SI akan lebih mempercepat pecahnya NKRI mbak..semacam pelumasnya gitu
lho.

Lha khalifah pilihan Mbak Aris itu sebenarnya siapa sih? Jusuf Kalla
atau Abu Bakar Ba'asyir?





--- In [email protected], aris solikhah <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Oh malang nian nasib Banda Aceh...jadi benarkah pemberlakukan SI
nanti akan menyebabkan disintegrasi bangsa (padahal SI ingin
menyatukan dari Maroko hingga Merauke atau untranasionalis buanget
gitu lhoh)?
>   
>   Belum terbukti, hanya ketakutan yang belum terbukti? Menolak dulu
sebelum berdialog karena ketakutan yang belum tentu kebenaran?
Sekarang tanpa SI, Indonesia sudah terancam disintegrasi?  Di Timor
sudah, Aceh dan mungkin Papua serta Maluku (RMS). Bila dibaca
dibawah.. siapakah dalangnya? Tak patut rasanya kita terburu buru
berburuk sangka SI menyebabkan disintegrasi, sedang ada SI menyerukan
kewajiban menjaga persatuan-kesatuan.
>   
>   salam,
>   aris
>
> Jimmy Okberto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>   Baguslah ...
> Nantinya tidak ada lagi lagu "dari Sabang sampai Merauke" ...
>
> ^(J)^
>
> -----Original Message-----
> On Behalf Of Abidin M.Asyek
>
>
> Oleh : Prof. Jacqui Siapno
>
> http://www.acehkita.net/majalah/beritadetail.asp?Id=81
> m> &Id2=&berita=Kolom
>
> Saya terkejut begitu menginjakkan kaki di Banda Aceh. Orang-orang
asing
> yang dulu saya temui di Timor Leste, kini banyak bertugas di Aceh.
Saya
> sempat terperanjat, apakah ini Dili?
>
> Seorang rekan menulis e-mail kepada saya. Ia mengatakan, "
> Jangan terkejut, ya. Banda Aceh sekarang sudah menjadi Dili!" Surat
itu
> dikirim sebelum saya tiba di Aceh pertengahan Maret lalu.
> Ya, setelah bencana tsunami berlalu, memang banyak sekali staf
> internasional yang dulu bekerja di Dili, kini saya temui ada di
Aceh.
> Tugas mereka umumnya sama seperti waktu di Dili, yakni sebagai
tenaga
> ahli (expert) atau penasihat (adviser) dalam berbagai bidang
> konflik/pascakonflik, rekonstruksi, rehabilitasi dan pembangunan.
Timor
> Leste dan Aceh seakan berubah menjadi sebuah tempat yang menyediakan
> banyak pekerjaan bagi orang asing.
> Pengalaman di Timor Leste, memang selama enam tahun belakangan ini,
> banyak sekali program studi banding, training dan program berjangka
> panjang antara NGO, institusi akademik, institusi religious, dari
> Pemerintah Timor Leste dengan negara-negara Asia lain seperti
Filipina,
> Thailandia, Malaysia, Singapore, Korea, Jepang.
> Dari fenomena ini seakan lahir paradigma yang menganggap bahwa orang
> Timor ke negara-negara itu untuk "undergo training/belajar" tentang
> berbagai topik penting, sedangkan orang internasional yang datang ke
> Timor Leste biasanya menduduki profesi sangat bergengsi, antara lain
> sebagai penasihat, tenaga ahli, atau konsultan yang
bertugas "mengajari"
> orang Timor Leste menjalankan rekonstruksi, pembangunan,
microfinance,
> pubic sector reform, pertanian, trauma recovery, sampai "gender
> empowerment."
> Selama perioda rekonstruksi sejak 1999, Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB)
> dan organisasi internasional yang bilateral maupun multilateral,
> biasanya memakai penasihat tenaga ahli (dari yang sangat naif,
amatir,
> hingga yang profesional) yang katanya untuk membantu
dalam "pembangunan"
> Timor Leste. Karena ada persepsi (yang salah) bahwa Timor Leste
sangat
> kurang dalam soal sumber daya manusia yang modern. Itu sebabnya ada
> perekrutan yang cukup banyak untuk tenaga asing.
> Beberapa waktu lalu, sambil ngomong-ngomong dengan Teungku Usman
Lampoh
> Awe, salah seorang tokoh penting dalam struktur Gerakan Aceh Merdeka
> (GAM), dia merenungkan kembali tokoh perempuan Aceh, Laksamana
> Malahayati. Teungku Usman mengatakan: "Seakan baru sekarang orang-
orang
> di sini berjuang untuk `gender empowerment', `women's emancipation'.
> Padahal sejak dulu, kita sudah punya Malahayati, Tjoet Nyak Dhien."
> Lantas saya bertanya pada Teungku Usman: "Kalau begitu, kenapa Aceh
> sekarang harus mendatangkan gender adviser dari Iran, Jakarta, dan
> negara-negara lain untuk memberdayakan BRR, AMM, dan institusi lain?
> Apakah tidak ada perempuan lokal dari Aceh yang memiliki kemampuan
untuk
> itu? Kenapa perlu orang internasional?
> Sebagai pendidik yang pernah bertahun-tahun melakukan penelitian
tentang
> Aceh, saya sebenarnya yakin kalau banyak Inong Aceh yang memiliki
> kemampuan, sayangnya mereka selama ini tidak punya kesempatan untuk
> terlibat atau didengar? Dan mengapa tidak banyak organisasi
perempuan di
> Aceh hanya sedikit sekali yang dilibatkan dalam prosess perundingan,
> rekonstruksi, dan kebijakan pemerintahan?
> Teungku Usman hanya termenung mendengar penjelasan itu. Ia pun
berkata,
> "Terima kasih atas sarannya, kami akan pikirkan masalah itu."
> Saya kembali mengambil contoh kasus Timor Leste. Para tenaga ahli
> internasional melihat kalau masyarakat di sana sangat mudah sekali
> ditundukkan. Pemerintahnya pun hampir bisa dikatakan kacau balau
(state
> failure) sehingga tidak jarang kebijakan-kebijakannya bersifat
mematikan
> potensi lokal. Dalam globalisasi menangani rekonstruksi, ada
> kecenderungan untuk mengutamakan pentingnya solusi internasional
atau
> intervensi luar, daripada pikiran masyarakat lokal di kampung-
kampung.
> Dili dan Banda Aceh kini dibanjiri dengan formula-formula
> "one-size-fits-all" atau dengan istilah satu ukuran cocok untuk
semua.
> Kata-kata asing kerap meluncur di tengah-tengah masyarakat. Sebut
saja
> istilah "capacity building", "gender empowerment", "strategic
planning",
> "conflict resolution", "good governance", "leadership training" dan
> macam-macam.
> Kata-kata ini adalah kata-kata isyarat (words in motion), berupa
paket
> yang terikut seiring kehadiran lembaga struktur pelayanan global.
> Kata-kata ini muncul karena diimplementasikan oleh para organisasi
> internasional. Selain di Aceh, words in motion itu juga menjadi
> persoalan di Afghanistan, Timor Leste dan Irak. Seolah-olah ada
anggapan
> bahwa ada satu formula yang generik dan bisa cocok untuk semua
negara
> wilayah kerja mereka, meski kenyataannya negara itu punya karakter
yang
> berbeda.
> Dalam bukunya, "Rule of Experts, Egypt, Techno-Politics, Modernity,"
> (Univ. of California Press, 2002), Timothy Mitchell menulis mengenai
> ketidaksenjangan social-ekonomi-politik dalam produksi ilmu, dan
> bagaimana para "expert/adviser" ini pintar membuat suatu isu yang
> sebenarnya ludicrous (sesuatu yang sepele, tidak penting, bahkan
lucu),
> menjadi sangat dominan dan penting.
> Ada beberapa rekan di Aceh yang menamakan situasi di sini sebagai
> "humanitarian supermarket". Kawan lain di Papua menamakannya
> "commodification of ideas" - penjualan komoditi ilmu dan pikiran -
di
> mana para konsultan dan tenaga ahli asing itu sebagai agen
> sosialisasinya.
> Saya paham, tentu saja tidak semua "expert" itu sama. Ada yang baik
dan
> sangat teliti, dan ada yang hanya cari uang dan menambah
pengalamannya
> di daerah konflik sekaligus meningkatkan kondite pribadi. Bagi
tenaga
> ahli yang generik - yang sudah pindah dari satu wilayah konflik ke
> wilayah lain - ada kecenderungan untuk meredusir hal-hal yang sangat
> rumit (misalnya "kemiskinan" atau "kekerasan") ke formula-formula
dan
> statistik - sehingga yang dulu kita panggil "kemiskinan", dalam
segala
> kompleksitasnya secara multidimensional, sekarang menjadi "poverty
> reduction". Kekerasan pun tiba-tiba terfokus hanya pada "domestic
> violence".
> Hal yang paling aneh adalah agama dan iman, justru tidak begitu
penting
> dalam analysis para organisasi dan institusi internasional yang
> kebanyakan bersifat sekuler, walaupun dalam masyarakat lokal
sendiri,
> Islam dan identitas sebagai orang Muslim sangat menentukan
pembentukan
> seseorang, atau pilihan seseorang. Ada pula kecenderungan untuk
> memarginalisir tradisi adat setempat, konsep-konsep lokal mengenai
> kekuasaan, otoritas, kepemimpinan, dan daya tahan.
> Kebanyakan para konsultan asing itu mempunyai asumsi bahwa setelah
> perang dan konflik, hampir semua aspek kehidupan Timor Leste hancur.
> Habis. Tapi dari pengalaman saya mengembara di desa-desa di seluruh
> wilayah Timor Leste sejak 1999, saya memperhatikan, walaupun
> infrastrukturnya hancur, tradisi adat, kebudayaan, dan daya bertahan
> setempat sangat kuat.
> Dalam bukunya, Seeing Like a State: How Certain Schemes to Improve
the
> Human Condition Have Failed (1998), James Scott menggambarkan satu
> aturan yang hirarkis di mana ilmu yang katanya berdasarkan "moderen,
> scientific dan managerial" kini lebih diutamakan dibandingkan "adat
dan
> kepercayaan lokal". Tradisi masyarakat ini sering sekali diremehkan
dan
> dianggap sebagai sesuatu yang "terbelakang."
> Ideologi inilah yang seakan-akan memberi hak istimewa kepada para
> birokrat international, birokrat intelijen, para teknisi, perencana
> pembangunan, dan para insinyur berupaya memberi pengaruh tentang
> 'one-size-fits-all'.
> Sedangkan para orang kampung cenderung menjadi "hanya penerima"
segala
> kebijakan elite politik di atas. Mereka tidak punya banyak
kesempatan
> untuk partisipasi, atau rasa kepemilikan program-program
rekonstruksi
> dan pembangunan. Sangat ironis, padahal kata-kata seperti "community
> empowerment" bukan saja kehilangan makna, tapi tidak ada maknanya
sama
> sekali.
> Demikian juga "good governance", yang menurut rekan-rekan di Timor
> Leste, dan juga di Aceh, lebih patut digantikkan dengan "good family
> governance" (karena banyaknya nepotisme).
> Memang Timor Leste dan Aceh sekarang menjadi "open bazaar" untuk
> international. Lembaga asing sedang asyik bermain sebagai 'tuhan'
dengan
> masa kerja yang terbatas. Tapi 3-5 tahun lagi, setelah uangnya
habis,
> mereka tidak lagi peduli dengan masyarakat lokal. Lalu, bagaimana
nanti
> nasib masyarakat di kampung yang belum mendapat kesejahteraan,
keadilan,
> ataupun kebenaran?
>
>
> 8-4-2006 | 18:21 WIB
>
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
>
**********************************************************************
*****
> Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny.
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
>
**********************************************************************
*****
>
______________________________________________________________________
____
> Mohon Perhatian:
>
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://dear.to/ppi
> 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
> 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
> 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> pustaka tani
>   nuraulia
>
>                  
> ---------------------------------
> Celebrate Earth Day everyday!  Discover 10 things you can do to
help slow climate change. Yahoo! Earth Day
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>






***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://dear.to/ppi
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]




YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke