mengapresiasi
> > sikap ksatria seperti yg ditunjukkan Rahmat.
> >
> > Kedua, sejak awal berdirinya milis ini, salah satu
> > tujuan utamanya adalah dalam rangka menciptakan
> > suasana kondusif untuk memecahkan permasalahan yg
> > terjadi dg secara terbuka antar-kita. Untuk membuang
> > sedikit demi sedikit budaya gosip yg mengakar dalam
> > kultur kita. Akan tetapi, terus terang, selama ini
> > saya agak kecewa, karena saya melihat masih banyak
> > gosip yg beredar tapi tidak muncul di milis atau
> > tidak
> > sampai pada yg digosipi. Ini artinya, yg
> > bersangkutan
> > tidak berani mengungkapkannya secara terus terang,
> > sehingga tidak ada peluang bagi yg terkena gosip
> > untuk
> > membantah atau mengklarifikasinya. Sikap Rahmat kali
> > ini telah memberi contoh atau preseden yg baik bagi
> > rekan2 semua: bersikaplah berani untuk mengkritisi
> > atau mengungkapkan uneg-uneg apapun di sini.
> >
> > Akan halnya isi butir2 kritikan Rahmat pada saya
> > pribadi, saya tidak tertarik untuk menanggapinya.
> > Saya
> > itu bukan apa2. Im nothing but a piece of meat and a
> > skeleton, no more no less. Segala kritikan yg
> > ditujukan ke pribadi saya, akan saya terima dg
> > senang
> > hati. Bahkan itu saya anggap sebagai apresiasi.
> >
> > Selain itu, saya cuma biasa menanggapi atau
> > mengkritisi sesuatu apabila itu menyangkut
> > kepentingan
> > makro, kepentingan umum. Bukan kepentingan saya
> > pribadi. Dan itu bisa dilihat contohnya dalam
> > sejumlah
> > kritikan saya pada KBRI dan PPI sebagai institusi,
> > bukan pada personalnya. Pak Suhadi, Pak Dalton, dll
> > mungkin pernah merasa marah karena saya kritik.
> > Walaupun saya juga tidak segan untuk memuji, apabila
> > memang ada yg pantas untuk dipuji. Nothing personal
> > at
> > all. Dan tampaknya beliau berdua juga mengerti
> > maksud
> > saya.
> >
> > Sekedar flash-back without any intention to
> > romanticing it, mungkin Bapak2 di KBRI masih ingat,
> > bagaimana saya secara tajam mengkritik rencana
> > kebijakan yg akan mengenakan biaya USD 10 atas
> > setiap
> > surat yg dikeluarkan untuk mahasiswa. Saya sebarkan
> > kritikan tsb ke seluruh milis nasional dan media.
> > Untung rencana itu digagalkan. Dan masih banyak
> > contoh
> > lain, yg bisa dilihat di arsip milis ini dan milis
> > umum.
> >
> > Sekali lagi, nothing personal. Saran saya buat
> > semuanya: simplify life and follow the sun. Buat
> > Rahmat, saya minta maaf kalau ada kata2 yg
> > menyinggung
> > hati dan sense of pride Anda begitu juga pada para
> > mantan ketua PPI yg lain. Let's move on, and give
> > the
> > urge of unity the wider chance... :)
> >
> > salam hangat dan persatuan,
> >
> >
> >
> > --- rahamt rangkuti <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > > Aku yakin bung Mario bukan orang baru dikancah
> > > pendidikan India, dari tulisan2 bung, aku rasa
> > bung
> > > sudah cukup lama bermukim di india dan aku yakin
> > > bung
> > > juga cukup piawi dalam merespon permasalahan
> > > mahasiswa. Yang membuat aku terkejut adalah
> > tulisan
> > > bung yang mengatakan bhw proses pemilihan temus
> > kali
> > > ini adalah "yang paling transparan" yang pernah
> > bung
> > > lihat selama bung di India, pertanyaanku adalah
> > > tahun
> > > berapa bung mulai menginjakkan kaki di India? dan
> > > sudah berapa pengurusan DP PPI yang bung bisa beri
> > > penilaian? Kulihat, inilah yang menjadi penyakit
> > > mahasiswa muda sekarang, ketika merasa dialah yg
> > > dekat
> > > dengan birokrat, ketika dia merasa dialah yg saat
> > > ini
> > > dituakan, lantas dia merasa dialah 'the real man'.
> >
> >
> > =====
> > Mario Gagho
> > Political Science,
> > Agra University, India
> >
> >
> >
> > __________________________________
> > Do you Yahoo!?
> > Yahoo! Mail - 50x more storage than other providers!
> > http://promotions.yahoo.com/new_mail
> >
>
>
>
>
>
> ___________________________________________________________ALL-NEW
Yahoo! Messenger - all new features - even more fun!
http://uk.messenger.yahoo.com
------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~-->
Make a clean sweep of pop-up ads. Yahoo! Companion Toolbar.
Now with Pop-Up Blocker. Get it for free!
http://us.click.yahoo.com/L5YrjA/eSIIAA/yQLSAA/igXolB/TM
--------------------------------------------------------------------~->
_________________________________________________________________________
Mhs/Masy. indoindia diharapkan untuk selalu melihat diskusi harian di
www.ppi-india.da.ru dan situs resmi PPI www.ppiindia.shyper.com
==========================================================================
Catatan penting:
1- Harap tdk. memposting berita, kecuali yg berkenaan dg masyarakat/mahasiswa/alumni
India
2- Arsip milis: http://groups.yahoo.com/group/ppi-india; Arsip diskusi nasional:
www.ppi-india.da.ru
3- HP Ketua PPI (Jusman): 09810646659 ; Sekjen PPI(Mukhlis): 09897407326
4- KBRI Delhi(11)26110693;26118642; 26118647
5- KJRI Mumbai (022)3868678;3800940;3891255
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/ppi-india/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/