�Jalan Kematian� Peradaban Barat
Oleh: Adian Husaini
Publikasi 01/08/2004

hayatulislam.net - Artikel Abdul Hadi WM yang berjudul �Islam dan Barat: Benturan yang 
tak Kunjung Usai� (Republika, 14-15 Juli 2004), sungguh menarik disimak. Kajian Islam 
versus Baratterutama dalam perspektif kajian peradaban masih merupakan topik yang 
menarik dan aktual. Dalam tulisannya, Abdul Hadi banyak menyorot aspek benturan 
teologis dan historis dari kedua peradaban besar yang masih eksis itu. Ia mencatat:

�Islam dan Barat, atau Barat dan Islam, adalah kisah benturan peradaban yang langgeng 
dan tak kunjung usai. Selama hampir 1.300 tahun orang-orang Eropa memandang Islam 
sebagai ancaman terbesar bagi peradaban dan kebudayaan mereka.� Abdul Hadi seperti 
menguatkan pandangan Huntington, yang juga mencatat dalam buku populernya Clash of 
Civilizations and the Remaking of World Order: �Islam is the only civilization which 
has put the survival of the West in doubt, and it has done that at least twice.� 
(Islam adalah satu-satunya peradaban yang telah menempatkan keberlangsungan peradaban 
Barat dalam keraguan, dan ini telah terjadi sekurangnya dua kali).

Pada 20 Juli 2004, International Herald Tribune menurunkan tulisan Craig S Smith, 
berjudul Europe fears threat from its converts to Islam. Artikel itu bercerita tentang 
dua pemuda Prancis, bernama David dan Jerome yang masuk Islam dan akhirnya ditahan 
karena tuduhan terlibat jaringan terorisme internasional. Kasus dua bersaudara itu 
diangkat sebagai representasi, betapa perlunya masyarakat Eropa mencermati dan waspada 
terhadap kecenderungan meningkatnya konversi penduduk asli Eropa ke dalam Islam, 
setelah peristiwa 11 September 2001.

Tahun 2003, dinas rahasia Prancis, memperkirakan, ada sekitar 30.000-50.000 orang 
Prancis yang masuk Islam. Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa pada fenomena 
perpindahan agama di Barat. Sebab, Kristen sendiri sudah merupakan agama nominal di 
sana. Banyak orang Barat menjadi ateis, Islam, agnostik, atau memeluk berbagai aliran 
kepercayaan Timur. Di Amsterdam, sebagai misal, 200 tahun lalu, 99 persen penduduknya 
beragama Kristen. Sekarang, hanya tersisa sekitar 10 persen saja yang dibaptis dan ke 
gereja. Sebagian besar mereka sudah tidak terikat lagi dalam agama atau sudah menjadi 
sekuler.

Di Prancis, yang 95 persen penduduknya tercatat beragama Katolik, hanya 13 persennya 
saja yang menghadiri kebaktian di gereja seminggu sekali. Pada 1987, di Jerman, 
menurut laporan Institute for Public Opinian Research, 46 persen penduduknya 
mengatakan, bahwa �agama sudah tidak diperlukan lagi.� Di Finlandia, yang 97 persen 
Kristen, hanya 3 persen saja yang pergi ke gereja tiap minggu. Di Norwegia, yang 90 
persen Kristen, hanya setengahnya saja yang percaya pada dasar-dasar kepercayaan 
Kristen. Juga, hanya sekitar 3 persen saja yang rutin ke gereja tiap minggu.

Jadi, agama sebenarnya bukanlah aspek penting dalam peradaban Barat. Tetapi, mereka 
tetaplah pemeluk Kristen, yang menyimpan memori sejarah �fobia� terhadap Islam, 
sebagaimana banyak diungkap Abdul Hadi WM. Karena itu, perpindahan agama dari Kristen 
(nominal) menjadi Islam, menjadi sorotan dan kajian khusus. TV 1 Malaysia, Ramadhan 
lalu, menurunkan laporan tentang Islam di Eropa. Sejumlah muallaf diwawancarai. Di 
antara mereka mengaku mengalami diskriminasi dan pengucilan dari lingkungannya setelah 
memeluk Islam. Mereka mengaku heran, saat mereka menjadi pemabok, pecandu narkotika, 
atau pezina, mereka tidak dikucilkan. Tetapi, setelah memeluk Islam, sorotan menimpa 
mereka. Apalagi, pasca peristiwa 11 September 2001.


Karakter Barat

Sebenarnya, kaum Muslim perlu menelaah dengan cermat karakter peradaban Barat itu 
sendiri. Sebab, mau tidak mau, suka atau tidak suka, Barat adalah peradaban besar yang 
kini mendominasi dan menghegemoni umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan. Dunia 
Islam tidak lepas dari cengkeraman ini. Di tengah nada-nada cukup optimis terhadap 
masa depan peradaban Barat, seperti yang disuarakan Francis Fukuyama, sebenarnya juga 
semakin banyak ilmuwan yang melihat peradaban Barat sebagai ancaman bagi umat manusia. 

Marvin Perry memulai kata pengantar untuk bukunya Western Civilization: A Brief 
History dengan ungkapan: �Western civilization is a grand but tragic drama.� Menurut 
Perry, peradaban Barat adalah peradaban yang besar, tetapi merupakan drama yang 
tragis. Meskipun sukses dalam pengembangan berbagai bidang kehidupan, tetapi kurang 
berhasil dalam menyelesaikan penyakit sosial dan konflik antar-negara. Sains Barat, 
meskipun sukses dalam mengembangkan berbagai sarana kehidupan, tetapi sekaligus juga 
memproduksi senjata pemusnah massal.

Di samping mempromosikan perlindungan hak asasi manusia, Barat pun memproduksi 
rezim-rezim totaliter yang menindas kebebasan individu dan martabat manusia. Juga, 
meskipun Barat berkomitmen untuk mempromosikan konsep kesetaraan manusia, namun 
sekaligus Barat juga melakukan praktik rasisme yang brutal. Naquib al-Attas dalam buku 
Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (2002) yang menghimpun gagasan 
pemikir-pemikir besar dalam sejarah manusia, seperti Sopocles (495-406 SM), Thucydides 
(460-400 SM), Plato (428-348 SM), Aristotle (384-322 SM), Confucius (551-479), Adam 
Smith (1723-1790), Immanuel Kant (1724-1804), Karl Marx (1818-1883), Nelson Mandela, 
Edward Said (1935-2003) menyebut problem terberat yang dihadapi manusia dewasa ini 
adalah hegemoni dan dominasi keilmuan (knowledge) Barat yang mengarah pada kehancuran 
umat manusia.

Satu fenomena yang belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Sepanjang 
sejarahnya, manusia telah menghadapi banyak tantangan dan kekacauan. Tetapi, belum 
pernah mereka menghadapi tantangan yang lebih serius daripada yang ditimbulkan oleh 
peradaban Barat saat ini. Kekacauan itu, menurut al-Attas, bersumber dari sistem 
keilmuan Barat itu sendiri, yang disebarkan ke seluruh dunia. Knowledge yang 
disebarkan Barat, pada hakikatnya telah menjadi problematik, karena kehilangan tujuan 
yang benar; dan lebih menimbulkan kekacauan (chaos) dalam kehidupan manusia, ketimbang 
membawa perdamaian dan keadilan; knowledge yang seolah-olah benar, padahal memproduksi 
kekacauan dan skeptisisme (confusion and scepticism); bahkan knowledge yang untuk 
pertama kali dalam sejarah telah membawa kepada kekacauan dalam �The Three Kingdom of 
Nature� yaitu dunia binatang, tumbuhan, dan mineral. Menurut al-Attas, bagi Barat, 
kebenaran fundamental dari agama, dipandang sekadar teoretis. Kebenaran absolut
 dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima.

Tidak ada satu kepastian. Konsekuensinya, adalah penegasian Tuhan dan akhirat dan 
menempatkan manusia sebagai satu-satunya yang berhak mengatur dunia. Manusia akhirnya 
dituhankan dan Tuhan pun dimanusiakan (Man is deified and Deity humanised). Dengan 
karakteristiknya semacam itu, maka secara konseptual, antara peradaban Barat dan 
Islam, terdapat perbedaan yang fundamental sehingga akan menimbulkan konflik yang 
bersifat permanen (permanent confrontation).

John Mohawk menulis sebuah risalah kecil berjudul A Basic Call to Consciousness: 
Indigenous People's Address to the Western World. Ia mencatat, bahwa peradaban Barat 
telah melakukan eksploitasi yang mengerikan terhadap alam, sehingga ia sampai pada 
kesimpulan, jalan yang ditempuh oleh peradaban Barat adalah jalan kematian bagi umat 
manusia itu sendiri. (Today the species of Man is facing a question of the very 
survival of the species. The way of life known as Western Civilization is on a death 
path on which their own culture has no viable answers). Peradaban Barat yang kini 
didominasi gagasan neo-liberal seperti identik dengan ketidakadilan dan kezaliman 
terhadap umat manusia. Data UNDP menunjukkan, saat ini, lebih dari 80 negara memiliki 
pendapatan per kapita lebih rendah dibandingkan satu dekade sebelumnya.

Tahun 1960, perbandingan pendapatan per kapita antara seperlima penduduk bumi di 
negara-negara terkaya dengan seperlima penduduk bumi di negara-negara termiskin adalah 
30:1. Tahun 1990, kesenjangan itu meningkat menjadi 60:1; dan tahun 1997 menjadi 74:1. 
Seperlima penduduk bumi di negara-negara kaya kini menikmati 86 persen GDP (Gross 
Domestic Product) dunia, 82 persen nilai ekspor dunia, dan 68 persen investasi asing 
secara langsung (foreign direct investment/FDI). Sementara seperlima penduduk bumi di 
negara-negara termiskin hanya menikmati 1 persen GDP dunia, 1 persen dari nilai ekspor 
dunia, dan 1 persen FDI. Namun, jalan kematian Barat itu justru kini terus-menerus 
dipasarkan melalui proses globalisasi.

Presiden Consumer Association of Penang (CAP), SM Idris, menulis dalam bukunya, 
Globalization and the Islamic Challenge, bahwa globalisasi merupakan ancaman yang 
sangat serius terhadap kaum Muslim. (Globalization poses a serious threat to Muslims. 
It not only brings about economic exploitation and impoverishment, but also serious 
erosion of Islamic beliefs, values, culture, and tradition). Menurut Idris, 
globalisasi bukan hanya mempraktikkan eksploitasi ekonomi dan pemiskinan, tetapi juga 
mengikis keyakinan, nilai-nilai, budaya, dan tradisi Islam. Kapitalisme global 
mempromosikan nilai-nilai individualisme, materialisme, konsumerisme, dan hedonisme. 
Paham-paham itu jelas langsung menusuk jantung ajaran Islam.

Pasca Perang Dingin, menurut Idris, satu-satunya kekuatan yang tersisa yang diharapkan 
mampu memberikan tantangan terhadap proyek globalisasi adalah dunia Islam. Ironisnya, 
sejak dulu, hingga kini, di kalangan Muslim, ada saja yang terpesona dengan pandangan 
dan jalan hidup Barat. Abdullah Cevdet, seorang tokoh sekuler Gerakan Turki Muda 
menyatakan: �Yang ada hanya satu peradaban, dan itu adalah peradaban Eropa. Karena 
itu, kita harus meminjam peradaban Barat, baik bunga mawarnya mau pun durinya 
sekaligus.� Banyak hal yang dapat dicontoh dari Barat. Tetapi bukan jalan 
sekular-liberal yang telah mengantarkan Barat pada relativisme dan skeptisisme kepada 
kebenaran agama. [Republika Online] 
Posted by: Redaksi on 01, Aug 04 | 10:07 am
Comment Archives
Return to : WEBLOG

http://hayatulislam.net/



Untuk mendapatkan artikel-artikel seputar Islam, silahkan kunjungi Hayatul Islam.Net - 
Menuju Islam Kaffah http://hayatulislam.net



---------------------------------
Find local movie times and trailers on Yahoo! Movies.


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
$9.95 domain names from Yahoo!. Register anything.
http://us.click.yahoo.com/J8kdrA/y20IAA/yQLSAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih 
Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppiindia.shyper.com
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Posting: [EMAIL PROTECTED]
5. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
6. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
7. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke