dear alls saya terharu baca posting ini. betapa indonesia, nama kebangsaan kita, warga kita demikian rendahnya di mata masyarakat hongkong. saya tidak tahu apa itu sebagian atau semuanya bisa dikatakan demikian.
saya ingin menceritakan satu pengalaman saya sebagai warga negara indonesia yang mengalami pengalaman tidak menyenangkan ketika transit di hongkong dari jakarta. saya seorang pemegang paspor diplomatik. suatu ketika, dalam perjalanan menuju tempat tugas, flight saya singgah di hongkong dan saya harus menggunakan connecting flight CX sehingga mesti pindah pesawat. ketika akan boarding, seperti biasa saya menyerahkan paspor hitam saya kepada petugas counter yang kebetulan seorang wanita. lama ia mengamati paspor saya lalu ia memberi kode ke salah seorang petugas laki-laki yang berada tidak jauh dari tempat itu. petugas laki-laki itu juga melihat paspor saya dan mengamat-amatinya. ia lalu memberi insyarat agar saya mengikutinya dan keluar dari antrian. saya kira ada sesuatu yang hendak ia tanyakan. lalu sayapun mengikutinya. saat berdiri berdua, terpisah dari antrian, ia bertanya kepada saya, agar saya memperlihatkan identitas saya. saya jawab, "you have already my identity", I said (i am referring to my pasport that he just holds). dia lalu menanggapi, "no, i need you other id" he said. aku jawab, "i have in my luggage, but i can't give you because you already have my id". dia keliatan marah, tapi dengan dingin dan tenang saya jawab permintaan dia. "sorry, sir, we need your other id", kata dia lagi. karena berputar-putar di sekitar itu aja percakapannya, lalu saya balas bentak, "excuse me, why you need another id of mine, while you have already have mine in your hand?." dia jawab, "no, we need you other id", sambil terus megangin pasport saya. lalu aku bilang, "look, let me put this way, you just hold my id which is my pasport and you know what is it mean. now, i am asking you, just answer yes or not, is my pasport considered an id or not?". aku tanya gitu, dia keliatan bingung. dia jawab sekenanya, saya tegaskan lagi" just answer yes or not", nggak usah belat belit. aku gituin, dia keliatan down, terus mendatangi mungkin pimpinannya, lalu ia kembali ke saya dan berkata "you can board in". gue terima paspor gue dan boarding. dia hanya terpaku menyaksikan saya meladeninya bersitegang soal id di hadapan banyak orang. ini hanya contoh kecil bagaimana kita ingin dipermainkan, kalo kita membiarkan mereka seenaknya. indonesia dan orang-orang kita harus tegak dan bangga untuk membela nama indonesia. saya merasa bahwa selama indonesia utuh, tak akan aku biarkan siapapun untuk "melecehkan" simbol-simbol kenegaraan dan kebangsaan kita. saya sedih membaca posting temen kita tentang tenaga kerja kita di hongkong. harus ada yang berbuat sesuatu agar mereka tidak seenaknya bertindak. saya berharap, suatu saat saya akan ditempatkan di tempat di mana banyak warga kita mengalami kesulitan ato pelecehan, sehingga saya bisa memberikan sedikit dari apa yang bisa saya lakukan sebagai anak bangsa. salam nusantara tkd ----- Original Message ----- From: "Budhisatwati KUSNI" <[EMAIL PROTECTED]> To: "kmnu2000" <[EMAIL PROTECTED]>; "ppiindia" <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, July 23, 2004 12:09 PM Subject: [ppiindia] TERNYATA,DISKIRIMINASI ITU ADA DI MANA-MANA > TERNYATA, DISKRIMINASI ITU ADA DI MANA-MANA. > > Serpihan kisah-kisah buruh migran Indonesia di Hongkong > > By : Suraiya Kamaruzzaman > > 13 Juli 2004. Ani menemui seorang teller di counter > HSBC, Hongkong. Buruh migran Indonesia (BMI) yang > bekerja di Hongkong itu bermaksud membuka sebuah joint > account. "Are you domestic helper?" tanya pegawai itu, > yang dijawab dengan anggukan kepala Ani. Kalimat > berikutnya sungguh mengejutkan. "Pembantu rumah tangga > tidak bisa membuka rekening di HSBC," tutur pegawai > bank itu. Tidak ingin menyerah, Ani menjelaskan bahwa > rekening itu akan dibuka bersama rekannya yang bukan > pembantu rumah tangga. > > Tapi, persoalan belum selesai dan si petugas meminta > Ani menunggu, sampai saya hadir bersama seorang rekan > dari negara lain. Setelah mendapat beberapa penjelasan, > ia mengatakan kami bisa mebuka rekening dimaksud. Ia > melayani dengan ramah, cepat tanpa lupa memberikan > advis yang menyenangkan. Pelayanannya membuat teman > saya memutuskan untuk membuka satu rekening bank > pribadi di HSBC. Sesaat kemudian, ia beranjak untuk > berbicara dengan managernya. "Kalian warga negara > mana?" tanyanya kepada kami sebelum ia melangkah. > > Tak lama kemudian ia kembali. "Maaf, menurut peraturan > bank ini, semua warga negara Indonesia tidak bisa > membuka rekening di HSBC," katanya. Pernyataan itu > tentu saja membuat kami heran. Kenapa? Karena kami > warga Indonesia, katanya! "Ini diskriminasi!" saya > berdiri dan menyergah dengan nada tinggi. Tapi, si > pegawai memang hanya menjalankan kebijakan bank. "I am > sorry, this is our bank policy" katanya > > Menurutnya, peraturan tersebut berlaku sejak dua atau > tiga tahun lalu. Dia tidak ingat pasti. Padahal, sejak > mulai kuliah di Hongkong 1,5 tahun lalu, saya mempunyai > rekening di HSBC. Juga Ani. Tapi, si pegawai tidak > bereaksi apapun ketika kami menunjukkan buku rekening > kami di depan hidungnya. Hari itu juga saya mengirim > surat pembaca ke South China Morning Post dengan > tembusan ke Jakarta Post. > > 20 Juli 1004. Saya menemani seorang BMI ke kantor > Marriage Register. Konon, di kantor itu berlaku juga > perlakuan diskriminatif dan melecehkan. Kalau ada BMI > yang menikah dengan penduduk lokal, pasangan itu sering > ditanyai hal sangat pribadi dalam ruang yang saling > terpisah. Misalnya, warna celana dalam favorit > pasangan, berapa kali having sex dalam seminggu, > dimana calon pengantin diwawancarai dalam ruangan > berbeda. Ini bullshit. Bagaimana mereka merasa > mempunyai hak untuk mengorek-ngorek persoalan sangat > personal? Melanggar hak asasi manusia, juga melanggar > nilai-nilai kepercayaan yang dianut oleh masyarakat > tertentu, tidak boleh melakukan kontak seksual sebelum > menikah. Katanya pemerintah Hongkong khawatir, buruh > migran menikah dengan warga lokal hanya sebagai cara > untuk mendapat permanent resident. Bukan karena cinta. > So what? Sejak kapan pula pemerintah Hongkong > disibukkan mengurus cinta rakyatnya? Atau ini > diskriminasi karena Indonesia dan Hongkong mempunyai > situasi ekonomi berbeda? > > Begitu kami menghadap, petugas pendaftaran menyapa, > "'Tell me, which one domestic helper?". Saya kaget > dengan pertanyaan itu. Apa bedanya? Toh peraturan > tertulis tentang perkawinan di kantor ini, sama bagi > semua orang. Bisa dipahami, jika pertanyaan itu > diajukan di kantor imigrasi. Karena mereka mengurus > status berbeda, misalnya perpanjang visa turis, > perpanjangan kontrak domestic helper, untuk ngurus > permanent residen, dan lainnya, dimana semuanya > mempunyai persyaratan dan formulir berbeda. > > Masih ada cerita lain dari seorang teman BMI dari > Yogya. Beberapa tahun lalu, tuturnya, setiap makan > malam, Dia di suruh pindah oleh majikannya (warga > lokal). "Kamu pergi dari depan meja, kami tidak sanggup > menelan makanan karena kulitmu hitam sekali". Ini > betul-betul penghinaan. Padahal yang dimakannya masakan > si 'Hitam" tadi, yang sebenarnya berkulit sawo matang > dan berparas cantik. > > > Perlakuan diskriminatif dan tidak menyenangkan terhadap > warga Indonesia di Hong Kong, khususnya yang bekerja > sebagai pembantu rumah tangga, samasekali bukan hal > baru. Apalagi langka. Dan lebih dari itu, besarnya > jumlah WNI yang bekerja sebagai domestic helper di > Hongkong juga menghidupkan "kebiasaan" membentak atau > merendahkah siapapun, asalkan dia berkulit dan berwajah > Indonesia. Pengalaman saya berikut mungkin bisa jadi > contoh. > > Pulang dari kantor imigrasi, di Lamma Island akhir > tahun lalu, saya berjalan sambil setengah melamun > ketika di depan saya ada seorang bocah 3,5 tahun yang > naik sepeda kecil. Rupanya tanpa disengaja, setang > sepeda mengenai tangan seorang ibu-ibu sekitar 60-an > tahun. Tidak ada luka, bahkan mungkin tekanan sepeda > kecil itu tidak terasa. Tapi si bocah turun dari > sepedanya. "I am so sorry, Madam" katanya dengan > santun. > > Pemandangan itu sungguh membuat saya terkesan dan > menghentikan langkah. Tanpa saya duga, tiba-tiba si ibu > berambut pirang dan berkulit putih itu melotot ke arah > saya dan membentak "Lain kali hati-hati kalau > bekerja!. Sepersekian detik saya tertegun, sebelum saya > sadar bahwa ada tak kurang 83.000 perempuan Indonesia, > rekan saya yang mencari sesuap nasi di negeri ini. Jadi > pembantu rumah tangga, menjadi pengasuh anak. Saya > pandangi si Ibu dengan dingin, tanpa berkata > sepatahpun. Dari sorot matanya, saya tahu dia > menyadarikekeliruannya. Tapi, tidak ada permintaan maaf > sedikitpun keluar dari mulutnya. Ia mundur selangkah, > membalikkan badan, dan pergi. Anggapan sebagai pembantu > tidak membuat saya kecewa, tetapi memperlakukan orang > berbeda karena jenis pekerjaannya yang membuat saya > terluka. > > Minggu lalu, seorang teman BMI dari Jawa Timur > bercerita, Dia pernah diberhentikan majikan > semena-mena. Empat bulan bekerja, tak pernah sepatahpun > mendapat protes. Baik dari segi kebersihan rumah, > kepintaran masak ataupun kemampuannya berbahasa Kanton. > Suatu malam, tiba-tiba Majikan mengatakan "Kamu saya > berhentikan, orang Indonesia itu, hitam, kotor, dan > bau". Badannya gemetar menahan marah. "Kalau aku > dibilangnya kotor, kerja tidak beres, bisa kuterima. > Tapi Dia menyebutnya orang Indonesia hitam dan bau, > untuk sebuah kesalahan yang tak kumengerti," suara > serak > > Tak jarang di mall atau supermaket, saya perhatikan > rekan senegara dibentak-bentak majikan di depan umum, > "Dasar Kamu orang Indonesia, bodoh! Tolol semuanya!" > Makian semacam itu bertaburan, untuk seluruh orang > Indonesia, hanya untuk hal sederhana, misalnya anak > asuhan merajuk. Orang-orang lalu lalang melirik > sejenak, dan meneruskan aktifitasnya masing-masing. > Saya marah, maju selangkah dan ingin menegur si > majikan, agar hati-hati kalau bicara. Tapi pandangan > memelas dan mata berkaca dari rekan yang saya tidak > tahu nama, dan datang dari Indonesia belahan mana, > membuat langkah saya surut. Mungkin ia khawatir protes > saya hanya akan membuatnya kehilangan pekerjaan. > > Sejak di Hongkong, beberapa kali saya menelpon KBRI > tanpa menyebut identitas pribadi; menanyakan > perpanjangan paspor atau bertanya tentang pemilu. > Walaupun informasinya tidak cukup lengkap, nada suara > cukup ramah dan bersahabat. Pernah juga disarankan > untuk datang kekedutaan langsung. Ketika datang untuk > bertanya hasil pemilu 5 Mei, saya mendapat pelayanan > sangat baik, juga informasi lengkap. Padahal saya > melihat di ruang pojok kiri lantai dasar gedung > Kedubes, seorang BMI kena bentak gara-gara belum melampirkan > surat izin orang tua untuk kepentingan pernikahannya > > Dua hari lalu, saya menelpon Bebagian Konsuler di KBRI > untuk menanyakan peraturan kontrak baru bagi BMI tanpa > bantuan agen. Mungkin karena saya bertanya soal > kontrak, nada suara di ujung sana menjadi tak ramah, > "Kamu datang saja ke Kedutaan!". Sepotong informasipun > tidak saya dapat, kecuali berkamu-kamu dengan kesan > tertangkap secara gamblang. Bahkan nama penerima > telepon saya saja tidak saya dapat "Kamu datang saja > kebagian konsuler!" katanya sambil menutup telpon. Dari > suaranya, saya tahu ia perempuan. > > Lima hari sebelumnya, seorang teman BMI lebih memilih > pulang ke Indonesia dari pada membuka jilbab untuk > mendapatkan majikan. Padahal, sudah beberapa tahun, ia > tidak pernah menemui masalah jilbabnya, bahkan ketika > ia tengah bekerja di rumah majikannya sekalipun! > Tetapi baru-baru ini nenek yang diasuhnya meninggal, > sehingga kontraknya tidak diperpanjang. Tidak ada lagi > tugas yang harus dilaksanakan. Tidak ada > permintaan/paksaan dari agen untuk membuka jilbab > (kecuali bagi yang baru datang dan kontrak pertama > sekali). Tapi berhari-hari menunggu, tidak ada satu > majikanpun yang ditawarkan agen padanya. Pernah Ia > mencoba mencari sendiri, tapi majikan keberatan dengan > shalat yang 5 kali sehari itu. "Kamu mau kerja apa mau > sembahyang" katanya ketus. > > Fragmen di atas hanyalah sebagian dari kisah > mengenaskan perempuan Indonesia di Hongkong, atau > mungkin juga di negara-negara lain. Mereka mengalami > diskriminasi berlapis dari berbagai pihak. Karena > kebangsaannya, warna kulit, pilihan agama, sampai > kepada jenis pekerjaannya. Bukan hanya dari majikan, > tapi juga dari agen, petugas bank, atau pegawai kantor > lainnya, dari warga negara asing lainnya yang berada di > Hongkong, sampai ke KJRI sendiri. > > Saya tidak tahu bagaimana mereka bisa merasa "lebih > manusia" daripada yang lain. Saya juga tidak tahu > apakah mereka faham bahwa perbedaan warna kulit, > kebangsaan, bahasa, penampilan fisik, agama dan > keyakinan atau apapun lainnya tidak pernah menjadikan > seseorang "lebih manusia" daripada yang lain. > > Kowloon Tong, 22 Juli 04 > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] > 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Yahoo! Domains - Claim yours for only $14.70 http://us.click.yahoo.com/Z1wmxD/DREIAA/yQLSAA/BRUplB/TM --------------------------------------------------------------------~-> *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.arsip.da.ru *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Posting: [EMAIL PROTECTED] 5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

