saya berharap terdakwa Elwin Kawilarang, Bambang Sutrisna, dan Dede Nurjanah 
dihukum seberat-beratnya sesuai dengan KUHP.
togi

Listy <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
ini ada berita aneh yg lainnya..:)

-----Original Message-----
From: 
Sent: 
To: 

Subject: Korban Pemurtadan Dipaksa Baca Injil dan Dianiaya


<http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=191087&kat_id=23> 
http://www.republika.co.id/online_detail.asp?id=191087&kat_id=23

Selasa, 15 Maret 2005  19:50:00
Korban Pemurtadan Dipaksa Baca Injil dan Dianiaya
Laporan: Arie Luki Hardianti

Bandung-RoL -- Jaksa penuntut umum (JPU) menghadirkan empat orang saksi dalam 
sidang lanjutan perkara pemurtadan dengan terdakwa Elwin Kawilarang, Bambang 
Sutrisna, dan Dede Nurjanah. 

Dalam kesaksiannya, keempat saksi yang juga korban pemurtadan, mengaku dipaksa 
membaca Injil dan dianiaya oleh para terdakwa. Keterangan para saksi, antara 
lain Warso bin Karyono, Uminah (istri Warso), Mutmainah, dan Siti Dariah, 
disampaikan dalam sidang yang dipimpin hakim ketua Hari Budi, SH, di Pengadilan 
Negeri (PN) Bandung, Selasa (15/3). Menurut penuturan Warso, salah seorang 
saksi, dirinya dipaksa menuruti kemauan Elwin dan Bambang.

''Saya dipaksa membaca Injil dan harus mengeluarkan air mata bertobat terhadap 
Tuhan Yesus. Kalau tidak bisa, saya diancam, mata saya mau dicongkel pakai 
pisau lipat,'' tutur Warso dalam kesaksiannya. Selain dipaksa membaca Injil, 
kata Warso, dirinya juga dipukul oleh Bambang dan Elwin di bagian wajah, 
kepala, dan punggung. Sementara saksi Mutmainah, adik ipar Warso, mendapat 
perlakuan yang paling sadis. ''Saya dianggap kuntilanak,'' cetusnya.

Karena itu, kata Mutmainah, kepalanya ditusuk-tusuk dengan pisau dan dipantek 
paku sampai berdarah. Para terdakwa, imbuh dia, juga memintanya segera 
bertobat. Tak hanya itu, imbuh dia, pada suatu malam, tubuhnya dipukul dengan 
batang sapu lidi hingga luka. ''Badan saya kemudian dipukul dengan kursi dan di 
seluruh tubuhnya dilumuri garam oleh Bambang,'' paparnya.

Pada hari Ahad, sambung Mutmainah, ia dipaksa ke gereja dan ikut perkumpulan 
(kebaktian-red). Setelah selesai mengikuti kebaktian, ia pulang ke rumah. 
''Tapi sampai di rumah saya dipukul lagi karena tidak memberi uang sumbangan di 
gereja,'' tutur gadis berusia 18 tahun ini.

Sedangkan terdakwa Elwin dan Bambang, lebih banyak terdiam dan mengakui 
perbuatannya, saat hakim menanyakan keterangan saksi. Sementaar itu, terdakwa 
Dede Nurjanah, tertunduk lesu dan sesekali menangis di ruang sidang. Ia sempat 
menyangkal bahwa dirinya dikatakan memukul korban sampai tiga kali. Bantahan 
terdakwa itu langsung diprotes Mutmainah.

Dalam perkara ini, jaksa menjerat tiga terdakwa dengan pasal 170 ayat 2 ke-1 
KUHP, jo pasal 64 ayat 1 KUHP dan pasal 289 KUHP jo pasal 55 ayat 10 ke-1 KUHP. 
Dengan pasal tersebut, para terdakwa terancam hukuman penjara maksimal tujuh 
tahun.

Di luar ruang sidang, puluhan massa dari Barisan Anti Pemurtadan (BAP) Forum 
Ulama Ummat Indonesia (FUUI) dan Tim Anti Pemurtadan (TAP) MUI Kota Bandung, 
melakukan aksi solidaritas untuk Warso dan keluarga. ''Harusnya terdakwa juga 
dijerat pasal 333 tentang Kebebasan Beribadah. Tapi sekarang berita acara 
pemeriksaan belum dimasukkan juga,'' tutur Ketua BAP, Muhammad Mu'min.

Dalam orasinya, aktivis BAP itu menuntut agar hakim bertindak adil dalam 
menangani perkara ini. Menurut mereka, persidangan tersebut akan terus 
dipantau. ''Kami akan terus memantau persidangan ini. Kami hadir di tempat ini 
tidak dibayar,'' tutur salah seorang aktivis. 
C 2005 Hak Cipta oleh Republika Online







-----Original Message-----
From: patrick_pasassung [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: 19 Juli 2005 8:54
To: [email protected]
Subject: [ppiindia] Re: FYI : Berita aneh dari Sabili


Saya juga tidak bisa percaya kalau kejahatan dengan menggunakan model-
model ilmu hitam itu dilakukan dengan menggunakan label Kristen. 
Kalau benar itu terjadi, baiknya pelakunya ditangkap dilaporkan saja 
dan diproses biar tidak mencoreng nama Kristen. Kristen/Katolik itu 
tidak pernah mengajak pemeluk agama lain untuk masuk Kristen/Katolik, 
apalagi dengan cara-cara pemaksaan, kalaupun ada yang pindah agama 
karena melihat perilaku yang baik/terpuji dari seorang 
Kristen/Katolik itu persoalan lain dan sekali lagi bukan dengan 
paksaan, kalau ada yang maksa itu perlu dipertanyakan ke-Kristenan-
nya.
--- In [email protected], "Samudjo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Betul sekali,
> Kalaupun terjadi itu adalah kejahatan yang mengatasnamakan Kristen
> Demikian juga kasus perempuan muda yang diketemukan mati didalam 
mobilnya di
> Bandung, pelakunya ternyata pemuda yang menghamili gadis itu tapi 
tidak mau
> bertanggung jawab untuk mengawininya.
> Kebetulan sang gadis Islam, kebetulan pemuda itu Kristen.
> Gambar berwarna merah jambu, kalau diamati dari dekat berlatar 
belakang
> putih dan beberapa noktah merah kelam.
> Semuanya hanya ilusi dan presepsi khas kuasa kegelapan,
> Samudjo
> ----- Original Message -----
> From: "Jimmy Okberto" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>; <[EMAIL PROTECTED]>
> Sent: Monday, July 18, 2005 8:45 AM
> Subject: [ppiindia] FYI : Berita aneh dari Sabili
> 
> 
> >
> > Jangan bikin gossip, tidak ada ajaran Kristen untuk mendoktrin 
orang
> > untuk memaksa menerima ajaran Kristen, perlu ketelitian lebih 
lanjut
> > mengenai hal ini.
> > Berita dibawah ini bukan gambaran ajaran Kristen.
> > Kristen tidak berhubungan dengan hipnotis, kesurupan dll yang aneh
> > disebutkan disini , karena merupakan kuasa kegelapan.
> >
> > There's all bull shit. HOAX.
> >
> > -----Original Message-----
> > From: Ambon [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> > [ppiindia] Gawat Kristenisasi Incar Akhwat
> > Refleksi: Hebat juga kristenisasinya a la Sabili
> > http://www.sabili.co.id/telut-e26thXII05.htm
> >
> > Gawat Kristenisasi Incar Akhwat
> > Dengan mengenakan busana Muslimah, kaum pemurtad yang diduga kuat
> > sebagai aktivis Salibis mendatangi masjid-masjid dan tempat kumpul
> > aktivis dakwah yang banyak dikunjungi Muslimah. Mereka mengincar 
akhwat
> > untuk dimurtadkan.
> >
> > Jumat (24/6/2005), tengah hari. Jarum jam menunjukkan angka 10.30 
WIB.
> > Di luar, Sang surya memancarkan cahayanya, menjalankan perintah 
Sang
> > Khalik: menyinari bumi, ciptaan Allah Yang Maha Agung. Manusia pun
> > terlihat lalu-lalang, mengejar rezeki dunia. Padahal waktu shalat 
Jumat
> > segera tiba.
> >
> > Tiba-tiba suara telepon redaksi SABILI, berdering. Setelah 
mengangkat
> > gagang telepon, terdengar suara perempuan menjerit dan ketakutan.
> > "Tolong saya pak. Saat ini saya berada di luar Jakarta. Mereka 
menculik
> > saya dengan mobil," telepon Endah (nama samaran), singkat, dengan 
rasa
> > takut, kepada salah seorang kru SABILI.
> >
> > Endah adalah seorang akhwat, aktivis dakwah. Bersama teman-teman
> > sebayanya, selama ini gadis berusia 23 tahun itu aktif mengikuti 
program
> > tahfidzul Qur'an di Pesantren Yapith, Pondok Gede, Bekasi. Selain 
itu,
> > ia juga rutin mengikuti kajian pekanan (liqo') gerakan Tarbiyah.
> >
> > Nasib Endah sungguh ironis. Gadis yang awalnya sangat periang ini 
sedang
> > diincar gerakan kristenisasi. Endah sedang menjadi target operasi 
(TO)
> > gerakan pemurtadan yang terselubung. Dengan cara-cara tak terpuji,
> > mereka berusaha keras memurtadkan aktivis masjid ini.
> >
> > "Penculikan" Endah ini sudah yang kesekian kalinya. Hal itu 
dibenarkan
> > Yan, kakak Endah. Menurut Yan, tahun 2003 lalu, Endah pernah 
mengalami
> > nasib serupa. Mereka pernah membawa Endah ke sebuah rumah yang 
berada di
> > daerah Tanggerang. Di sana, mereka berusaha mencuci otak Endah 
dengan
> > memberikan doktrin-doktrin Kristen.
> >
> > Namun usaha mereka ternyata tak terlalu berhasil. Mantan siswi 
Ma'had
> > Al- Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan ini akhirnya berhasil 
meloloskan
> > diri dari sekapan mereka. Dengan alasan mau kuliah ke Ma'had Al-
Hikmah,
> > Endah pun bisa kembali lagi ke rumah. Setelah berhasil lolos, 
kondisi
> > Endah ternyata agak berubah. Ia sering merasa sakit kepala dan 
kerap tak
> > sadarkan diri. Dalam keadaan tak sadar itu pula ia sering
> > menyebut-nyebut Yesus, sementara lidahnya terasa berat untuk 
membaca
> > Qur'an.
> >
> > Untuk mengatasinya, Endah akhirnya melakukan terapi ruqyah 
(dibacakan
> > ayat-ayat Qur'an dan doa, sebagaimana dicontohkan Nabi saat 
mengusir jin
> > dari dalam tubuh manusia). Setelah tim ruqyah berhasil 
mengeluarkan
> > pengaruh sihir dan jin dari tubuh Endah, kondisi akhwat yang 
sering
> > mengajar ngaji anak-anak ini lebih mendingan dan bisa kembali
> > beraktivitas seperti sediakala. "Beberapa bulan lalu kondisinya 
sudah
> > bagus, tapi belakangan ini kambuh lagi," kata Budi.
> >
> > Kasus Endah bermula dari sebuah acara di Masjid Istiqlal, 
beberapa tahun
> > lalu. Waktu itu, Endah didekati seorang perempuan berjilbab, 
seperti
> > pakaian seorang akhwat (pakaian jubah dengan jilbab panjang). 
Entah
> > mengapa setelah berkenalan, tiba-tiba Endah terhanyut dan mau saja
> > mendengar omongan perempuan itu. Apalagi dalam obrolan itu, ia 
sering
> > kali menyinggung tentang gerakan Islam, mulai dari Tarbiyah, 
Salafi,
> > Jamaah Tabligh hingga Hizbut Tahrir.
> >
> > Pertemuan Endah dengan perempuan berjilbab itu ternyata berlanjut 
sampai
> > Endah kuliah di Ma'had Al Hikmah, Bangka, Jakarta Selatan. 
Perempuan ini
> > acap kali menyatroni Endah ke Ma'had tersebut. Seperti juga
> > pertemuan-pertemuan sebelumnya, seperti dihipnotis, Endah tak 
kuasa
> > menolak ajakan perempuan berjilbab itu untuk berjalan-jalan. 
Mereka juga
> > sering kumpul dengan beberapa orang, bak sebuah halaqah, mengkaji 
Islam.
> >
> >
> > Mulanya, materi-materi yang disampaikan dalam "halaqah" itu, 
tidak ada
> > yang bermasalah. Namun lama-kelamaan dirasakan materinya agak
> > menyimpang. Tidak lagi berpandangan positif terhadap Islam, malah
> > menjelek-jelekkan harakah (gerakan) satu dengan harakah lainnya. 
Bahkan
> > sering kali memfitnah Allah, Islam dan Rasul-Nya.
> >
> > Kasus ini pun mencapai klimaksnya saat mereka "menculik" dan 
menyekap
> > Endah di sebuah rumah di luar Jakarta. Semalaman, seorang 
perempuan yang
> > mengenakan jilbab dan mengenakan kalung salib mendoktrin Endah 
dengan
> > doktrin-doktrin Kristen. Sejak itu, Endah, yang awalnya gadis 
periang
> > ini, kini selalu dibayangi rasa takut mendalam karena menjadi 
incaran
> > gerakan kristenisasi.
> >
> > Di Bekasi, beberapa waktu lalu juga terjadi kasus serupa. Linda, 
seorang
> > akhwat berteman akrab dengan seorang perempuan Kristen yang 
menyebut
> > dirinya dengan "umi". Saat akhwat ini lengah, perempuan itu 
mengambil
> > dompetnya. Dompet akhwat ini kemudian diberikan kepada suami si
> > perempuan itu yang juga menyebut dirinya dengan "abi". "Abi" ini
> > kemudian memanggil akhwat tersebut. Namun setelah pertemuan dengan
> > "abi", akhwat ini jadi tidak karu-karuan. Kepalanya sering terasa 
sakit.
> > Saat diperintah suaminya, akhwat ini jadi tak menurut. Ia juga 
tak lagi
> > senang membaca al-Qur'an. Selain sering menyebut-nyebut 
nama "umi" dan
> > "abi", akhwat ini juga sering kebayang-bayang Yesus, Tuhan 
Kristiani.
> >
> > Kondisi akhwat itu saat ini sudah pulih kembali. Namun perjuangan
> > memulihkannya cukup berat. Untuk menghilangkan pengaruh jin di 
tubuh
> > akhwat itu, memakan waktu sekitar tujuh bulan. Selama itu pula 
keluarga
> > Adi Ambargono ini mendapat tekanan batin karena sering mendapat 
komentar
> > tidak sedap dari masyarakat sekitar.
> >
> > Kasus pemurtadan para akhwat ternyata tak hanya terjadi di 
Jakarta dan
> > Bekasi, tapi juga terjadi di luar Jakarta. Beberapa waktu lalu, 
kasus
> > yang mirip terjadi di Medan, Sumatera Utara (Sumut). Seorang 
akhwat,
> > keponakan aktivis gerakan Tarbiyah Medan diculik kelompok Kristen 
sampai
> > dua kali.
> >
> > Awalnya, seorang perempuan berjilbab mendekati seorang akhwat. 
Merasa
> > targetnya sudah percaya, kemudian ia mengajak akhwat ini minta 
izin
> > tidak masuk sekolah untuk makan-makan dan jalan-jalan. Hal ini 
terus
> > berlangsung selama kurang lebih tiga bulan. Bak disambar geledek 
di
> > siang bolong. Ayahnya kaget setelah mendapat kabar bahwa anaknya 
sudah
> > tiga bulan tidak masuk sekolah dengan alasan izin ke rumah sakit.
> > Padahal setiap hari ia merasa tidak ada masalah karena anaknya 
selalu
> > berpamitan untuk berangkat sekolah.
> >
> > Puncaknya, Akhwat ini diculik dan dibawa kabur ke Jambi. Selama 
dalam
> > perjalanan, mereka memasukkan dan membaptis aktivis Islam ini di 
gereja.
> > Bahkan, karena berontak, mereka pernah memukul kepala akhwat ini 
sampai
> > pingsan. Beruntung ia bisa kabur. Namun setelah berhasil pulang,
> > kondisinya sudah tak normal. Akhwat ini sering merasa sakit 
kepala dan
> > kerap tak mampu mengendalikan diri. Akhirnya, setelah diruqyah,
> > kondisinya mulai pulih kembali.
> > Tapi kaburnya "buruan" tidak membuat para pemurtad itu patah 
semangat.
> > Beberapa waktu kemudian, saat seisi rumah tengah tertidur lelap, 
mereka
> > menaiki loteng dan menculik kembali akhwat tersebut. Orang tua 
akhwat
> > ini baru tersadar setelah menerima SMS dari penculik yang 
bunyinya:
> > "Selamat mengambil anakmu yang ada di neraka."
> >
> > Langkah cepat segera dijalankan Ustadz Nuh, mantan Ketua PKS 
Sumut yang
> > kini menjadi anggota DPRD provinsi tersebut. Ia langsung mengontak
> > seluruh kader PKS Sumut. Tak beberapa lama, ada kabar akhwat itu 
berada
> > di Polres Siantar, setelah sebe lumnya ditemukan di sebuah pohon 
dalam
> > kondisi terikat. Kini, di Sumut, kasus pemurtadan akhwat tersebut
> > menjadi persoalan serius. Meski kasus kristenisasi ini sudah 
masuk ke
> > kepolisian, namun sejumlah ormas Islam, seperti DDII, IKADI, PKS 
dan
> > organisasi Islam lainnya terus mendesak agar Kapolda Sumut segera 
serius
> > mengusut tuntas kasus ini.
> >
> > Di Bandung, Jawa Barat upaya-upaya pemurtadan para akhwat, aktivis
> > dakwah, juga marak. SABILI mendapat cerita langsung dari Siti 
Nurjanah,
> > SS, seorang murrobi (guru) dan aktivis Tarbiyah. Menurutnya, untuk
> > mengincar mangsanya, khususnya para akhwat di Bandung, para 
misionaris
> > dan kaum pemurtad sering mengenakan simbol-simbol Islam, seperti 
jilbab
> > panjang dan jubah.
> >
> > Sasaran mereka adalah akhwat yang baru mengikuti kegiatan 
Tarbiyah.
> > Karena pemahaman para akhwat ini, baru sebatas belajar dan belum 
utuh
> > benar pemahaman keislamannya, sehingga besar kemungkinan masih 
bisa
> > mereka pengaruhi. Untuk memangsa sasaran, biasanya mereka 
mendatangi
> > tempat-tempat yang menjadi ajang berkumpulnya orang Islam di 
Bandung,
> > seperti Masjid Salman, Masjid Istiqomah, juga Pusat Dakwah Islam
> > (Pusdai) Jawa Barat. Setelah menyusup ke tempat ramai tersebut, 
mereka
> > mendekati para akhwat dan berusaha memengaruhi akidah mereka.
> >
> > Sebut misalnya, cerita yang terjadi di Pusdai (Bandung) beberapa 
waktu
> > lalu. Saat itu ditemukan seorang perempuan yang mengenakan busana 
mirip
> > akhwat pada umumnya: berjilbab panjang dan memakai jubah. Secara 
tak
> > sengaja, saat di toilet seorang akhwat melihat perempuan 
berjilbab itu
> > memakai kalung Salib. Bahkan saat diperiksa, di dalam tas 
perempuan
> > tersebut ditemukan Alkitab.
> >
> > Kecurigaan itu makin terasa saat para akhwat melaksanakan ibadah 
shalat.
> > Di saat semua orang melakukan rukun Islam kedua itu, perempuan 
berjilbab
> > tadi tidak melakukannya. "Saya mendapat informasi ini dari aktivis
> > dakwah kampus yang mengikuti kegiatan Tarbiyah," tegas Siti 
Nurjanah.
> > Masih di sekitar Bandung, kasus pemurtadan kali ini terjadi di
> > Universitas Winayamukti (Unwim) Jatinangor, Jabar. Korbannya, 
lagi-lagi
> > akhwat, mahasiswi Universitas Padjajaran (Unpad). Beberapa waktu 
lalu,
> > ia didekati seorang pria yang mengaku diri sebagai perwira 
polisi. Sejak
> > pertama kali berkenalan, pria ini terus saja menempel akhwat itu.
> >
> > Namun belakangan diketahui pria yang mengaku dari kesatuan polisi 
itu
> > adalah seorang Nasrani. Merasa sudah saatnya, ia pun mengajak 
akhwat ini
> > menikah dan pindah agama. Setelah menikah, akhwat ini tak pernah
> > mengikuti kegiatan Tarbiyah lagi. Tim Forum Antisipasi 
Kristenisasi dan
> > Pendangkalan Akidah (FITRAH) juga menceritakan kasus pemurtadan 
yang
> > nyaris menimpa seorang akhwat, mahasiswi UPI Bandung. Kasusnya 
terjadi
> > pada akhir tahun 2004 lalu. Mulanya, seorang akhwat diminta 
memberikan
> > les privat bahasa kepada orang asing beragama Nasrani.
> >
> > Lama-kelamaan keluarga itu melakukan pendekatan personal. Mereka
> > melakukan pendekatan persuasif, seperti mengajak jalan-jalan 
bareng.
> > Saat akhwat ini mengalami masalah ekonomi, mereka membantunya. 
Namun
> > ujung-ujungnya, mereka meminta akhwat ini pindah agama. Untuk
> > menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya ia pergi dari
> > keluarga Nasrani itu.
> >
> > Kasus pemurtadan akhwat di Sumatera Barat tak kalah hebohnya. 
Kasus ini
> > terjadi di kampus Politani Universitas Andalas, Payakumbuh 
beberapa
> > waktu lalu. Sedikitnya 23 akhwat, mahasiswi Politani, kesurupan 
dan
> > menyebut-nyebut nama Bunda Maria, Yesus dan Salib. September 2003 
lalu
> > kasus serupa juga menghantam Madrasah Aliyah Negeri (MAN) II 
Payakumbuh.
> > Sebanyak sebelas siswi kesurupan dan menunjukkan perilaku aneh,
> > menyebut-nyebut nama Yesus, Bunda Maria, Salib dan menyatakan suka
> > dengan Injil.
> >
> > Kasus demi kasus pemurtadan yang mengincar akhwat terus menguak ke
> > permukaan. Ibarat fenomena gunung es, yang nampak dan muncul 
hanyalah
> > sebagian kecil saja. Sementara yang belum muncul ke permukaan,
> > disinyalir masih banyak. Karenanya, sudah seharusnya aparat 
kepolisian
> > serius menindaklanjuti laporan yang masuk, seperti terjadi di 
Sumatera
> > Utara.
> >
> > Sambil menunggu tindakan aparat, yang penting dilakukan Muslim dan
> > Muslimah, khususnya para dai dan daiyah, adalah agar memberikan 
tarbiyah
> > (pendidikan Islam) secara utuh, sehingga mereka yang kerap jadi 
sasaran,
> > terhindar dari jerat-jerat pemurtadan yang sedang mengincar. Tak 
kalah
> > pentingnya adalah, selalu waspada. Beragam info di atas, jadikan
> > pelajaran dan pengalaman, agar terhindar dari upaya-upaya busuk 
mereka.
> > Jika tidak, gawat!
> >
> > Rivai Hutapea
> >
> >
> >
> >
> >
> 





[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




SPONSORED LINKS 
Indonesian languages Indonesian language learn Cultural diversity Indonesian 

---------------------------------
YAHOO! GROUPS LINKS 


    Visit your group "ppiindia" on the web.
  
    To unsubscribe from this group, send an email to:
 [EMAIL PROTECTED]
  
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service. 


---------------------------------



                
---------------------------------
 Start your day with Yahoo! - make it your home page 

[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke