Clear DayPenghapusan (lagi) Subsidi Minyak

Farid Gaban | Pena Indonesia

(Note: Artikel ini boleh dimuat di mana saja, online atau offline,
secara cuma-cuma]

Melalui Menteri Negara Pembangunan dan Kepala Bappenas Sri Mulyani,
pemerintah mengatakan sedang menimbang penghapusan lagi subsidi bahan
bakar minyak. Salah satu argumennya adalah naiknya harga minyak di
pasaran internasional, yang membuat nilai subsidi membengkak.

Sekilas nampak logis menghapus subsidi dengan dalih naiknya harga
minyak di pasaran internasional. Padahal, ini argumen absurd.

Bahan bakar adalah komoditas strategis. Bahan bakar merupakan komponen
hampir setiap barang yang kita konsumsi dan setiap jasa yang kita
nikmati. Layanan pendidikan atau kesehatan dasar, misalnya, mengandung
unsur guru atau dokter, yang membutuhkan makan dan transportasi untuk
berangkat kerja. Makanan harus dimasak. Pabrik mie instan pun perlu
bahan bakar untuk memprosesnya, bahkan ubi pun harus dimasak.

Mendasarkan penghapusan subsidi kepada harga minyak di pasaran
internasional sama saja dengan menyandarkan pola konsumsi kita pada
standar internasional. Pemerintah memaksa rakyat Indonesia, yang
rata-rata miskin, menjangkau harga produk dan jasa yang setara dengan
orang di Amerika atau Eropa. Dan jelas mereka takkan mampu.

Penghapusan subsidi memangkas daya beli rakyat terhadap produk dan
jasa. Makin tinggi harga minyak pasaran internasional, dan makin
sedikit subsidi, makin rendah daya beli masyarakat. Makin sulit mereka
memperoleh produk dan layanan, bahkan yang kualitasnya sangat rendah
pun, jauh lebih rendah dari standar internasional. Dan coba bayangkan
jika harga minyak di pasaran internasional mencapai US$ 100 per barel
seperti diramalkan oleh sejumlah pakar. Haruskah rakyat miskin
Indonesia membeli semua produk dan jasa yang terikat pada minyak tanpa
subsidi?

Subsidi adalah keharusan. Dan salah satu tugas pemerintah yang hakiki
memang memberi kemudahan kepada rakyatnya, yang salah satunya
mengambil bentuk pemberian subsidi.

Dalam kebijakan publik kita mengenal ada dua bentuk subsidi: subsidi
langsung dan subsidi tidak langsung. Subsidi bahan bakar minyak selama
ini adalah subsidi tidak langsung, pemerintah tidak membagi-bagikan
minyak secara langsung kepada rakyat, tapi menopang harga minyak agar
tetap murah. Dan dengan harga minyak yang relatif murah, rakyat bisa
mendapatkan produk dan layanan yang murah pula.

Subsidi tak langsung seperti itu memang ada kelemahannya, karena bisa
secara tidak proporsional dinikmati orang kaya, pemilik mobil pribadi,
pemakai barang-bawang mewah yang boros energi. Ini memang tidak adil.

Pemerintah selama ini mencoba membuat koreksi terhadap kemungkinan
ketidakadilan tadi, yakni dengan menyisihkan dana kompensasi. Dana
ini, dalam teori, diberikan secara langsung: beras, beasiswa, dan obat
untuk orang miskin. Tapi, kompensasi seperti itu tidak mungkin
efektif, seperti sudah dikeluhkan selama ini.

Dana kompensasi pada dasarnya merupakan bentuk subsidi langsung, yakni
langsung kepada orang miskin. Ini membutuhkan data yang akurat tentang
siapa orang miskin dan bagaimana subsidi itu bisa disalurkan kepada
mereka secara "door to door". Distribusi dari pintu ke pintu adalah
esensi subsidi langsung.

Ada 100 juta lebih orang miskin di Indonesia dengan standar pendapatan
di bawah US$ 2 per hari. Ada problem untuk mendistribusikan kompensasi
kepada seratus juta orang tadi. Pekerjaan raksasa yang muskil, belum
lagi memperhitungkan kebocoran dan korupsi di sepanjang jalur distribusi.

Namun, ada problem yang lebih serius. Pemerintah sendiri, seperti
diakui Kepala Bappenas Sri Mulyani, tak punya data akurat tentang
orang miskin di Indonesia. Sandard yang dipakai Biro Pusat Statistik,
berbeda dengan standar badan pemerintah lain, seperti BKKBN, misalnya.
Pemerintah sendiri bingung mana data yang mau dipakai.

Lebih dari itu, data perkiraan orang miskin didapat lewat metode
random sampling, bukan lewat sensus dari pintu ke pintu. Pemerintah
tak punya alamat orang miskin yang mau diberi kompensasi.

Subsidi tidak langsung, seperti subsidi bahan bakar yang diterapkan
pemerintah di masa lalu, sudah benar dan tak terhindarkan. Memang
harus ada mekanisme koreksi agar subsidi tidak dilahap sebagian besar
oleh orang kaya. Ada banyak mekanisme koreksi sebenarnya. Salah
satunya dengan pajak progresif untuk barang mewah.

Penghapusan subsidi minyak bukanlah keputusan bijaksana, bahkan jika
harga minyak di pasar internasional mencapai US$ 100 per barel, karena
dampaknya sangat luas dan mendalam bagi rakyat miskin. Mekanisme
penerapan pajak progresif lebih bijaksana, karena dampaknya cenderung
hanya dirasakan orang kaya.

Dengan cara ini, pemerintah juga tak perlu berteriak-teriak menghimbau
agar rakyat menghemat energi. Dengan penerapan pajak progresif, orang
kaya yang selama ini melahap konsumsi energi lebih banyak, akan
berpikir sendiri untuk berhemat. Dan jika mereka merasa terlalu kaya
untuk tidak berhemat, pemerintah akan memperoleh pendapatan lebih
besar dari pajak.*

Best Regards

Jopi Peranginangin



[Non-text portions of this message have been removed]



***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Lihat arsip sebelumnya, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke