Bung DG,

Apakah anda mempunyai resep untuk mereparasi "mental" para punggawa
Pertamina? Kalau persoalan mental yang menjadi akar permasalahan di
PERTAMINA. Karena tidak ada alat ukur yang dapat dijadikan indikator untuk
menilai kadar mental seseorang, sangat relatif bung. Hanya Tuhan yang punya
alat ukur untuk menilai kadar mental manusia (baik dan buruk). Disamping
itu, sarana perbaikan mental manusia sudah cukup banyak dan bertabur
dimana-mana. Misalnya, begitu banyak acara-acara keagamaan di berbagai media
elektronik (TV, Radio), khotbah-khotbah diberbagai rumah ibadah dll, yang
selalu mengajak umat manusia untuk berbuat kebajikan (jangan korupsi,
menolong antar sesama dll). Tapi apa yang terjadi? Dalam konteks ini, apakah
mental sebagai akar permasalahan masih relevan sebagai alat ukur indikator
perbaikan kinerja dan manajemen PERTAMINA?

Selanjutnya, absurditas yang saya sampaikan terkait pengembaraan PERTAMINA
ke Irak. Dimana logika-nya, jika untuk mengelola ladang minyak dan gas,
PERTAMINA harus mengembara jauh ke negeri 1001 malam (naik PERMADANI kali
yee) sementara dinegeri sendiri terdapat cadangan minyak dan gas yang
dikelola (Blok Cepu) atau dieskploitasi oleh maskapai-maskapai pertambangan
internasional. Apa yang terjadi tersebut telah mementahkan alasan terbesar
penyerahan pengelolaan Blok Cepu ke tangan EMOI, dimana salah satu alasannya
adalah ketidakmampuan PERTAMINA untuk mengelola Blok Cepu secara mandiri
karena lemahnya sumber daya dan infrastruktur pendukung eksploitasi. Gelo
atuh....

Trus, yang membuat saya bertanya-tanya atas tanggapan anda adalah :
persoalan perbandingan kemajuan antara PETRONAS dengan PERTAMINA. Masak
ukurang kemajuan tersebut hanya dikarenakan kepemilikan atas sebuah tim
balap F-1 dan superbike???? Masih banyak tuh maskapai-maskapai pertambangan
raksasa yang tidak mempunyai tim balap (F-1, MotoGP, Superbike dll). Dan
semakin buram-nya potret pengelolaan PERTAMINA seandainya mempunyai tim
balap F-1 atau motoGP, ditengah keterpurukan bangsa Indonesia.

ps : untuk mengetahui seluk beluk PERTAMINA, kan gak harus kerja dilapangan
minyak. Emangnya Rizal Malarangeng pernah kerja dilapangan minyak sampai
ditunjuk oleh Pemerintah menjadi salah satu juru runding pemerintah dengan
EMOI???

Salam

Jopi


----- Original Message -----
From: "Mas Bagong" <[EMAIL PROTECTED]>
To: <[email protected]>
Sent: Thursday, June 23, 2005 9:32 AM
Subject: Re: [ppiindia] Re: Dikuras Asing


> Masalahnya Bung Yopie:
> Kalau mau membuat PERTAMINA atau persuahaan republik ini besar, harus
> dari fundamental dulu yaitu perbaikan mental.... Jangan salah,
> Pertamina masuk ke Irak bukan karena 'ditundhung' dari negeri sendiri,
> tetapi karena ketidakmampuan mereka bekerja dengan efektif dan
> efisien... Yang kedua kemenangan Pertamina di Irak, karena faktor
> hubungan kedua negara (Irak dan Indonesia) yang begitu 'mesra'...
> Pernahkan anda bekerja di lapangan minyak? Kalau sudah pernahkah
> membandingkan antara PERTAMINA dengan perusahaan lain? Terus terang
> saya ngiler lihat kinerja PETRONAS Malaysia (meski saya nggak suka
> sama pemerintah malaysia) mereka di tahun 70-an belajar di PERTAMINA,
> tetapi sekarang PETRONAS mampu melompati PERTAMINA bahkan jauh di
> langit! Merke mampu memiliki Tim Balap F1 atau SUperBike, Pertamina?
> Kagak pernah denger tuh!
> Inilah masalahnya.... MENTAL! Mau dengan alasan apapun sepanjang
> mental masih nggak karuan, maka tidak ada gunanya lapangan minyak
> sedunia sekalipun dikuasai PERTAMINA!
> DG
>
> On 6/22/05, Yopie Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > Saya coba ikut nimbrung...
> >
> > Tapi bukan berarti jalan keluarnya harus menyerahkan pengelolaan Blok
Cepu
> > ke EMOI, apalagi dengan alasan mental korup para pejabat PERTAMINA (yang
> > memang busuk). Tapi seharusnya kan dibangun satu mekanisme kontrol yang
> > ketat terhadap pengelolaan dan manajemen PERTAMINA. Yang paling
mengherankan
> > adalah masalah pengembaraan Pertamina di Western Dessert (Irak) yang
> > kontraknya sudah ditandatangani oleh Pertamina dan Pemerintah Irak
semasa
> > Presiden Saddam Hussein. Blok di Western Dessert ini dikabarkan
mengandung
> > minyak mentah (crude oil) sebanyak 3 juta barel (sumber : Suara Karya).
> > Hal yang membuat naluri ingin tahu kita semakin besar, alangkah teganya
> > membiarkan sedemikian jauhnya Pertamina mencari minyak padahal di sisi
lain
> > potensi di dalam negeri seperti yang ada di Blok Cepu sangat besar yaitu
> > sebanyak 770 juta barel. Asumsi untuk memberikan Blok Cepu ke Pertamina
ini
> > tidaklah berlebihan, sebab Blok Cepu adalah Wilayah Kerja Pertamina
(WKP)
> > yang seandainya tidak diberikan kepada ExxonMobil bukanlah merupakan
> > pelanggaran hukum. Persoalan Blok Cepu, sebaiknya jangan sekadar
dijadikan
> > komoditas, semata untuk mempercepat dilakukannya produksi tahun 2008
> >
> > Yang paling utama sebenarnya dari pemindahan pengelolaan Blok Cepu
adalah,
> > seberapa besar bagian yang didapat Indonesia dari proses produksi-nya.
> > Mungkin sebagai gambaran, cuplikan pendapat Rizal Malarangeng sebagai
juru
> > runding Pemerintah Indonesia  :
> >
> > Dari satu berita, Rizal menyebut Indonesia akan dapat Rp 15-20 trilyun
per
> > tahun dari Exxon:
> >
> > ==
> > Rizal said that the state would at least acquire revenues of around
Rp15-20
> > trillion per year from the renewal, depending on world crude oil prices.
> > http://www.tempo.co.id/majalah/free/eco-1.html
> > ==
> >
> > Padahal dari berita di Sinar Harapan, dengan kapasitas 300 ribu barel
per
> > hari (dan perkiraan cadangan 2 milyar barrel), pada harga US$ 50 per
barrel
> > pemerintah bisa mendapat Rp 54 trilyun per tahun. Artinya, Indonesia
harus
> > menyerahkan sekitar Rp 39 trilyun per tahun ke Exxon Mobil. Padahal
biaya
> > investasi pendirian pengeboran minyak hanya sekitar Rp 17 trilyun. Dalam
> > setahun sudah bisa kembali (break event)!
> >
> > ==
> > Lapangan minyak Cepu ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 ribu
barel
> > per hari.
http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/Keuangan/2004/0531/keu1.html
> > ==
> >
> > Direktur Pertamina, Widya Purnama, berkeras mengelola sendiri blok
minyak
> > Cepu. Seharusnya pemerintah mau pun intelektual yang jujur mau
mendukungnya.
> >
> > ==
> >
> > Dari penjelasan dirut PERTAMINA tersebut memperjelas bahwasanya kita
mampu
> > mengelola Blok Cepu tersebut...
> >
> > Salam,
> >
> > Jopi
> >
> > --- Original Message -----
> > From: "fauziah swasono" <[EMAIL PROTECTED]>
> > To: <[email protected]>
> > Sent: Wednesday, June 22, 2005 6:55 PM
> > Subject: [ppiindia] Re: Dikuras Asing
> >
> >
> > > --- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> > > > Mbak Fauziah, minyak itu ditambang dari zaman Koboy
> > > > tahun 1800-an itu sejarah! Petambang Cepu menambang
> > > > minyak dgn tenaga sendiri fakta!
> > >
> > > Bisa sih bisa mas, kalau kebetulan ketemu minyak yang sudah merembes
> > > dekat permukaan. Saya juga tau cerita ini, juga di Prabumulih Sumsel.
> > > Tapi kalau mesti pake injection technology misalnya?
> > > Anda tidak tahu kan berapa perbandingan recovery factor pada teknologi
> > > zaman kuda dan pada teknologi modern sekarang?
> > >
> > > >
> > > > Kalau BUMN seperti Pertamina atau perusahaan lokal
> > > > seperti Medco, Star, dsb, tentu jauh lebih canggih
> > > > dari itu.
> > > >
> > > > Kebetulan di milis Ekonomi Nasional yang saya
> > > > moderate, banyak orang2 dari Pertamina, Petrosea,
> > > > serta perusahaan minyak lainnya. Jadi saya dapat
> > > > masukan dari mereka. Bahkan sebelumnya yang melakukan
> > > > eksplorasi di Cepu adalah PT Humpuss.
> > > >
> > >
> > > Iyalah, mungkin anda memang jago ekonomi segala macam termasuk ekonomi
> > > energi.
> > >
> > > > Janganlah kita mau jadi antek asing. Lebih baik kelola
> > > > sendiri kekayaan alam kita hingga hasilnya 100% utuh
> > > > di tangan bangsa. Kasihanilah rakyat kita.
> > > >
> > > >
> > >
> > > Siapa yang jadi antek? Kalem dong.. baca dulu 2 postingan saya sebelum
> > > ini. Adakah saya bilang bahwa saya ingin Cepu diberikan ke asing?
> > > Saya heran, waktu BBM mau dinaikkan kayaknya ada orang2 yang marah
> > > sekali dan menuntut Pertamina yg sarang korupsi supaya lebih efisien
> > > dll... Kok, sekarang tiba2 jadi percaya dan sayang sekali sama
> > > Pertamina? Amnesia mendadak?
> > >
> > > Saya kira kita semua bertujuan memaksimalkan keuntungan bangsa... atau
> > > bukan? Asal masuk kekantong bangsa walau dikorupsi lebih baik?
> > > Ini saya kutipkan sedikit keprihatinan seorang teman:
> > >
> > > Celakanya ketika kita berupaya agar ladang minyak dan gas lebih banyak
> > > dikelola dan ditangani oleh perusahaan anak bangsa, misalnya "Coastal
> > > Plain" - bekas konsesi Caltex yang dituntut oleh Provinsi Riau melalui
> > > Siak Pusako, produksinya anjlok, jauh di bawah ketika dikelola Caltex.
> > > Bahkan Dirutnya masuk penjara karena korupsi. Lagi-lagi soal sikap
mental.
> > >
> > >
> > >
> > > fau
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
***************************************************************************
> > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia
> > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> > >
> >
***************************************************************************
> > >
__________________________________________________________________________
> > > Mohon Perhatian:
> > >
> > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> > >
> > > Yahoo! Groups Links
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
***************************************************************************
> > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
> >
***************************************************************************
> >
__________________________________________________________________________
> > Mohon Perhatian:
> >
> > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
> >
> > Yahoo! Groups Links
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
>
>
> --
> Dafit Goenito
>
>
>
***************************************************************************
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia
yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
>
***************************************************************************
> __________________________________________________________________________
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru;
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>




***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke