Makasih Mbah. Memang ibadah ritual tsb belum berhasil ... Mungkin saja ibadah ritual tsb dilakukan karena takut gak disayang mertua...:-), jadi bukan karena-Nya. Cuma simbol.
Kalau orang betul2 melakukan ibadah ritualnya karenaNya, mikir dua kali Mbah diberi jabatan. Gak langsung mabok. Lha ya mikir dong, ini bidang saya bukan ya?..Mampu gak ya? Memang dah jungkir balik. wassalam, --- In [email protected], "RM Danardono HADINOTO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > --- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> > wrote: > > > > makanya, rakyat kecil harus lebih banyak lagi beribadah daripada > > pemimpin negara ini...hue..he..he... > > > > Pemimpin negara ini dah merasa merdeka secara moral karena mereka > > berfikir mereka bekerja untuk rakyat, jadi ibadahnya (amalnya) > > buanyak. Pernah dengar gak cerita bahwa pemimpin negara itu gak > > perlu sholat (boleh meninggalkan sholat) karena apa yang mereka > > kerjakan (meeting penting) merupakan pekerjaan yang lebih penting, > > untuk rakyat. > > > -------------- > > Mbak, ini ada srtikel yang cespleng dalam thema ini. > Saya kutip dahulu, kalimat akhir yang sangat membuat kita me- renung > renung: > > "Tujuan sebuah ritual, dalam perspektif seperti ini, dinilai telah > tercapai seiring dengan tuntas dilakukannya ritual dan seremoni > tersebut. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Akibatnya, yang > terbentuk kemudian adalah manusia beragama yang berdimensi paradoks: > secara ritual mereka saleh, namun tidak secara sosial- kemanusiaan..." > > > Lengkapnya: > > > > Agama, Depag dan Moral-Etik Kekuasaan > > Muhammad Ja'far > > ERKUAKNYA indikasi terjadinya tindakan penyimpangan dana sisa > penyelenggaraan haji merupakan persoalan yang layak menjadi bahan > evaluasi kita terhadap pola pikir dan sikap keberagamaan kita selama > ini. Karena bagaimanapun, kasus ini jelas merupakan implementasi > tindakan yang jelas bertentangan dengan prinsip dan nilai > keberagamaan itu sendiri. > > Apa yang menjadi penyebab terjadi tindakan-tindakan penyelewengan > demikian, tentu harus menjadi fokus kita. Apalagi hal itu terjadi > pada sebuah lembaga kenegaraan yang pada dasarnya selalu diharapkan > memainkan peran penting sebagai pilar penegakan moralitas dan etika > berkekuasaan. > > Secara umum, terjadinya tindakan penyelewengan dana atau dalam skala > yang lebih besar korupsi pada Departemen Agama (Depag), tak dapat > dilepaskan dari konteks persoalan global yang dihadapi juga oleh > berbagai lembaga dan institusi kenegaraan di Indonesia saat ini. > Tindakan korupsi, merupakan salah satu problem mendasar negara ini. > > Dan, pengungkapan kasus serupa di Depag, merupakan salah satu bagian > dari realisasi agenda pemerintah untuk melakukan pemberantasan > tindakan korupsi. Terkuaknya kasus demikian yang terjadi di Depag, > harus ditempatkan dan dipahami dalam konteks ini. > > Walaupun, tentu sesuatu yang amat disayangkan bahwa praktik yang > terjadi di beberapa institusi negara ini, juga terjadi pada sebuah > lembaga kenegaraan yang mewenangi persoalan agama, yang notabene > tentu tidak dapat dilepaskan dari persoalan moralitas dan etika > kekuasaan. > > Salah satunya dalam memikul dan menjalankan politik kekuasaan yang > tak lain merupakan tanggung jawab yang diamanatkan pada para wakil > rakyat. > > Disimak dari perspektif ini, tentu sangat disayangkan bahwa lembaga > Depag juga dililit oleh problem penyalahgunaan kekuasaan. Sebab, > justru lembaga inilah yang diharapkan mampu memberikan contoh dan > menjadi profile positif 'sehatnya' sebuah lembaga kenegaraan. > > Namun, hal ini tidak lantas membolehkan kita untuk melakukan > penilaian secara parsial dan sentimentil dalam menanggapi masalah > ini. Sebab secara umum, ini terkait dengan fenomena kenegaraan secara > umum, serta pola pikir sikap keberagamaan masyarakat umumnya. > > > Pola Pikir Mayoritas > > Dalam konteks yang lebih luas, selain terkait dengan kondisi politik > kenegaraan Indonesia secara umum, persoalan ini erat terkait dengan > pola pikir mayoritas masyarakat kita yang masih terpaku pada pola > pikir keagamaan yang menekankan pada aspek formalistik-legalistik. > > Akibatnya, dimensi sosial sebuah agama, menjadi terbaikan. Padahal, > kita tahu bahwa segenap ritual dan seremoni keagamaan selalu memiliki > paralelisme dengan élan vital sosial-kemanusiaan. Bahkan, jika kita > mengacu pada makna dasar agama itu sendiri, tentu yang menjadi > orientasi utama dari kelahiran agama itu tak lain adalah dimensi > sosial-kemanusiaan. > > Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, agama kemudian menggunakan > dimensi ritual dan seremonial sebagai medianya. Dua hal itu > diharapkan mampu menjadi media yang dapat mengasah aspek kognitif dan > spiritual para penganutnya. Dengan menjalankan ritual dan seremoni > keagamaan, kesadaran manusia diharapkan mampu menembus makna di > baliknya, serta tujuan yang hendak diraihnya. > > Di sisi lain, dua hal itu diharapkan mampu menjadi pisau pengasah > dimensi spiritulitas diri individu. Sebab dalam perspektif agama, > dimensi spiritual manusia merupakan salah satu aspek penting pada > diri manusia yang akan memberikan kontribusi besar pada penciptaan > tingkah laku dan sikap kesehariannya. > > > Kelalaian > > Tapi uniknya, yang kini banyak terjadi justru kelalaian terhadap > makna dan fungsi yang ada dibalik sebuah ritual dan seremoni > keagamaan. Manusia beragama cenderung terjebak pada penggunaan > seremoni dan ritual sebagai sebuah tujuan, bukan media atau alat > untuk mencapai tujuan. Akibatnya, dimensi sosial-kemanusiaan yang > menjadi makna substansial sebuah ritual dan seremoni keagamaan, > menjadi terabaikan. > > Tujuan sebuah ritual, dalam perspektif seperti ini, dinilai telah > tercapai seiring dengan tuntas dilakukannya ritual dan seremoni > tersebut. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Akibatnya, yang > terbentuk kemudian adalah manusia beragama yang berdimensi paradoks: > secara ritual mereka saleh, namun tidak secara sosial-kemanusiaan. > > --------- > > Na ya gini lah kenyataannya. > > Salam > > Danardono *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

