----- Original Message ----- From: "Mas Bagong" <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Sent: Thursday, June 23, 2005 1:32 PM Subject: Re: [ppiindia] Re: Dikuras Asing (tanggapan untuk Mas Bagong alias DG)
Bung DG................ (kenapa cuma pakai Inisial?) Tangapan saya ada dibawah komentar anda.. > Bang Yopie: > Mengubah mental memang tidak semudah membalik tangan kita, ini butuh > waktu yang mungkin memakan waktu satu generasi atau bahkan seabad atau > mungkin tujuh turunan... Untuk memangkas waktu adalah memang dengan > melakukan 'revolusi' yaitu 'tebang tebu' bagian atas dipotong bagian > akarnya didongkelin supaya bersih.... Namun ini akan memakan banyak > korban dan mungkin instabilitas di negeri ini... Atau kita tingkatkan > pengawasan terhadap Pertamina? Tapi bagaimana mungkin sapu kotor > membersihkan lantai? Harus membersihkan sapu ini dulu, atau impor sapu > dari luar? Nanti saya dikatakan tidak nasionalis lagi, nanti dikatakan > asing menguras jatah auditor, dll, dsb. Makanya untuk mengubah mental adalah dengan membangun sebuah sistem dan mekanisme kontrol (memangnya perubahan itu datang dari langit), dimana publik bisa terlibat dalam proses pengontrolan tersebut. Cara-nya dengan membentuk satu komisi dari berbagai latar belakang disiplin ilmu (NGO, Akademisi, Birokrat), Komisi ini bisa bersifat permanen atau pun ad-hoc yang disesuaikan dengan kebutuhan. Tapi semuanya tergantung dari POLITICAL WILL dab GOOD WILL pemerintah untuk menyehatkan PERTAMINA. > Paling aman ya akhirnya seleksi alam, siapa yang efektif dan efisien, > akan menang... Toh yang paling penting adalah hasil ini kembali ke > rakyat Indonesia ya nggak? Namun rela nggak tuh kita melihat seperti > ini? Melihat Pertamina mati kehabisan darah karena harus bertempur > melawan raksasa-raksasa? > Makanya efisiensi dan efektifitas adalah kunci dasar untuk mengurai > benang ruwet perusahaan ini... (PLUS kemauan dan kemampuan berbuat > jujur serta rela berkorban ...walah idealis amat!) Pendapat anda sangat ambigu, manakala disatu sisi anda menginginkan dan tidak rela kalau PERTAMINA mati dan kehabisan darah karena harus bertempur melawan maskapai-maskapai raksasa pertambangan. Sementara disisi lain anda tidak resisten terhadap kebijakan pemerintah yang memberikan ladang-ladang migas Indonesia disedot maskapai-maskapai pertambangan Internasional. Untuk itu, pemerintah Indonesia harus segera didesak agar menjalanakan program industrialisasi nasional, atau yang lebih ekstrim lagi : NASIONALISASI... Berani kah pemerintah indonesia? > APakah orang harus ke lapangan minyak untuk berbicara minyak? > Sebaiknya begitu, dengan demikian dia tahu 'jurus-jurus' yang harus > dimainkan... Itu urusan negosiator untuk merekrut para ahli atau tekhnisi pertambangan! Tapi pertanyaan anda kan mengarah pada satu titik bahwa : hanya orang-orang yang pernah bekerja dilapangan minyak-lah yang boleh berkomentar tentang Migas secara umum dan Pertamina secara khusus. Saya yang tidak pernah bekerja dilapangan minyak tidak boleh berkomentar. Emangnya PERTAMINA milik nenek moyang orang-orang yang pernah bekerja dilapangan minyak? Ini cuplikan pertanyaan anda : Pernahkan anda bekerja di lapangan minyak? Kalau sudah pernahkah membandingkan antara PERTAMINA dengan perusahaan lain? Bayangkan ketika pihak EMOI misalnya memainkan 'jurus' > explorasi sebagai alasan meminta persentase bagi hasil harus besar > misalnya, kalau nggak tahu apa itu eksplorasi bagaimana mungkin bisa > mematahkan 'jurus' ini? Atau kalau nggak tahu misalnya apa itu > drilling operation, lha bagaimana mungkin menekuk alasan lawannya? > Boleh saja pemegang keputusan tidak tahu mengenai operaional minyak, > tetapi setidaknya tim ahlinya harus ada.... Masuk akal khan? > Ini baru perbandingan kecil mas.... Kalau mau saya jentrengkan di sini > betapa Petronas telah melibas habis pertamina tambah sakit hati > saya... (bagaimanapun saya tetap orang Indonesia broer!) > DG > > On 6/23/05, Yopie Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Bung DG, > > > > Apakah anda mempunyai resep untuk mereparasi "mental" para punggawa > > Pertamina? Kalau persoalan mental yang menjadi akar permasalahan di > > PERTAMINA. Karena tidak ada alat ukur yang dapat dijadikan indikator untuk > > menilai kadar mental seseorang, sangat relatif bung. Hanya Tuhan yang punya > > alat ukur untuk menilai kadar mental manusia (baik dan buruk). Disamping > > itu, sarana perbaikan mental manusia sudah cukup banyak dan bertabur > > dimana-mana. Misalnya, begitu banyak acara-acara keagamaan di berbagai media > > elektronik (TV, Radio), khotbah-khotbah diberbagai rumah ibadah dll, yang > > selalu mengajak umat manusia untuk berbuat kebajikan (jangan korupsi, > > menolong antar sesama dll). Tapi apa yang terjadi? Dalam konteks ini, apakah > > mental sebagai akar permasalahan masih relevan sebagai alat ukur indikator > > perbaikan kinerja dan manajemen PERTAMINA? > > > > Selanjutnya, absurditas yang saya sampaikan terkait pengembaraan PERTAMINA > > ke Irak. Dimana logika-nya, jika untuk mengelola ladang minyak dan gas, > > PERTAMINA harus mengembara jauh ke negeri 1001 malam (naik PERMADANI kali > > yee) sementara dinegeri sendiri terdapat cadangan minyak dan gas yang > > dikelola (Blok Cepu) atau dieskploitasi oleh maskapai-maskapai pertambangan > > internasional. Apa yang terjadi tersebut telah mementahkan alasan terbesar > > penyerahan pengelolaan Blok Cepu ke tangan EMOI, dimana salah satu alasannya > > adalah ketidakmampuan PERTAMINA untuk mengelola Blok Cepu secara mandiri > > karena lemahnya sumber daya dan infrastruktur pendukung eksploitasi. Gelo > > atuh.... > > > > Trus, yang membuat saya bertanya-tanya atas tanggapan anda adalah : > > persoalan perbandingan kemajuan antara PETRONAS dengan PERTAMINA. Masak > > ukurang kemajuan tersebut hanya dikarenakan kepemilikan atas sebuah tim > > balap F-1 dan superbike???? Masih banyak tuh maskapai-maskapai pertambangan > > raksasa yang tidak mempunyai tim balap (F-1, MotoGP, Superbike dll). Dan > > semakin buram-nya potret pengelolaan PERTAMINA seandainya mempunyai tim > > balap F-1 atau motoGP, ditengah keterpurukan bangsa Indonesia. > > > > ps : untuk mengetahui seluk beluk PERTAMINA, kan gak harus kerja dilapangan > > minyak. Emangnya Rizal Malarangeng pernah kerja dilapangan minyak sampai > > ditunjuk oleh Pemerintah menjadi salah satu juru runding pemerintah dengan > > EMOI??? > > > > Salam > > > > Jopi > > > > > > ----- Original Message ----- > > From: "Mas Bagong" <[EMAIL PROTECTED]> > > To: <[email protected]> > > Sent: Thursday, June 23, 2005 9:32 AM > > Subject: Re: [ppiindia] Re: Dikuras Asing > > > > > > > Masalahnya Bung Yopie: > > > Kalau mau membuat PERTAMINA atau persuahaan republik ini besar, harus > > > dari fundamental dulu yaitu perbaikan mental.... Jangan salah, > > > Pertamina masuk ke Irak bukan karena 'ditundhung' dari negeri sendiri, > > > tetapi karena ketidakmampuan mereka bekerja dengan efektif dan > > > efisien... Yang kedua kemenangan Pertamina di Irak, karena faktor > > > hubungan kedua negara (Irak dan Indonesia) yang begitu 'mesra'... > > > Pernahkan anda bekerja di lapangan minyak? Kalau sudah pernahkah > > > membandingkan antara PERTAMINA dengan perusahaan lain? Terus terang > > > saya ngiler lihat kinerja PETRONAS Malaysia (meski saya nggak suka > > > sama pemerintah malaysia) mereka di tahun 70-an belajar di PERTAMINA, > > > tetapi sekarang PETRONAS mampu melompati PERTAMINA bahkan jauh di > > > langit! Merke mampu memiliki Tim Balap F1 atau SUperBike, Pertamina? > > > Kagak pernah denger tuh! > > > Inilah masalahnya.... MENTAL! Mau dengan alasan apapun sepanjang > > > mental masih nggak karuan, maka tidak ada gunanya lapangan minyak > > > sedunia sekalipun dikuasai PERTAMINA! > > > DG > > > > > > On 6/22/05, Yopie Peranginangin <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Saya coba ikut nimbrung... > > > > > > > > Tapi bukan berarti jalan keluarnya harus menyerahkan pengelolaan Blok > > Cepu > > > > ke EMOI, apalagi dengan alasan mental korup para pejabat PERTAMINA (yang > > > > memang busuk). Tapi seharusnya kan dibangun satu mekanisme kontrol yang > > > > ketat terhadap pengelolaan dan manajemen PERTAMINA. Yang paling > > mengherankan > > > > adalah masalah pengembaraan Pertamina di Western Dessert (Irak) yang > > > > kontraknya sudah ditandatangani oleh Pertamina dan Pemerintah Irak > > semasa > > > > Presiden Saddam Hussein. Blok di Western Dessert ini dikabarkan > > mengandung > > > > minyak mentah (crude oil) sebanyak 3 juta barel (sumber : Suara Karya). > > > > Hal yang membuat naluri ingin tahu kita semakin besar, alangkah teganya > > > > membiarkan sedemikian jauhnya Pertamina mencari minyak padahal di sisi > > lain > > > > potensi di dalam negeri seperti yang ada di Blok Cepu sangat besar yaitu > > > > sebanyak 770 juta barel. Asumsi untuk memberikan Blok Cepu ke Pertamina > > ini > > > > tidaklah berlebihan, sebab Blok Cepu adalah Wilayah Kerja Pertamina > > (WKP) > > > > yang seandainya tidak diberikan kepada ExxonMobil bukanlah merupakan > > > > pelanggaran hukum. Persoalan Blok Cepu, sebaiknya jangan sekadar > > dijadikan > > > > komoditas, semata untuk mempercepat dilakukannya produksi tahun 2008 > > > > > > > > Yang paling utama sebenarnya dari pemindahan pengelolaan Blok Cepu > > adalah, > > > > seberapa besar bagian yang didapat Indonesia dari proses produksi-nya. > > > > Mungkin sebagai gambaran, cuplikan pendapat Rizal Malarangeng sebagai > > juru > > > > runding Pemerintah Indonesia : > > > > > > > > Dari satu berita, Rizal menyebut Indonesia akan dapat Rp 15-20 trilyun > > per > > > > tahun dari Exxon: > > > > > > > > == > > > > Rizal said that the state would at least acquire revenues of around > > Rp15-20 > > > > trillion per year from the renewal, depending on world crude oil prices. > > > > http://www.tempo.co.id/majalah/free/eco-1.html > > > > == > > > > > > > > Padahal dari berita di Sinar Harapan, dengan kapasitas 300 ribu barel > > per > > > > hari (dan perkiraan cadangan 2 milyar barrel), pada harga US$ 50 per > > barrel > > > > pemerintah bisa mendapat Rp 54 trilyun per tahun. Artinya, Indonesia > > harus > > > > menyerahkan sekitar Rp 39 trilyun per tahun ke Exxon Mobil. Padahal > > biaya > > > > investasi pendirian pengeboran minyak hanya sekitar Rp 17 trilyun. Dalam > > > > setahun sudah bisa kembali (break event)! > > > > > > > > == > > > > Lapangan minyak Cepu ini memiliki kapasitas produksi sebesar 300 ribu > > barel > > > > per hari. > > http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/Keuangan/2004/0531/keu1.html > > > > == > > > > > > > > Direktur Pertamina, Widya Purnama, berkeras mengelola sendiri blok > > minyak > > > > Cepu. Seharusnya pemerintah mau pun intelektual yang jujur mau > > mendukungnya. > > > > > > > > == > > > > > > > > Dari penjelasan dirut PERTAMINA tersebut memperjelas bahwasanya kita > > mampu > > > > mengelola Blok Cepu tersebut... > > > > > > > > Salam, > > > > > > > > Jopi > > > > > > > > --- Original Message ----- > > > > From: "fauziah swasono" <[EMAIL PROTECTED]> > > > > To: <[email protected]> > > > > Sent: Wednesday, June 22, 2005 6:55 PM > > > > Subject: [ppiindia] Re: Dikuras Asing > > > > > > > > > > > > > --- In [email protected], A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > > > Mbak Fauziah, minyak itu ditambang dari zaman Koboy > > > > > > tahun 1800-an itu sejarah! Petambang Cepu menambang > > > > > > minyak dgn tenaga sendiri fakta! > > > > > > > > > > Bisa sih bisa mas, kalau kebetulan ketemu minyak yang sudah merembes > > > > > dekat permukaan. Saya juga tau cerita ini, juga di Prabumulih Sumsel. > > > > > Tapi kalau mesti pake injection technology misalnya? > > > > > Anda tidak tahu kan berapa perbandingan recovery factor pada teknologi > > > > > zaman kuda dan pada teknologi modern sekarang? > > > > > > > > > > > > > > > > > Kalau BUMN seperti Pertamina atau perusahaan lokal > > > > > > seperti Medco, Star, dsb, tentu jauh lebih canggih > > > > > > dari itu. > > > > > > > > > > > > Kebetulan di milis Ekonomi Nasional yang saya > > > > > > moderate, banyak orang2 dari Pertamina, Petrosea, > > > > > > serta perusahaan minyak lainnya. Jadi saya dapat > > > > > > masukan dari mereka. Bahkan sebelumnya yang melakukan > > > > > > eksplorasi di Cepu adalah PT Humpuss. > > > > > > > > > > > > > > > > Iyalah, mungkin anda memang jago ekonomi segala macam termasuk ekonomi > > > > > energi. > > > > > > > > > > > Janganlah kita mau jadi antek asing. Lebih baik kelola > > > > > > sendiri kekayaan alam kita hingga hasilnya 100% utuh > > > > > > di tangan bangsa. Kasihanilah rakyat kita. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Siapa yang jadi antek? Kalem dong.. baca dulu 2 postingan saya sebelum > > > > > ini. Adakah saya bilang bahwa saya ingin Cepu diberikan ke asing? > > > > > Saya heran, waktu BBM mau dinaikkan kayaknya ada orang2 yang marah > > > > > sekali dan menuntut Pertamina yg sarang korupsi supaya lebih efisien > > > > > dll... Kok, sekarang tiba2 jadi percaya dan sayang sekali sama > > > > > Pertamina? Amnesia mendadak? > > > > > > > > > > Saya kira kita semua bertujuan memaksimalkan keuntungan bangsa... atau > > > > > bukan? Asal masuk kekantong bangsa walau dikorupsi lebih baik? > > > > > Ini saya kutipkan sedikit keprihatinan seorang teman: > > > > > > > > > > Celakanya ketika kita berupaya agar ladang minyak dan gas lebih banyak > > > > > dikelola dan ditangani oleh perusahaan anak bangsa, misalnya "Coastal > > > > > Plain" - bekas konsesi Caltex yang dituntut oleh Provinsi Riau melalui > > > > > Siak Pusako, produksinya anjlok, jauh di bawah ketika dikelola Caltex. > > > > > Bahkan Dirutnya masuk penjara karena korupsi. Lagi-lagi soal sikap > > mental. > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > fau > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > *************************************************************************** > > > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju > > Indonesia > > > > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > > > > > > > > > > > *************************************************************************** > > > > > > > __________________________________________________________________________ > > > > > Mohon Perhatian: > > > > > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > > otokritik) > > > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > > > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > *************************************************************************** > > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > > > > > > *************************************************************************** > > > > > > __________________________________________________________________________ > > > > Mohon Perhatian: > > > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg > > otokritik) > > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > > > Dafit Goenito > > > > > > > > > > > *************************************************************************** > > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia > > yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > > > > > *************************************************************************** > > > __________________________________________________________________________ > > > Mohon Perhatian: > > > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > *************************************************************************** > > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > > *************************************************************************** > > __________________________________________________________________________ > > Mohon Perhatian: > > > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > > > > > > > > > -- > Dafit Goenito > > > *************************************************************************** > Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org > *************************************************************************** > __________________________________________________________________________ > Mohon Perhatian: > > 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) > 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. > 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; > 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] > 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] > 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] > > Yahoo! Groups Links > > > > > > > > > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, www.ppi-india.da.ru; 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

