Mbak trulysoul,

1. teman teman di milis wm, lagi rame ngebicarain masalah pelarangan jilbab
di luar negeri --> eropa, dan diskusi lebih mendalam lagi tentang motivasi
pembuatan peraturan dan konteks sosial masyarakat muslim afrika di eropa.
menunggu komentar anda ?

2. diskusi dimilis wanita-muslimah itu menurut saya cukup asik dan cukup
banyak sharing berbagai pandangan, sehingga kita gak cuman bisa ngomong ini
biadab, itubiadab tanpa berusaha mendalami masalahnya lebih jauh.  Btw, baca
diskusinya mulai dari bawah yak ..  kalau mau yang lengkap sih ya monggo
ikutan di milis wanita-muslimah he he he .........


salam,
Ari Condro

----- Original Message -----
From: "Herni Sri Nurbayanti" <[EMAIL PROTECTED]>

Makasih, mas ayeye :-) Saya lebih menerima penjelasan di bawah ini,
hehehe. Saat ini orang memang mulai mempertanyakan multikulturalisme
di eropa. Belanda sendiri mengklaim dirinya multikultural tapi toh
perbedaan perlakuan antar etnis, ras, dll masih ada.

Memang kita tidak bisa menggeneralisasi, bahwa perbedaan itu muncul
tidak saja antar kelompok tapi juga dalam suatu kelompok ttt. Karena
awal masalahnya diskusi ini soal perempuan berjilbab di negara eropa,
kita tidak bisa melihatnya dari sudut gender saja. Karena gender pada
kenyataannya berinteraksi juga dng relasi kekuasaan yg lain sehingga
ras, suku, agama, kelas/status sosial, dll juga ada didalamnya. Sama
halnya dng komunitas muslim yg berbeda-beda, komunitas 'masyarakat
eropa' pun berbeda2 mungkin menurut rasnya, kelas/status sosialnya,
dll. Ini yg menambah rumit permasalahan sehingga tidak bisa main
analisa pukul rata :-)

'Trend' skrg kan munculnya aliansi antar berbagai macam gerakan sosial
dan umumnya selalu dipaketkan dng gerakan perjuangan HAM :-)

wassalam,
herni


--- In [email protected], "ayeye1" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

Saya pengen ikut nimbrung sedikit, Mbak Herni :-)

Dalam masrakyat Eropa tentu ada masalah dengan HAM seperti rasisme dan
terjadi tindakan kriminal dan kejahatan. Sebagian masrakyat memandang
para imigran seperti penalu yang menghabiskan uang negara dan
pandangan itu sering bersifat memukul-rata tanpa melihat situasi
masing-masing anggota masrakyat, kecuali penampilan fisik luar. Kalau
saya pribadi mengassumsikan bahwa mayoritas dari mereka yang melihat
semua imigran dengan kaca mata negatif berdasarkan sterotype itu
cenderung bukan termasuk kontributor pajak yang besar. Kemudian emosi
tersebut juga suka dieksploitasi oleh individu politikus serta partei
politik tertentu.

Seharusnya kita bisa berharap bahwa di masrakyat Eropa, rasisme justru
sudah boleh dikatakan menghilang, karena bentuk masrakyat pada
umumnya, bahkan sampai ke sebagian kampung-kampung, sudah bersifat
heterogen (campuran). Sedangkan sifat heterogenitas seharusnya
menyebabkan agar para anggota Eropa sudah saling lebih mengenal dan
lebih hidup bersama (bukan hanya berdampingan) serta lebih toleran -
seharusnya, tetapi belum menjadi kenyataan secara keseluruhan-.

Tetapi saya juga bisa melihat sisi lain dengan lebih menjadi optimis,
yaitu sebagian rasisme akan bersifat temporer dan kemudian hilang
setelah proses asimilasi dan integrasi antara pendatang dan penduduk
selsesai. Contohnya, tahun awal 80an banyak warga dari Sri Lanka
datang ke Eropa dan diberikan izin tinggal sementara karena keadaan
politis di Sri Lanka pada waktu itu. Semulainya banyak masrakyat
setempat memprotes keberadaan para pendatang dari Sri Lanka, hingga
kata "Tamil" digunakan sebagai kata jelek dan banyak lelucon pula yang
lahir di saat itu dengan tujuan melecehkan para pendatang dari Sri
Lanka. Ternyata para pendatang baru bukan termasuk orang yang malas
atau penalu (seperti sering digambarkan pada waktu itu), tetapi mereka
mulai bekerja dan berasimilasi dengan baik, meskipun dengan tetap
memelihara kebudayaan mereka. Suatu saat waktu pemerintah di salah
satu negara Eropa ingin mengusir sebagian penduduk asal Sri Lanka
karena masalah perizinan, malahan masrakyat lain turun ke jalan sambil
memprotes, terutma dari kalangan pengusaha. Akhirnya pemerintah harus
mengalah dan membatalkan pengusiran. Sekarang boleh dikatakan tidak
ada pendapat negatip lagi yang moncol tentang masrakyat Eropa yang
dulu datang dari Sri Lanka.

Harapan saya dengan nanti mudah-mudahan bergabungnya Turki dengan Uni
Eropa, masrakyat Eropa akan menjadi lebih akomodatif terhadap sesama
warga yang beragama Islam dan itu kemudian akan memberi signal yang
kuat terhadap ekstrimisme dan fasime, baik yang bertumbuh atas rasisme
dan/atau ideologi agama.

Salam,
ayeye

===

Terimakasih mbak Ni. Membaca uraiannya mbak seolah-olah saya jadi
merasa di Eropa - di ghetto-ghetto itu. Inilah yang dari dulu saya
tunggu-tunggu, bagaimana kita bercerita tentang keadaan sosial-
psikologis disekeliling kita dan menginformasikannya kepada temen-
temen di belahan bumi lain.

Pantesan selama ini kesannya Pak Dana sama orang Arab gimana
gitu...sampe dulu kan pernah mau diruwat sama temen-temen disini
hahaha...Udah saya pancing-pancing, karena pingin tahu bagaimana
demography sosial Muslim disana, tapi Pak Dana suka hemat
cerita..hehehe...

Sejujurnya baru setahun dua tahun belakangan ini saya mulai 'ngeh'
dengan kondisi masyarakat Muslim di Eropa.  Apalagi selama ini
pandangan saya dibayangi dengan imigran Muslim di Amerika yang
secara pukul rata lebih sukses, bahkan kadang diperhitungkan secara
politis (termasuk Black Muslim).

Kok saya jadi membandingkan ghetto Muslim Eropa dengan ghetto Black
people di Amerika? Eksesnya, yang satu diasosiasikan dengan rasial
agama, yang satu lagi dengan rasial kulit. Dan jadi
mengasosiasikannya dengan Yahudi Eropa jaman dulu.

Tentu saja setiap negara-bangsa punya persoalan lokalitas masing-
masing.  Karena itu hipotesa saya yang berikut patut dipertanyakan
apakah relevan dan valid: "Dengan latar belakang sosio-demografi
masing-masing, patut dipertanyakan apakah garis besar kebijakan
negara Eropa efektif dalam mengelola imigran, dengan tolak ukur
Amerika yang relatif lebih sukses?" Ini adalah pertanyaan hipotetis
yang meminta jawaban yang komprehensif.

Pak Dana memang mensimplifikasikan permasalahan dengan langsung saja
membenturkan soal sekuler, hukum negara sekular yang berlaku dengan
dinamika masyarakat terkini di ERopa.  Karena blio bilang: patuhilah
hukum tanpa kompromi.  Iyalah, aku pikir nggak ada yang membantah
ini. Tapi kan kita lagi ngomongin kebijakan publik seperti jilbab.
Apa salahnya kalau ada gerakan inisiatif Pemerintah dan
NGO 'mempromosikan' jilbab sebagai wilayah pribadi. Biarkan
perempuan-perempuan itu memutuskan untuk dirinya sendiri setelah
mendapat pencerahan, ketimbang diatur sana-sini oleh komunitasnya
sendiri, eh...malah oleh negara pula. Kita mengakui simbolisme salah
kaprah dari jilbab itu, namun kita harus mengambil resiko susah
payah untuk meruntuhkan simbolisme itu dengan kebijakan yang
persuasif dan rasional.  Kurang dari pada ini, adalah sama saja
dengan memerangi simbolisme itu dengan kebijakan emosional
yang 'stupid'. Dan akibatnya menjurus ke arah EGP, diskriminasi
bahkan clash of civilisation.

Kemudian Pak Ary mengangkat soal EGP (ketidakpedulian) setiap kita
dalam soal kemiskinan orang lain,  Iyah emang.  We are the best
people, we are not guilty (or maybe feeling guilty if we are
Germans), but we don't want to spend our money, we dont wanna have
dirty hands, we dont wanna share our gentility (if we are British
and Parisian) and we don't want to take risks!

That's EGP all about. Dan jelas EGP itu nggak rasional, karena
kemiskinan orang lain adalah persoalan kita semua. Ketika kita lahir
ke dunia, kita nangis karena udah ngeliat resiko ke depan. Hadis
yang bilang bahwa berkah Allah nggak datang pada kita selama
tetangga kita itu nggak makan, kan maksudnya ini, bukannya literal
ngasih makan tetangga kita itu setiap hari.

Persoalan kemiskinan yang makin jadi struktural dan sikap EGP
menguatirkan. Jadi mengarah ke clash civilisation terhadap Islam.
DAlam hal ini jadi mengental stigma terhadap ajaran Islam itu
sendiri, justru yang diyakini oleh Muslim.  Walah, pantesan Jusfiq
jadi koyo ngono.  Kelamaan di Eropa dia. Lihatlah dampak dari stigma-
stigma itu. Yang moderat jadi merasa termarjinalkan, yang miskin
jadi marah, yang fundamentalis ngebom, orang lain jadi melihat Islam
tambah mengenaskan.

Saya nggak bicara soal bagaimana ajaran Islam itu, yang masih
diyakini secara harafiah dan fiqh oriented, yaitu fiqh dari 1400
tahun lalu.  Saya bukan bicara soal ini.  Tapi saya bicara soal
stigma pada suatu keyakinan yang dipercayai jutaan orang.

Mempercayai dan mengikuti suatu stigma adalah suatu bentuk EGP dan
nggak rasional.  Karena stigma memarjinalkan orang lain dari
lingkaran persoalan kita sendiri dan mereka, yang merupakan
persoalan bersama.

Saya percaya bahwa kebanyakan netter disini relatif bebas dari
stigma.  Tapi jangan lupa untuk mensharing pengetahuan kita pada
keluarga dan temen-temen lain.

Salam
Mia


===

Pak Dana,

Jerman mungkin lebih bingung lagi kalau dibandingkan
dengan negara tetangganya karena masih trauma zaman
Nazi, dan banyak orang Jerman takut untuk mengkritik
orang asing dengan terbuka - jangan2 nanti dibilang
rasis atau neonazi, yang anti-orang asing (Ausländer).
Ideologi multiculturalism (yang dipraktekkan sebagai:
makanan, musik dan tari2an orang asing itu bagus dan
dinikmati, tetapi apa yang terjadi di balik pintu
rumah tetangga orang Turki, itu bukan urusan kami,
biar si pasha itu memukul istrinya dan memaksa anak
perempuannya yang masih remaja untuk menikah dengan
sepupunya, kami tidak ingin tahu /EGP) terlalu lama
dianut tanpa kesadaran kritis terhadap realitas budaya
lain yang bukan hanya terdiri dari musik dan makanan,
tetapi sering juga dari norma-norma sosial yang
sebenarnya tidak bisa diterima lagi pada zaman
sekarang di Eropa. Tapi lama sekali sepertinya tabu
untuk mengkritik situasi dalam ghetto orang Turki.

Masalah2 itu baru diangkat menjadi topik wacana publik
setelah terjadi pembunuhan van Gogh di Belanda tahun
yang lalu. Sekarang justru banyak perempuan keturunan
Turki yang paling vocal dalam mengkritik kenaifan
orang Jerman dalam menghadapi keberadaan budaya asing,
mereka menuduh orang Jerman sengaja tidak mau tahu
kekerasan terhadap perempuan dalam banyak keluarga
Turki.
Baru sekarang beberapa buku otobiografi oleh perempuan
Turki yang menjadi korban kekerasan yang dilegitimasi
dengan "adat" dan "agama" bisa terbit. Kata mereka,
mereka sudah menulis buku ttg nasib mereka pada tahun
90an, tetapi waktu itu tak ada satu penerbit pun yang
berani untuk menerbitkannya, alasannya takut nanti
penerbit mendapat stigma sebagai penerbit rasis, dan
after all, masalah intern komunitas Turki itu tidak
interesting buat pembaca Jerman.

Nah baru sekarang masyarakat Jerman menghadapi masalah
"Parallelgesellschaft" (masyarakat paralel, artinya di
dalam negara ini terdapat "negara" lagi, a society
within a society with its own rules, invisible to and
unreachable by the state and the wider community), dan
belum jelas bagaimana sikapnya orang Jerman yang baru
sadar atas realitas itu. Yang jelas, masyarakat/negara
Jerman harus mengambil sikap yang tegas, seperti kata
Pak Dana, untuk menentukan di mana batasnya. Supaya
jelas. Soalnya, di mana batasnya untuk beragama?
Sekarang masalahnya jilbab, besok mungkin masalahnya
burqa atau niqab. Kalau jilbab boleh, kenapa burqa
tidak boleh? Dan kalau ada orang suku Indian dari
Amazonas datang, mau sekolah di Jerman, tapi tetap
telanjang seperti di rimba sana, abis itu budaya dan
agamanya, kalau yang Islam boleh pakai burqa dengan
alasan kebebasan beragama, kenapa dia tidak boleh
telanjang masuk sekolah atau universitas? nah jadi
bingung kan... memang harus ada batasnya yang jelas.
Tapi kayaknya orang Jerman belum berani menunjukkan
sikap yang jelas... masih bingung antara romantisme
multiculturalisme, ketakutan dianggap rasis dan
neonazi, dan masalah2 dalam ghetto orang Turki.

Ironisnya, perempuan aktivis keturunan Turki itulah
yang paling keras menuntut penegakan norma sekularisme
dan ideal2 zaman enlightenment (Aufklärung bhs
Jermannya, kalau Verklärung itu artinya
idealisasi...). Orang Jerman sendiri mungkin sudah
terlalu manja ya,   semua sudah taken for granted...

btw... bulan lalu saya membaca buku "Maps for Lost
Lovers", karangan Nadeem Aslam ttg kehidupan orang
Pakistan di Inggris... Kalau ada yang ingin tahu
dilema dan masalah antarbudaya dalam salah satu
komunitas imigran di Inggris, buku ini bagus. Kutipan
covernya:
"In an unnamed town Jugnu and his lover Chanda have
disappeared. Rumours abound in the close-knit
Pakistani community, and then on a snow-covered
January morning Chanda's brothers are arrested for
murder. Telling the story of the next twelve months,
Maps for Lost Lovers opens the heart of a family at
the crossroads of culture, community, nationality and
religion, and expresses their pain in a language that
is arrestingly poetic."

salam,
ni londo



--- Dana Pamilih <[EMAIL PROTECTED]> schrieb:
---------------------------------
DP:
Yang saya lihat problema ini berasal dari negara2
Barat yg mengkompromikan prinsip nation-state mereka.
Suatu prinsip yg susah payah ditegakkan di jaman
Enlightenment (Verklarung bhs Jermannya?)
sekarang ini dibiarkan larut akibat pertimbangan2 HAM
dan kemanusiaan moderen.

Eropah Barat dibingungkan oleh situasi yg mengulang
abad pertengahan di mana kesukuan berdasarkan agama
(religious tribalism) yg menentukan bukan lagi hukum
negara yg sekuler. Hukum negara tidak lagi berada di
atas hukum agama utk kasus tertentu, yaitu karena
penganut agama itu diperbolehkan menolak mengakui
hukum negara walaupun menjadi warganegaranya.  Jelas
mana mungkin rule of law itu tegak kalau ada yg bisa
memilih utk tdk mengakui hukum itu sendiri.

Ini mungkin terlalu menggampangkan situasi tetapi saya
pikir sudah saatnya negara2 Eropa itu tegas:  kalau
mau jadi warganegara kami Anda harus mengikuti hukum
kami.  Titik.  Tanpa kompromi.


===

masalahnya kadang2 jilbab justru jadi sangat
penting sebagai simbol. Di Perancis misalnya, di
daerah2 yang banyak penduduk imigran Muslim dari
Afrika Utara, semakin sering terjadi gang rape. Anak2
muda itu membenarkan gang rape itu dengan alasan: "si
cewek itu tidak pakai jilbab, jadi dia salah sendiri
kalau diperkosa. Coba kalau pakai jilbab, jadi
perempuan "baik", pasti tidak terjadi. Tapi karena dia
tidak pakai jilbab, ya jangan heran kalau dia dianggap
lonthe dan diperkosa. Wajar saja kok."

Awal tahun ini di Berlin terjadi pembunuhan seorang
perempuan keturunan Turki, dibunuh di jalan pas dia
tunggu di halte bis, oleh adiknya sendiri (laki2).
Alasannya: kakak perempuannya sudah mempermalukan
kehormatan keluarganya karena dia hidup "seperti orang
Jerman" dan "melepaskan jilbabnya". Jadi dia pantas
untuk dibunuh oleh saudara laki2nya. Honor killing
namanya. Yang membuat masyarakat Jerman tambah shock
waktu itu karena beberapa anak muda keturunan Turki
pas diwawancarai oleh tv malah menyetujui pembunuhan
itu, karena ya... si perempuan salah sendiri...
melepaskan jilbabnya, berarti tidak punya harga diri
lagi, berarti dia juga jadi seperti perempuan Jerman =
pelacur = pantas dan memang harus dibunuh untuk
membela kehormatan nama baik keluarganya.

Nah dalam dinamika sosial seperti itu, arti jilbab
beda sekali dengan misalnya arti jilbab di Indonesia.
Saya punya banyak teman orang Indonesia yang
berjilbab, dan tak satupun dari mereka itu tertindas
atau kurang emansipasi. Tapi jilbab mereka itu bukan
jilbab komunitas orang Turki di Jerman. Makna simbolis
jilbab di Indonesia beda dengan makna simbolis jilbab
di komunitas tradisional Turki, misalnya.

salam,
ni londo






------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Help save the life of a child. Support St. Jude Children's Research Hospital.
http://us.click.yahoo.com/ons1pC/lbOLAA/E2hLAA/BRUplB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://www.ppi-india.org
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke