Mungkin inilah hasil dari privatisasi Rumah Sakit atau
liberalisasi sektor Rumah Sakit. Pelayanan kesehatan
diserahkan kepada swasta. Pemerintah tak perlu "ikut
campur."

Ada uang selamat. Tak ada uang ya sudah,
berdoalah...:)

Sesungguhnya ini adalah berita yang sangat
menyedihkan. Kebijakan ekonomi yang salah-lah (yang
membisniskan pelayanan kesehatan) yang menyebabkan
banyak rakyat miskin yang meninggal karena tidak
mendapat pelayanan kesehatan.

Sudah saatnya Puskesmas atau pun bidan-bidan
tradisional dimasyarakatkan kembali untuk membantu
proses kelahiran.

--- Ambon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

>
http://www.indomedia.com/bpost/072005/17/depan/nas3.htm
> 
> 
> Tak Mampu Bayar Bayi Meninggal
> Makassar, BPost
> Inilah gambaran semakin tipisnya rasa kemanusiaan
> bangsa ini. Gara-gara tidak punya uang untuk
> membiayai persalinan, seorang warga Makasar,
> Rahmatia harus kehilangan bayi yang dikandungnya. 
> 
> Pasalnya, Rumah Sakit Labuang Baji, Makassar tidak
> mau menangani persalinannya karena Rahmatia tidak
> mampu membayar biaya persalinan.
> 
> "Air ketubannya pecah, Kamis (14/7) malam (14/7),
> tapi hingga Jumat pagi dan siang tadi bayinya belum
> dikeluarkan. Bahkan pihak RS baru bilang pada saya
> setelah bayinya meninggal dalam kandungan," ujar
> suami Rahmatia, Daeng Rangka, kemarin.
> 
> Tragisnya, hingga Sabtu pagi kemarin, bayi itu belum
> dikeluarkan dari kandungan Rahmatia. "Bisa saja
> ibunya ketularan meninggal kalau penanganannya
> lambat," keluh Daeng.
> 
> Daeng pun menyesalkan tindakan dokter yang dinilai
> tidak menangani persalinan ini dengan cepat. Pada
> saat ketuban Rahmatia pecah, dokter sempat bilang
> kepaad dirinya agar segera mengurus Jaring Pengaman
> Sosial (JPS) dulu agar ditangani oleh rumah sakit.
> Karena sudah malam, suaminya itu menjadi kalang
> kabut karena tidak ada kantor kelurahan yang buka.
> Walhasil, bayi dalam kandungan Rahmatia pun
> meninggal.
> 
> "Dokter tak menangani dengan baik karena saya
> miskin. Padahal saya sudah menunggunya selama 13
> tahun. Andai saya banyak uang, tidak mungkin istri
> saya begini," ucap Daeng dengan isak tangis yang
> dalam. Sehari-harinya, Daeng berprofesi sebagai
> tukang becak.
> 
> Hingga kemarin, pihak RS Labuang Baji, hingga saat
> ini belum mau memberikan komentar. Setiap dokter
> yang ditemui, enggan memberi penjelasan. Bahkan,
> sejumlah dokter muda mengunci ruang persalinan
> ketika hendak dikonfirmasi. dtc
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been
> removed]
> 
> 


Ingin belajar Islam? Mari bergabung milis Media Dakwah
Kirim email ke: [EMAIL PROTECTED]

__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke