Nimbrung dikit: "Igitur qui desiderat pacem, praeparet bellum." atau "Si vis pacem, para bellum" (Epitoma Rei Militaris by Vegetius)
"if you want peace prepare for war" Dan quote diatas amat luas dipercaya kalangan barat. Juga diimplementasikan thd bagaimana sistem ditegakkan dalam penyelenggaraan negara. Tidak usah bertumpu pada "kesucian" seorang pemimpin atau pejabat, karena sebagai manusia semua orang punya kecenderungan berbuat salah (beragama atau tidak, atau apapun agamanya). Kalau ingin punya negara yg bebas korupsi, maka pikirkanlah bahwa pemimpin anda adalah potensial koruptor. Dengan demikian sistem dibuat sedemikian ketat dan hati2 spy tidak ditembus si maling ini dan apabila ketahuan maling: hukum sudah siap untuk menghajarnya. Kalau nunggu setiap pejabat punya hati suci dan tidak akan pernah tergoda maling, maka siap2 aja punya negara "pasang-surut". Makanya pula negara2 yg rendah indeks korupsinya ditandai oleh sistem yg bagus dan penegakan hukum yang tegas. Begitu pula -pengertian saya- thd apa yang Mbak Lina ungkapkan soal perang. Perang itu realita. Sebenci2nya saya terhadap perang, tetapi kalau dijajah, maka pantang untuk diam. IMO, membiarkan kejahatan menang adalah suatu bentuk mendukung kejahatan itu untuk langgeng. Itu tentang fakta. Sedangkan kebersihan hati, ketulusan niat, dll, adalah pada tataran hubungan vertikal, antara individu dan Tuhannya. Susah kalau ngomongin hal ini pada saat kita punya beragam perbedaan iman. Pasti akan ada misunderstandings. Saya setuju pendapat Mbak Lina, Sang Buddha is a good person, dan banyak diantara ajaran is in line dg apa yg ada diagama Islam. Tetapi ketika agama mencakup hal2 ttg perang bukanlah menunjukkan bahwa agama itu cinta kekerasan, karena agama ingin mencakup semua dimensi manusia - vertikal dan horizontal. Contoh dimensi horizontal misalnya adalah perbedaan pendapat. Pernah sdr. KH -member milis ini- menyatakan ingin sekali pegang kekuasaan militer spt halnya Pol Pot atau Islam Karimov supaya bisa membunuhi rakyat yg berani tidak sependapat dg penguasa. So? itu realita. Kalau terjadi, apakah kita semua akan diam? Kalau pada keadaan semua manusia dimuka bumi ini penuh cinta kasih spt Mbah Danar dan tidak mau melanggar hak orang lain, maka yg berlaku adalah hub vertikal tadi (mis. apakah niat saya benar2 tulus membantu?). Pertanyaannya: apakah keadaan itu akan pernah tercapai? salam, fau --- In [email protected], "Lina Dahlan" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kenyataan didunia ini tidak bisa hidup dengan kasih saja. Ada perang. > Jadi, harus diajarkan pula gimana perang yang baik sama saja dengan > ajaran gimana harus bercinta-cintaan yang baik. Gimana bisa tau damai > kalau gak ada perang? Kalau sekarang perang dah gak ngikutin aturan > sama saja dengan orang cinta-cintaan gak ngikutin aturan. Aturan yang > universal itulah agama universal. > *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

